Strategi Mabes TNI Perkuat Komponen Bangsa Hadapi Ancaman Hibrida di Munas X LDII

Strategi Mabes TNI Perkuat Komponen Bangsa Hadapi Ancaman Hibrida di Munas X LDII

Sinergi Nasional: Mabes TNI Ajak Seluruh Komponen Bangsa Jaga Kedaulatan di Era Transformasi Militer

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) menegaskan pentingnya kesiapan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi ancaman hibrida yang semakin kompleks. Hal ini disampaikan dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang digelar di Jakarta pada Selasa (7/4). Dalam kesempatan tersebut, para peserta dibekali materi strategis mengenai 'Peran Komponen Bangsa Dalam Menjaga NKRI Di Era Transformasi Militer' sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

Visi TNI PRIMA dan Pentingnya Transformasi Militer

Kepala Bidang Psikologi Mabes TNI, Kolonel Laut Amir, menjelaskan bahwa transformasi militer saat ini merupakan proses perubahan yang mendalam dan berkelanjutan, mencakup doktrin, organisasi, strategi, hingga teknologi dan budaya militer suatu negara. Langkah ini selaras dengan visi besar institusi pertahanan Indonesia.

“Transformasi ini sesuai dengan visi TNI yang Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif (PRIMA). Untuk itu TNI bisa kuat jika didukung oleh seluruh komponen bangsa,” ujar Kolonel Laut Amir di hadapan para delegasi Munas LDII.

Beliau menekankan bahwa pertahanan negara tidak bisa hanya mengandalkan militer saja, melainkan harus melibatkan seluruh warga negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam usaha pertahanan negara sesuai dengan bidang dan profesinya masing-masing.

Apresiasi terhadap Karakter dan Transformasi LDII

Dalam pemaparannya, Kolonel Laut Amir juga memberikan apresiasi khusus terhadap langkah nyata LDII dalam membangun karakter bangsa dan kepedulian lingkungan. Ia menyoroti bagaimana transformasi besar dimulai dari kedisiplinan pada hal-hal kecil, seperti manajemen pengolahan sampah tanpa sisa yang dijalankan oleh LDII.

“Saya masuk masjid, sandal ditata. Karena memang transformasi harus dimulai dari hal kecil, perlu dipaksa, kemudian menjadi karakter,” ungkap Kolonel Laut Amir memuji kedisiplinan warga LDII.

Menghadapi Ancaman Hibrida dan Peran Keamanan Siber

Lebih lanjut, Mabes TNI mengingatkan bahwa tantangan kedaulatan di era modern tidak lagi bersifat konvensional. Ancaman hibrida yang mencakup perang siber (cyber war), kejahatan siber, penyebaran hoaks, separatisme, terorisme, hingga radikalisme, menuntut partisipasi aktif dari para ahli IT, akademisi, dan peneliti.

“Peran lainnya bahwa komponen bangsa harus terlibat aktif dalam menjaga kedaulatan, seperti melalui program bela negara, pelatihan dasar militer, dan kegiatan masyarakat,” tegas Kolonel Laut Amir.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara TNI, Polri, dan komponen bangsa lainnya, termasuk peran ulama, menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman tersebut. Penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan merupakan langkah mendesak agar ormas dapat menjadi kekuatan pengganda (multiplier effect) bagi TNI dalam kondisi darurat militer.

Peran Ormas sebagai Jembatan Strategis Pemerintah

Hadir mendampingi, Kepala Pusat Pembinaan Mental (Kapusbintal) TNI, Brigjen Chandra Adibrata, menyatakan bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) memiliki posisi vital sebagai jembatan untuk mewujudkan cita-cita pemerintah dan menjaga stabilitas nasional.

“Di lapangan, ormas membantu kita dalam hal kedisiplinan dan kesehatan seperti bencana alam. Jadi peran ormas sangat besar dalam membantu tugas pemerintah,” tandas Brigjen Chandra Adibrata.

Sebagai Pembina Spiritual MTQ di lingkungan TNI, Brigjen Chandra berharap agar sinergi ini terus melahirkan kader-kader yang memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. “Kemudian semangat bela negara dan cinta tanah airnya lebih kuat,” tambahnya.

Kesimpulan dan Relevansi bagi LDII Sampit

Sebagai bagian integral dari LDII, DPD LDII Kotawaringin Timur (Sampit) terus berkomitmen mengimplementasikan nilai-nilai bela negara dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui doktrin Sistem Pertahanan Semesta (Sishankamrata), kolaborasi antara TNI dan warga sipil diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif, terutama di wilayah strategis seperti Kalimantan Tengah.

Mabes TNI menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa pertahanan Indonesia bersifat defensif-aktif. “Pertahanan negara dibangun atas dasar sistem pertahanan semesta, tidak agresif, dan tidak ekspansif sejauh kepentingan nasional tidak terancam,” pungkas Kolonel Laut Amir.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama