JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, secara terbuka memaparkan potret krusial kemiskinan di Indonesia yang berakar kuat pada sektor pangan. Dalam sebuah pertemuan strategis dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta, pria yang akrab disapa Zulhas ini mengungkapkan bahwa 30 persen angka kemiskinan nasional berada di sektor tersebut. Menghadapi tantangan ini, pemerintah menyatakan tidak bisa bekerja sendirian dan membutuhkan kemitraan taktis dengan organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis akar rumput kuat.
Pertemuan yang berlangsung di Gedung Kemenko Pangan, Graha Mandiri, pada Selasa (28/4) tersebut menjadi momentum penting untuk menyelaraskan visi ketahanan pangan nasional. Zulhas menekankan bahwa ormas seperti LDII memiliki peran vital dalam menyentuh lapisan masyarakat yang paling membutuhkan intervensi ekonomi dan pangan.
“Dukungan dan kerjasama dengan berbagai ormas-ormas, terutama LDII, harapannya dapat mempercepat dan mengentaskan kemiskinan,” tegas Zulkifli Hasan di hadapan jajaran pengurus pusat LDII.
Sinergi 8 Bidang Pengabdian LDII untuk Ketahanan Pangan
Menanggapi ajakan kolaborasi tersebut, Ketua Umum DPP LDII, KH Dody Taufiq Wijaya, menyatakan kesiapan organisasinya untuk berdiri di garis depan mendukung program pemerintah. Menurutnya, persoalan pangan dan lingkungan hidup memang telah lama menjadi fokus utama dalam peta jalan pengabdian organisasi kepada bangsa.
LDII secara konsisten mengimplementasikan delapan bidang pengabdian, di mana ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan menjadi salah satu pilar fundamentalnya. Dody menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi formal, melainkan langkah konkret untuk memperkuat landasan kerja sama yang telah terjalin sebelumnya.
“Kunjungan kami hari ini memperbarui kerja sama LDII dengan Menko Bidang Pangan dan Lingkungan Hidup yang sudah ada sebelumnya,” ujar Dody Taufiq Wijaya menjelaskan urgensi pertemuan tersebut.
Inovasi Sorgum di Pondok Pesantren: Bukti Kemandirian Riil
Salah satu bukti nyata yang telah dijalankan LDII adalah optimalisasi potensi pangan lokal di lingkungan pendidikan. Dody memaparkan bahwa LDII telah mendorong kemandirian pangan mulai dari lingkup pondok pesantren. Penggunaan sorgum sebagai alternatif bahan pangan menjadi salah satu proyek percontohan yang berhasil diterapkan di berbagai pesantren naungan LDII.
Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk diversifikasi pangan, tetapi juga sebagai edukasi bagi para santri agar mampu mengelola sumber daya lokal secara mandiri. Inovasi semacam inilah yang diharapkan pemerintah dapat direplikasi pada skala yang lebih luas untuk menekan angka kemiskinan.
Wajah Baru LDII: Agresif, Lincah, dan Responsif
Selain membahas isu pangan, pertemuan ini juga menjadi ajang perkenalan struktur kepengurusan DPP LDII pasca-Munas X 2026. Dody memperkenalkan jajaran pengurus baru dengan konsep fresh look yang dirancang untuk lebih responsif terhadap perubahan zaman yang sangat cepat.
“Visi dan misi kepengurusan baru ini bergerak lebih cepat, lincah, trengginas, agile dalam menyikapi dinamika geopolitik global yang dinamis,” tambah Dody Taufiq Wijaya.
Semangat baru ini membawa misi untuk lebih aktif melakukan audiensi dengan para stakeholder, mulai dari pemerintah, tokoh agama, hingga pimpinan organisasi masyarakat lainnya. Dody menegaskan bahwa menyambung kembali tali silaturahmi adalah langkah awal yang paling krusial setelah dirinya diamanahi tanggung jawab memimpin LDII.
Dalam lawatan penting tersebut, Dody Taufiq Wijaya didampingi oleh jajaran pengurus teras DPP LDII, di antaranya Bendahara Umum Richan Mudzakar, Koordinator Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Manusia Ivan Hartawan, Koordinator Bidang Pendidikan Keagamaan dan Dakwah Dwi Pramono, serta Koordinator Bidang LISDAL Dicky Budiman dan M Zain dari DPD LDII Kota Solo. Kehadiran para koordinator bidang ini menunjukkan keseriusan LDII dalam menggarap sektor-sektor strategis yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.