LDII SAMPIT | Kalimantan Tengah | LDII Kotawaringin Timur
http://www.ldii.or.id/…/2442-abdussamah-tahfidz-qur-an-adal…
Tahfidz Qur’an atau penghafalan Al Qur’an tidak semudah menghafal sebaris ayat. Konsistensi tinggi dan komitmen untuk terus membaca dan mengulangnya kembali saat senggang adalah kunci.
Orang-orang umumnya menggunakan metode membaca kitab terlebih dulu, lalu pengulangan ayat per ayat. Atau minta disimak guru serta teman-teman sekelompok halaqoh.
Lain halnya dengan Abdussamah, seorang pria yang kini berusia 21 tahun ditakdirkan harus kehilangan penglihatan saat kelas dua sekolah menengah pertama. Saat itu, ia berpikir bahwa dunianya tak lagi sama, seakan-akan tak ada hal apapun yang ingin dilakukannya. Cobaan ini juga membuatnya berhenti sekolah.
Hingga pada usia tujuh belas tahun, Abdussamah mengikuti kegiatan kelompok belajar Halaqoh Tahfidz Qur’an yang berada di Cikarang, dekat lingkungan rumahnya. Ia menjadi termotivasi, karena menurutnya hal inilah yang bisa ia lakukan membangkitkan dirinya dari masa-masa demotivasi, sembari tetap menjaga keimanan.
Setelah terdaftar di kelompok Tahfidz Qur’an tempatnya biasa mengaji itu, ia mulai coba menghafalkan Qur’an dengan mendengarkan bacaan ibunya, pendampingan dari para koordinator Halaqoh Tahfidz Qur’an, maupun rekaman mp3 player. Mulai dari mencoba satu juz secara terus-menerus, Abdussamah remaja menikmati apa yang ia lakukan.
Hingga diluar perkiraan, ia ternyata bisa menghafalkan sebanyak 30 juz Al Qur’an dalam waktu satu tahun, lalu dilancarkan hingga sekarang kurang lebih tiga tahun ia menjaga hafalannya. Dengan keterbatasan yang ia miliki, Abdussamah sudah membuktikan bahwa kegigihan diri juga dukungan keluarga serta guru, target hafalan seluruhnya bisa tercapai.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama