Fadli Zon: Kebudayaan Jadi Kekuatan Soft Power dan Masa Depan Bangsa | Munas X LDII 2026

Fadli Zon: Kebudayaan Jadi Kekuatan Soft Power dan Masa Depan Bangsa | Munas X LDII 2026

Kebudayaan sebagai Kekuatan Soft Power dan Masa Depan Bangsa

Jakarta (9/4). Kebudayaan adalah pondasi karakter dan jati diri bangsa. Kebudayaan tidak hanya mengacu pada peninggalan masa lalu tetapi juga sebagai driving force untuk membentuk masa depan yang lebih baik.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Budaya RI, Fadli Zon di hadapan peserta Munas X LDII 2026 di Grand Ballroom Minhaajurrosyidin, Jakarta pada Kamis (9/4). Ia menekankan, Indonesia adalah bangsa dengan kekayaan dan keberagaman budaya yang luar biasa yang disebut megadiversity.

“Kenapa disebut megadiversity? Karena Indonesia memiliki 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, 2.727 warisan budaya tak benda, dan 313 cagar budaya tingkat nasional. Pencak silat juga menjadi warisan tak benda, selamat atas prestasi generasi muda LDII melalui pencak silat,” paparnya.
“Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pada intinya kita perlu satu gelombang budaya seperti negara yang telah dikenal dengan soft powernya,” ujarnya.
“Jadi memajukan budaya nasional Indonesia di tengah peradaban dunia adalah perintah konstitusi,” tandasnya.
“Saya sudah mengunjungi 101 negara, dari semua negara tidak ada kekayaan budaya yang sehebat Indonesia, ini luar biasa. Banyak negara ragam budayanya homogen, tapi Indonesia heterogen,” ungkapnya.
“Ada teori yang berkembang masuknya Islam dari Hujarat pada abad ke-13, tetapi belakangan kita menemukan temuan baru bahwa masuknya Islam lebih awal yaitu abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah,” jelasnya.
“Ini menjadi bukti kuat adanya jaringan perdagangan internasional antara Nusantara dengan pusat-pusat peradaban Islam,” ujarnya.
“Kita juga baru saja menemukan lukisan purba tertua di dunia yang ditemukan di Muna, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan hasil penelitian umurnya diperkirakan 67.800 tahun,” ujarnya.
“Dengan begitu kita bisa menjadikan kebudayaan ini menjadi kekuatan kita. Kekuatan ekonomi, politik mungkin kita belum bisa menyaingi negara lain, tapi soal budaya kita bisa menjadi pusat kebudayaan dunia, episentrum kebudayaan dunia,” tandasnya.
“Ini merupakan komitmen Presiden dalam perlindungan kebudayaan, dimana di dalamnya terdapat pelindungan kebudayaan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya,” ujarnya.
“Melalui diplomasi, promosi, dan kerja sama kebudayaan, kami harap budaya tidak hanya menjadi beban tapi menjadi engine of growth. Kami juga membuat forum budaya internasional Culture, Heritage, Art, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) untuk mempromosikan warisan budaya Indonesia ke kancah global,” jelasnya.
“Di museum kita pamerkan warisan aslinya, termasuk prasasti pada zaman kerajaan termasuk tentang masuknya Islam di Indonesia,” ujarnya.
“Politik seringkali bisa memecah belah, tapi melalui budaya bisa menyatukan. Semoga kita semakin cinta dengan budaya, menjadi jati diri bangsa dan identitas bangsa kita,” pungkasnya.
Lebih baru Lebih lama