MUI Jateng


SEMARANG -- Umat Islam itu ibarat satu tubuh, jika ada salah satu bagian yang sakit, maka semuanya ikut sakit. Seperti bangunan satu yang masing-masing komponen saling menguatkan.


Itulah pesan tausyiah Ketua MUI Jateng, DR KH Ahmad Darodji MSi dalam acara Silaturahim bertema kebangsaan bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila yang diadakan DPW LDII Jateng di Ruang Guntur Hotel Grasia Semarang Jawa Tengah, 01/06.


DPW LDII Jateng mengangkat tema "Budaya saling memaafkan, dengan tujuan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Perhelatan ini juga kembali mengangkat nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Ketua MUI Jateng heran dan sangat memahami sebagaian masyarakat saat suka mencari bad news is a good news padahal itu sebagian besar konflik yang berkepanjangan.


"Maka saya mengingatkan agar tidak terpancing ikut berkonflik, agar manusia khususnya umat Islam tidak ikut dalam arus tersebut. Ia menegaskan, bukan hanya zoon politicon saja, tapi seperti bangunan yang satu.


KH Ahmad Daroji mengapresiasi budaya memaafkan yang menjadi tema utama acara ini. Ganjalan psikologis jika saling memaafkan maka tidak akan terjadi.


“Budaya minta maaf ini betul, Prof (Singgih). Karena setelahnya akan timbul ikhlas antar sesama,” katanya.


Budaya memaafkan ini yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia, Islam yang dikembangkan adalah Islam Nusantara. Islam sejatinya mengajarkan hidup selaras, serasi, dan seimbang. Ini salah satu bentuk bagaimana hubungan manusia kepada Allah dan juga kepada sesama manusia,” tegas KH Ahmad Darodji.


KH Ahmad Darodji mengingatkan, jika umat Islam diibaratkan sebagai satu jasad yang utuh. Yang mana, apabila asa satu bagian yang sakit. Semua akan ikut merasakan sakit. "Kita itu diibaratkan Nabi Muhammad seperti satu jasad yang satu. Kalau ada bagian yang sakit semuanya ikut merasakan sakit. Artinya saling menguatkan satu sama lain," imbuhnya.


Sebelumnya, Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof DR Singgih Tri Sulistiyono MHum menyampaikan bahwa dalam menghadapi konflik yang mengarah pada divided nation yakni dengan saling memaafkan. Singgih juga berharap melalui acara ini, dapat mempererat tali persaudaraan. Dengan memaafkan, perpecahan dapat dihindari.


“Salah satu inti yang bisa dijadikan formula adalah sikap saling memaafkan yang perlu menjadi budaya. Semua bibit perpecahan atau kekerasan dapat dicegah dan diselesaikan,” kata Singgih.


Seperti diketahui saat ini pada level nasional atau internasional, umat Islam sedang mengalami konflik berkepanjangan, baik antar muslim itu sendiri atau dengan umat lain.


Seperti yang terjadi di Suriah dan Palestina, juga persoalan suku Uighur yang wilayahnya berada dalam kekuasaan pemerintah China.


Di media massa juga masih ada kekerasan. Perpecahan di mancanegara itu, jangan sampai terjadi di Indonesia, sebagaimana harapan para founding fathers.


“Padahal justru perbedaan itulah yang menjadikan kita sebuah bangsa, yakni sadar bahwa ada persamaan. Jika sekarang, perbedaan itu justru dijadikan alasan untuk berkonflik, maka hal ini bertentangan dari para founding fathers,” katanya.


Keberagaman adalah sunnah Allah yang menjadi ujian bagi manusia dalam hal kerjasama, saling menolong, hal itulah yang menjadi tantangan.


Karena itu Singgih berharap, melalui acara ini dapat mewujudkan cita-cita founding fathers kedepannya dengan kerjasama antara ormas Islam dan pemerintah.


Mengenai LDII, Singgih mendorong warga LDII melaksanakan moderasi beragama. Sesuai dengan arahan dari Kementerian Agama dan MUI untuk melakukan moderasi beragama, serta terus silaturrahim dan konsultasi dengan jajaran pemerintah.


Wujud dari upaya ukhuwah islamiyah dan wathoniyah, LDII terus mengundang para stakeholder pemerintah, MUI, atau ormas Islam yang lain.


“Silaturrahim adalah salah satu pondasi persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar Singgih.


Ia juga menyampaikan mengenai 8 klaster program yang utamanya adalah klaster kebangsaan, agar menciptakan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda. Lalu juga klaster dakwah yang menargetkan tri sukses generasi penerus, yakni generasi yang alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri.


Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, H. Musta’in Ahmad, SH. MH., dalam sambutannya menyampaikan bahwa semangat silaturrahim dari LDII patut diapresiasi.


Jangan lelah mencintai Indonesia, karena dengan cinta Indonesia itu merawat persatuan dan kesatuan bangsa.


Dalam kondisi masyarakat yang berbeda adalah agar saling mengenal satu sama lain dan terus semangat bersilaturrahim. Ia juga mengatakan, saat banyak tawaran mengenai identitas kebangsaan, Indonesia justru sedang memperingati hari lahir Pancasila (1 Juni).


“LDII mengingatkan kembali pada nilai luhur Pancasila dengan menggelar silaturrahim kebangsaan ini. Dengan terbukanya arus informasi, para founding fathers sudah tegas menunjukkan kebangsaan Indonesia,” kata Musta’in.


Perbedaan agama, suku, dalam hal ini justru bertemu melalui Pancasila. Negara yang memilih Pancasila sebagai pedoman dengan mengedepankan ilmu agama sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini menjadi ukuran toleransi kerukunan hidup beragama.


Dirbinmas Polda Jateng, Kompol Hasyin Setyawan menambahkan kegiatan silaturahim kebangsaan ini perlu dikembangkan semua ormas yang lain supaya bisa berkolaborasi semua ormas supaya bisa mempererat persatuan dan kesatuan bangsa itu tidak ada perpecahan.


"Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan LDII ini dan untuk generasi penerus bangsa bisa meniru kegiatan LDII ini dengan merangkul semua elemen bangsa tidak hanya ormas keagamaan tapi juga kemasyarakatan untuk mempererat tali persaudaraan dan persatuan," pesannya.


Kegiatan yang digelar secara luring dengan menerapkan prokes kesehatan dan daring ini telah diikuti 35 DPD LDII se Jawa Tengah.


Tampak hadir selain Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jateng Musta’in Ahmad, juga Ketua FKUB Jateng KH Taslim Syahlan, Binmas Polda Jateng yang diwakili Kompol, Perwakilan NU dan Muhammadiyah serta Kesbangpol. Tidak hanya stakeholder provinsi tapi hingga di 35 studio mini di berbagai daerah kota dan kabupaten seJateng. (catur waskito Edy/tribun jateng)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama