Pesona Wisata Air di Jantung Kotawaringin Timur
SAMPIT – Wisata susur sungai kini menjadi ikon baru yang memikat wisatawan saat bertandang ke Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Menggunakan perahu tradisional yang disebut kelotok hias, para pelancong diajak menyusuri aliran Sungai Mentaya yang bersejarah, menyaksikan harmonisasi antara kehidupan masyarakat bantaran sungai dengan landskap perkotaan yang modern.
Berawal dari Dermaga Habaring Hurung yang terletak strategis di dekat kawasan ikonik Patung Jelawat dan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM), wisata ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Tak sekadar transportasi air, kelotok yang digunakan telah didekorasi sedemikian rupa dengan lampu warna-warni dan fasilitas yang nyaman, memberikan sentuhan estetika tersendisri saat membelah riak sungai.
Pilihan Rute dan Estimasi Biaya Perjalanan
Bagi Anda yang berencana mencoba pengalaman ini, terdapat dua etape perjalanan utama yang bisa dipilih sesuai keinginan dan budget. Pengelola perahu kelotok hias menawarkan fleksibilitas rute untuk memastikan setiap sudut eksotisme Mentaya dapat terjamah.
- Rute Pendek: Menempuh jalur dari Dermaga Habaring Hurung menuju ujung landasan Bandara H. Asan di Kecamatan Baamang sebelum akhirnya kembali ke titik awal. Etape ini dibanderol dengan harga sewa sekitar Rp150.000 per perahu untuk perjalanan pulang-pergi (PP).
- Rute Panjang: Jalur ini jauh lebih mendalam, melintasi bantaran sungai di kawasan Kecamatan Seranau hingga menjangkau area pabrik karet PT Sampit di Mentawa Baru Ketapang. Dengan durasi yang lebih lama, wisatawan dikenakan biaya sekitar Rp250.000 per perahu (PP).
Biaya tersebut tergolong sangat kompetitif, terutama jika Anda datang bersama rombongan atau keluarga, karena harga dihitung per unit perahu, bukan per kepala.
Golden Hour: Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Momen paling ideal untuk memulai petualangan ini adalah pada sore hari menjelang senja. Saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, pantulan cahayanya di permukaan Sungai Mentaya menciptakan nuansa emas yang dramatis. Wisatawan sering kali memanfaatkan momen ini untuk berburu foto di depan Ikon Jelawat dari sudut pandang sungai.
"Halo pahari wisata, jika ingin berlayar di Sungai Mentaya dengan cara lain, yuk bisa dicoba kapal susur sungai ini. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam untuk menyusuri tempat-tempat dan desa di sekitar sungai," ungkap narasi dalam dokumentasi Pariwisata Kalteng.
Memasuki malam hari, suasana berubah menjadi lebih romantis. Gemerlap lampu kota Sampit dan pantulan cahaya dari kelotok hias lainnya memberikan pemandangan malam yang tenang namun mempesona. Angin sungai yang sejuk menjadi pelengkap sempurna bagi mereka yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk rutinitas harian.
Sinergi Edukasi dan Pelestarian Budaya
Lebih dari sekadar hiburan visual, wisata susur sungai ini juga mengemban misi edukasi. Selama perjalanan, wisatawan dapat melihat langsung aktivitas ekonomi warga, mulai dari bongkar muat di pelabuhan tradisional hingga cara hidup masyarakat yang sangat bergantung pada sungai. Hal ini memberikan pemahaman mendalam mengenai ekosistem sungai dan pentingnya menjaga kebersihan Sungai Mentaya sebagai urat nadi kehidupan di Kotawaringin Timur.
Hadirnya kelotok hias sebagai moda wisata utama juga menjadi upaya konkret dalam melestarikan perahu tradisional agar tetap relevan di tengah modernisasi. Dengan dukungan promosi digital dan pengelolaan yang semakin baik, diharapkan destinasi ini mampu mengangkat derajat pariwisata Kalimantan Tengah di kancah nasional maupun internasional.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.