DPD LDII Kabupaten Pemalang melakukan langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dengan mendorong diversifikasi konsumsi masyarakat. Melalui penyelenggaraan lomba kreasi pangan lokal berbasis sorgum, organisasi dakwah ini berupaya mempopulerkan sumber karbohidrat alternatif di luar beras dan jagung. Kegiatan edukatif tersebut dipusatkan di Sekretariat Gabungan Kecamatan Taman, Pemalang, Jawa Tengah, pada Minggu (2/8/2026).
Ilustrasi: Upaya diversifikasi pangan untuk kemandirian bangsa.
Dalam ajang tersebut, sebanyak 10 Pengurus Cabang (PC) LDII dari seluruh pelosok Kabupaten Pemalang mengirimkan delegasi terbaik mereka. Para peserta ditantang untuk mentransformasi biji sorgum menjadi berbagai produk pangan olahan yang tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga memiliki nilai estetika dan rasa yang mampu bersaing di pasar modern.
"Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang luar biasa melimpah dan perlu dikembangkan secara serius. Sorgum adalah salah satu instrumen penting dalam diversifikasi ini. Kami ingin mengedukasi masyarakat mengenai teknik pengolahan sorgum agar menjadi hidangan yang menarik, sehat, dan praktis untuk dikonsumsi sehari-hari," ujar Ketua DPD LDII Kabupaten Pemalang, Agus Sarwono.
Upaya Strategis Mengurangi Ketergantungan Terhadap Beras
Ketergantungan yang tinggi terhadap beras dan jagung seringkali menjadi kerentanan tersendiri dalam stabilitas pangan daerah. Agus Sarwono menilai bahwa sorgum memiliki potensi besar untuk mengisi celah tersebut. Sebagai tanaman yang relatif tahan terhadap perubahan iklim dan kekeringan, sorgum menjadi pilihan logis untuk memperkuat kedaulatan pangan di tingkat akar rumput.
Pelaksanaan kegiatan yang dikemas dalam format perlombaan ini bertujuan untuk memicu adrenalin kreativitas para peserta. Inovasi yang lahir dari dapur-dapur warga diharapkan mampu meningkatkan nilai tawar sorgum, yang selama ini mungkin masih dianggap sebelah mata oleh sebagian kalangan sebagai pangan kelas dua.
"Sorgum tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai pangan tradisional yang monoton. Buktinya, para peserta mampu mengolahnya menjadi beragam varian makanan dan minuman kekinian. Kreativitas semacam ini merupakan modal awal yang krusial untuk pengembangan produk industri rumah tangga maupun sektor UMKM," tambah Agus Sarwono.
Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Hilirisasi Pangan
Lebih jauh, LDII Pemalang melihat bahwa isu ketahanan pangan berkelindan erat dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengetahuan tentang pilihan bahan pangan alternatif harus dibarengi dengan keterampilan teknis dalam mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual (marketable). Dengan demikian, diversifikasi pangan tidak hanya berakhir di meja makan keluarga, tetapi juga bermuara pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Agus mendorong seluruh kader dan warga LDII untuk menjadi duta pangan lokal di lingkungan masing-masing. Menurutnya, perubahan pola konsumsi harus dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga, sebelum meluas ke masyarakat umum. Keanekaragaman pilihan konsumsi akan membuat ketahanan keluarga menjadi lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga komoditas utama.
Produk-produk inovatif yang muncul dalam kompetisi ini direncanakan akan terus dibina. Hal ini mencakup peningkatan standar kualitas, estetika kemasan (packaging), hingga strategi pemasaran yang lebih luas. "Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni perlombaan saja. Setelah menemukan formulasi produk yang tepat, warga dapat mengembangkannya menjadi peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi keluarga," pungkas Agus Sarwono.
📖 Glosarium Istilah
- Sorgum: Tanaman serealia yang berasal dari daerah tropis, dikenal kaya nutrisi dan sangat adaptif terhadap lahan kering.
- Diversifikasi Pangan: Program yang mendorong masyarakat untuk memvariasikan makanan pokok agar tidak terpaku hanya pada satu jenis sumber karbohidrat saja.
- Ketahanan Pangan: Kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, aman, dan bergizi.
- UMKM: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di daerah.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.