Seminar Parenting LDII Depok: Strategi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus Sejak Dini

Seminar Parenting LDII Depok: Strategi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus Sejak Dini

Memperkuat Peran Orang Tua dalam Menghadapi Tantangan Pengasuhan Modern

Menyikapi urgensi pola asuh yang inklusif di era modern, DPD LDII Kota Depok mengambil langkah strategis dengan menghelat agenda edukatif bagi para orang tua. Melalui Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK), organisasi ini menyelenggarakan seminar parenting skill bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Anak Berkebutuhan Khusus: Dari Pemahaman Menuju Pendampingan”. Perhelatan ini berlangsung khidmat di Masjid Baitul Faqih, Kalimulya, Cilodong, pada Minggu (19/4/2026).

Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk membongkar stigma sekaligus memperluas cakrawala berpikir orang tua dalam mendampingi anak-anak dengan kondisi spesial. Di tengah kompleksitas tantangan zaman, pemahaman mendalam mengenai karakter anak menjadi fondasi utama agar tumbuh kembang mereka tetap optimal meski memiliki kebutuhan yang berbeda.

Urgensi Deteksi Dini dan Pendekatan Personal

Praktisi Keluarga dari DPP LDII, Nana Maznah Zubir, hadir sebagai pemateri utama yang mengupas tuntas fenomena Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam paparannya, Nana menekankan bahwa kunci keberhasilan pendampingan terletak pada seberapa cepat orang tua menyadari dan menerima kondisi buah hati mereka. Ia menguraikan bahwa spektrum ABK sangatlah luas, mencakup Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD), autisme, disleksia, hingga berbagai hambatan belajar lainnya.

Nana mengingatkan bahwa tanda-tanda awal sering kali terselip dalam interaksi harian yang mungkin luput dari pengamatan sekilas. Tanpa kepekaan, orang tua berisiko salah dalam menerapkan pola asuh yang justru bisa menghambat potensi anak.

“Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang beragam. Orang tua perlu memahami sejak dini agar dapat memberikan pendampingan yang sesuai,” ujar Nana Maznah Zubir.

Dengan mengenali gejala-gejala spesifik tersebut, keluarga diharapkan mampu merancang strategi pendampingan mandiri di rumah yang selaras dengan kebutuhan unik anak. Pendekatan yang dipersonalisasi ini bukan sekadar soal pendidikan, melainkan bentuk dukungan emosional yang krusial.

“Dengan memahami tanda-tanda tersebut, orang tua dapat menentukan pola asuh dan strategi pendampingan yang lebih tepat di rumah,” jelas Nana Maznah Zubir.

Membangun Ekosistem Keluarga yang Suportif

Seminar ini tidak hanya menjadi panggung teori, tetapi juga ruang aman bagi para orang tua untuk saling berbagi beban dan pengalaman. Bagian Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPD LDII Depok, Sri Setyarini, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian integral dari program berkelanjutan untuk menciptakan ketahanan keluarga yang tangguh.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membekali orang tua agar lebih siap dalam mendampingi anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat tumbuh optimal,” ujar Sri Setyarini.

Dalam alur diskusi yang interaktif, para peserta terlihat antusias menukarkan cerita mengenai tantangan harian yang mereka hadapi. Sesi berbagi ini dianggap sangat efektif untuk meminimalisir rasa terisolasi yang sering dirasakan oleh orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.

“Melalui diskusi dan sharing, orang tua dapat saling belajar dan menguatkan dalam menghadapi berbagai kondisi anak,” tambah Sri Setyarini.

LDII Depok berkomitmen untuk terus mengawal isu-isu kesejahteraan keluarga seperti ini. Harapannya, setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di bawah naungan kasih sayang dan pemahaman yang tepat dari orang tua mereka. Dukungan kolektif dalam komunitas menjadi energi tambahan bagi keluarga untuk tidak menyerah dalam proses pendampingan yang panjang dan penuh dinamika tersebut.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama