Lempar Batu Sembunyi Tangan
Ketika seseorang berbuat kerusakan lalu berpura-pura tidak tahu — sebuah peribahasa yang mengupas watak pengecut, ketidakjujuran, dan lari dari tanggung jawab
"Lempar batu sembunyi tangan" adalah peribahasa Melayu-Indonesia yang secara harfiah menggambarkan seseorang yang melemparkan batu kepada orang lain, lalu menyembunyikan tangannya seolah ia tak melakukan apa-apa. Secara kiasan, peribahasa ini bermakna: melakukan perbuatan buruk atau kesalahan kepada orang lain, namun berpura-pura tidak tahu dan menghindar dari segala tanggung jawab atas kekacauan yang ditimbulkan. Ini adalah gambaran watak yang pengecut, tidak jujur, dan tidak berintegritas.
Makna dan Akar Peribahasa
Peribahasa ini lahir dari tradisi lisan Melayu yang kaya, di mana kebijaksanaan moral disampaikan melalui metafora alam dan kehidupan sehari-hari. Gambaran "batu" melambangkan tindakan yang menyakitkan, merugikan, atau menghancurkan. Sementara "menyembunyikan tangan" adalah simbol penolakan untuk mengakui perbuatan — sebuah bentuk kepengecutan moral yang paling dasar.
Dalam psikologi sosial, perilaku ini dikenal dengan istilah moral disengagement — ketika seseorang melepaskan diri dari standar moral pribadinya untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang lain. Orang yang "melempar batu dan sembunyi tangan" biasanya menghindari rasa bersalah dengan cara merasa tidak bertanggung jawab atas konsekuensi perbuatannya.
Contoh Nyata di Kehidupan Modern
Seseorang menyebarkan fitnah atau berita bohong di media sosial secara anonim atau melalui akun palsu. Ketika masalah tersebut membesar dan menuai kecaman, ia menghapus postingan, berpura-pura menjadi pihak yang tidak tahu-menahu, bahkan tampil sebagai korban.
Dua pihak atau institusi saling melempar tanggung jawab atas sebuah keputusan yang berdampak buruk. Masing-masing mengklaim tidak berwenang dan menunjuk pihak lain, sementara kerusakan yang terjadi tidak juga diselesaikan.
Seorang pejabat mengambil keputusan kontroversial yang merugikan rakyat, namun ketika ditagih pertanggungjawaban ia menyalahkan bawahannya, tim teknisnya, atau bahkan keadaan — tanpa pernah secara jantan mengakui perannya.
Sinonim & Ungkapan Serupa
Islam Menolak Perilaku Ini: Dalil Al-Qur'an
Islam dengan tegas mengecam perilaku yang terkandung dalam peribahasa ini — yakni fitnah, kemunafikan, lari dari tanggung jawab, dan kedustaan. Al-Qur'an dan Hadis Nabi ﷺ secara berulang-ulang menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan keberanian moral dalam mengakui kesalahan.
"Wa lā taktumūsy-syahādah, wa man yaktumhā fa innahū ātsimun qalbuh, wallāhu bimā ta'malūna 'alīm."
Artinya: "Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barangsiapa menyembunyikannya, sungguh hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
QS. Al-Baqarah [2]: 283"Yā ayyuhalladzīna āmanū kūnū qawwāmīna bil-qisṭi syuhadā'a lillāhi wa law 'alā anfusikum awil-wālidayni wal-aqrabīn..."
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu..."
QS. An-Nisa' [4]: 135"Idzā jā'akal munāfiqūna qālū nasyhadu innaka larasūlullāh, wallāhu ya'lamu innaka larasūluh, wallāhu yasyhadu innal munāfiqīna lakādzibūn."
Artinya: "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, 'Kami mengakui bahwa engkau sungguh-sungguh Rasul Allah.' Allah mengetahui bahwa engkau sungguh Rasul-Nya, dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta."
QS. Al-Munafiqun [63]: 1"Yā ayyuhalladzīna āmanuj tanibū katsīran minas-zann, inna ba'das-zanni itsm, wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba'dukum ba'dā..."
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..."
QS. Al-Hujurat [49]: 12Hadis Nabi ﷺ tentang Kejujuran & Tanggung Jawab
Artinya: "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat."
HR. Bukhari No. 33 & Muslim No. 59Artinya: "Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka."
HR. Bukhari No. 6094 & Muslim No. 2607Artinya: "Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." Hadis ini menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat melarikan diri dari tanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya — di dunia maupun di akhirat.
HR. Bukhari No. 893 & Muslim No. 1829Artinya: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." Seorang yang "melempar batu sembunyi tangan" — menyebarkan keburukan lalu berpura-pura bungkam — jelas melanggar prinsip mulia ini.
HR. Bukhari No. 6018 & Muslim No. 47"Keberanian sejati bukan hanya berani melakukan sesuatu — melainkan berani mengakui dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan."
— Refleksi atas nilai kejujuran dalam Islam dan kearifan lokal NusantaraPelajaran Moral yang Dapat Diambil
Peribahasa ini bukan sekadar ungkapan linguistik — ia adalah cermin sosial yang memantulkan realita perilaku manusia sepanjang zaman. Ada empat pelajaran utama yang dapat kita petik:
Evaluasi diri sebelum menghakimi orang lain. Apakah saya pernah "melempar batu" tanpa menyadarinya?
Mengakui kesalahan adalah tanda kematangan dan kemuliaan akhlak, bukan kelemahan.
Setiap perbuatan ada pertanggungjawaban — kepada manusia dan, lebih pasti lagi, kepada Allah.
Sebelum menyebarkan sesuatu, pastikan kebenarannya. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
"Habis Berbuat Maka Tampillah"
Dalam budaya Jawa dikenal prinsip sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti — kekuatan yang besar ditaklukkan oleh kelembutan dan kebajikan. Islam pun mengajarkan hal serupa: seorang mukmin yang sejati adalah ia yang jujur, bertanggung jawab, dan tidak bersembunyi di balik kepengecutan. Ketika kita melakukan kesalahan — dan semua manusia pasti pernah — maka jalan mulia yang tersedia adalah: akui, perbaiki, dan jadikan pelajaran. Karena di sisi Allah, tidak ada tangan yang benar-benar bisa disembunyikan.
