Sinergi Olahraga dan Kebersamaan di Lapangan Praja Mukti
Momen hangat Idul Fitri 1447 H menjadi landasan kuat bagi Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah untuk terus mempererat tali silaturahim dengan berbagai elemen masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui dukungan penuh terhadap kegiatan rutin bulanan Paguyuban Tenis Kediri (PTK) yang dirangkai dalam bingkai Halal Bihalal. Bertempat di Lapangan Praja Mukti, Kabupaten Kediri, acara yang berlangsung pada Minggu (12/4) tersebut menjadi ajang pertemuan lintas profesi yang penuh keakraban.
Dukungan fasilitas ini merupakan bentuk komitmen berkelanjutan dari pihak pondok dalam menjaga hubungan harmonis dengan pemangku kepentingan di wilayah Kediri. Sebagai tuan rumah, Ponpes Wali Barokah berupaya memberikan pelayanan terbaik demi kelancaran agenda yang menggabungkan antara aktivitas fisik dan penguatan spiritualitas tersebut.
“Kami berharap kegiatan ini terus dilestarikan sebagai sarana silaturahim dan kebersamaan, sekaligus menjaga kebugaran melalui olahraga tenis lapangan. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan kami sebagai tuan rumah,” ujar Ketua Ponpes Wali Barokah, KH Sunarto.
Eksistensi PTK: 13 Tahun Menjaga Harmoni di Lapangan
Paguyuban Tenis Kediri bukanlah organisasi kemarin sore. Sejak didirikan pada tahun 2013, perkumpulan ini telah konsisten berjalan selama 13 tahun sebagai wadah komunikasi informal bagi para pejabat dan tokoh masyarakat. Ketua PTK, Agung Riyanto, mengungkapkan bahwa saat ini anggota paguyuban telah mencapai 35 unsur yang mencakup berbagai lini strategis, mulai dari birokrasi, TNI, Polri, BUMN, lembaga pendidikan, hingga komunitas pecinta tenis.
Kekuatan utama PTK terletak pada konsep unik yang mereka usung, yakni filosofi '4R' yang menjadi nyawa dalam setiap pertemuan mereka. Konsep ini dirancang untuk menyentuh seluruh aspek kebutuhan manusia, mulai dari kesehatan hingga ketenangan batin.
“Tujuan utama PTK adalah silaturahim antar pemangku kepentingan dengan konsep 4R, yaitu Olah Raga (kesehatan), Olah Suara (karaoke/hiburan), Olah Rasa (jamuan kuliner), dan Olah Ruh (doa bersama). Di sela rutinitas tugas sehari-hari yang padat, PTK hadir sebagai sarana refreshing yang efektif,” papar Agung Riyanto.
Filosofi 'Kamerun' dan Keseimbangan Skor
Berbeda dengan turnamen pada umumnya yang mengejar kemenangan kompetitif, PTK lebih mengedepankan aspek kegembiraan dan kerukunan. Semangat ini tertuang dalam jargon khas mereka, “Kamerun”, yang merupakan akronim dari Kalah Menang Tetap Rukun. Di lapangan hijau, rivalitas jabatan ditanggalkan, diganti dengan tawa dan semangat sportivitas.
“Beda skor itu biasa dalam pertandingan, tapi skor terbaik di PTK adalah 7:7, simbol keseimbangan dan kebersamaan,” imbuh Agung Riyanto menjelaskan makna filosofis di balik setiap pertandingan yang mereka lakoni.
Kehadiran Tokoh dan Pejabat Lintas Instansi
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat penting yang menunjukkan betapa kuatnya jejaring komunikasi yang dibangun melalui media olahraga ini. Terpantau hadir di lokasi antara lain perwakilan dari Pemerintah Kota Kediri yang diwakili Kadis Perhubungan, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kediri mulai dari Kadis Budparpora, Kabag Umum, hingga Kabag Pembangunan.
Dari unsur pengamanan dan hukum, tampak hadir perwakilan dari Brigif 16 WY, Kodim 0809, Polres Kediri Kota dan Kabupaten, Kejaksaan, hingga Dan Subdenpom dan Brimob. Kehadiran Kakan Kemenag Kota Kediri, Pengadilan Negeri Kota Kediri, Ketua KONI Kabupaten Kediri, serta pimpinan institusi seperti RS Baptis dan Telkom semakin mempertegas dimensi inklusivitas acara ini.
Turut memeriahkan pula Ketua PELTI Kabupaten Kediri dan Nganjuk, klub tenis TMC Nganjuk, Club Purna Brawijaya, serta grup Bolo Tenis 354 bersama jajaran pengurus LDII yang bahu-membahu menyukseskan jalannya acara dari awal hingga usai.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.