JAKARTA – Ratusan pemuda Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) antusias mengikuti workshop bertema komunikasi strategis pada hari kedua perhelatan Generus Festival (GenFest) di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Himawan Pramudita, seorang Human Resources (HR) Consultant berpengalaman, guna membekali para peserta dengan keterampilan public speaking agar mampu bersaing secara kompetitif di dunia akademik maupun profesional.
Keterampilan Komunikasi Sebagai Kunci Karier
Workshop yang mengusung tajuk “Public Speaking For Academic and Leadership” ini menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukan sekadar retorika, melainkan instrumen vital dalam kepemimpinan. Himawan Pramudita menjelaskan bahwa keterampilan menyampaikan gagasan secara efektif akan memberikan dampak signifikan pada perjalanan karier seseorang.
“Kemampuan kita untuk menyampaikan sesuatu dengan lugas dan menarik itu menentukan masa depan, contohnya kita bisa dapat beasiswa atau juga pekerjaan,” ujar Himawan Pramudita.
Tiga Langkah Utama dan Penguasaan Mental
Dalam pemaparannya, mantan pakar HR di PT Astra tersebut membedah tiga langkah fundamental dalam meningkatkan kapabilitas berbicara di depan publik. Menurutnya, proses tersebut meliputi latihan yang konsisten, kemampuan memahami situasi serta audiens secara mendalam, dan diakhiri dengan doa. Himawan menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas untuk menjadi pembicara yang hebat; konsistensi adalah kunci utama.
Lebih lanjut, ia menganalogikan public speaking sebagai sebuah 'perang mental'. Bahkan, figur publik yang sudah memiliki jam terbang tinggi pun tidak luput dari rasa gugup. Ia mencontohkan bagaimana komedian dan penulis Raditya Dika tetap merasakan kepanikan saat harus mewawancarai sosok idolanya. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan emosi dan mental keberanian menjadi modal dasar selain pemilihan diksi yang tepat.
Teknik Perkenalan yang Informatif dan Humanis
Selain aspek teknis, workshop ini memberikan kiat praktis dalam membangun impresi pertama (first impression). Himawan menyarankan agar peserta lebih fokus pada dampak nyata yang telah mereka berikan serta menyentuh sisi humanis saat memperkenalkan diri kepada pihak lain.
“Fokus pada dampak yang diberikan dan menyentuh sisi humanis,” ujar Himawan Pramudita.
Ia memberikan perbandingan konkret terkait cara menyampaikan pengalaman organisasi agar terdengar lebih profesional bagi rekrutmen perusahaan. Menurutnya, pernyataan yang hanya menyebutkan 'aktif berorganisasi' cenderung kurang menarik bagi pewawancara dibandingkan dengan penjelasan yang detail mengenai peran dan hasil nyata.
“Misal ada kandidat yang mengatakan saya aktif organisasi saat di sekolah, terdengar kurang menarik. Bandingkan dengan orang yang mengatakan, ‘saya tertarik dengan leadership sehingga mengikuti OSIS sampai sekarang dan sudah membuat acara pensi di kampus’. Atau ‘saya memandangnya lebih banyak informasi yang dapat digali’,” ujar Himawan Pramudita saat memberikan simulasi kepada peserta.
Antusiasme Peserta di Tengah Kondisi Cuaca
Meski kegiatan berlangsung di bawah guyuran hujan deras, antusiasme ratusan generasi muda LDII tidak menyurut. Diskusi berlangsung interaktif dengan banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan oleh para peserta, yang menunjukkan kedalaman pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan.
Himawan memberikan apresiasi tinggi atas jalannya workshop yang dinamis tersebut. Ia menilai bahwa pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta berhasil memicu dialog yang edukatif dan solutif. Melalui pembekalan ini, diharapkan generasi muda LDII memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menjadi pemimpin masa depan yang komunikatif dan inspiratif di berbagai bidang.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.