SANGATTA – Dalam upaya memperkuat kelestarian lingkungan di sektor pendidikan, Yayasan Budi Luhur Mandiri (BLM) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Kutai Timur untuk menginisiasi program penghijauan intensif di lingkungan sekolah. Langkah nyata ini diimplementasikan melalui penanaman berbagai jenis bibit pohon peneduh dan produktif di kawasan gedung SMP serta SMA BLM.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (19/04/2026) tersebut bukan sekadar seremoni belaka, melainkan wujud dukungan penuh terhadap agenda pemerintah dalam memperluas cakupan ruang terbuka hijau, khususnya di area institusi pendidikan. Para peserta yang terdiri dari unsur yayasan dan warga LDII bahu-membahu menanam pohon aren, kelapa hijau, hingga tanaman pucuk merah guna menciptakan sabuk hijau di area sekolah.
Komitmen Terhadap Keteduhan dan Kelestarian Jangka Panjang
Pemilihan jenis tanaman yang ditanam telah melewati proses pertimbangan yang matang. Melalui musyawarah antara pihak yayasan dan tim ahli dari LDII, ditentukanlah bibit-bibit yang memiliki daya tahan kuat serta manfaat ekologis yang tinggi bagi lingkungan sekitar.
"Beberapa tanaman sudah dipersiapkan untuk penghijauan ini. Pohon ini insya Allah akan bisa bertahan hingga waktu yang cukup lama, dan menjadi sumber keteduhan sebagaimana yang diharapkan," ujar KH Muhammad Ilyas, Pimpinan Proyek Penanaman Pohon.
Beliau menekankan bahwa proyek ini merupakan investasi kenyamanan bagi generasi mendatang. Dengan hadirnya pepohonan yang rimbun, suhu mikro di sekitar sekolah diharapkan dapat lebih sejuk, sehingga mendukung konsentrasi siswa dalam menyerap ilmu pengetahuan.
Membangun Karakter Siswa Lewat Edukasi Lingkungan
Selain fungsi ekologis, program sekolah hijau ini dipandang sebagai sarana edukasi karakter bagi para peserta didik. Lingkungan yang asri diyakini memiliki korelasi positif terhadap kesehatan mental dan semangat belajar para siswa di SMP dan SMA Budi Luhur Mandiri.
Ketua Yayasan BLM, Susiawan Widodo, menegaskan bahwa fasilitas pendidikan yang memadai tidak hanya terbatas pada bangunan fisik yang megah, tetapi juga mencakup estetika dan keasrian alam di sekitarnya. Menurutnya, pendidik memiliki tanggung jawab untuk menciptakan atmosfer belajar yang harmonis.
"Bila kita tidak menghadirkan suasana belajar-mengajar yang nyaman dan asri, kita tidak bisa menjadi pendidik yang baik untuk siswa-siswi kita. Karena, fasilitas belajar yang nyaman juga bagian dari proses pembelajaran itu sendiri," papar Susiawan Widodo.
Ia berharap gerakan ini mampu memantik rasa kepedulian terhadap alam bagi warga sekolah maupun masyarakat luas. Dengan merawat setiap pohon yang ditanam, siswa diajarkan untuk menghargai proses pertumbuhan dan menjaga ekosistem yang menjadi tempat tinggal mereka. Kerja sama ini diharapkan membawa keberkahan serta kelancaran bagi pengembangan pendidikan di Kutai Timur secara berkelanjutan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.