Membangun Fondasi Kehidupan Melalui Akhlak Mulia: Tausiah Ulama LDII di Papua Barat

Sinergi Ulama LDII dan TVRI Papua Barat dalam Syiar Islam

Dalam upaya memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) kembali menunjukkan peran aktifnya melalui bimbingan rohani. Ulama LDII dipercaya oleh TVRI Papua Barat untuk mengisi program tausiah Ramadan yang bertujuan mengedukasi masyarakat luas. Pengambilan gambar dilakukan dengan latar terbuka di Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi, Manokwari, Papua Barat.

Ust. Salman Zain Ihza Kamilan, yang bertindak sebagai narasumber, membawakan materi mendalam bertajuk “Akhlak Mulia”. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa akhlak bukan sekadar perilaku individu, melainkan fondasi utama yang menyokong keberlangsungan hidup bermasyarakat.

Akhlak Sebagai Jembatan Harmoni Sosial

Ust. Salman menyoroti betapa krusialnya penerapan etika dan perilaku baik di tengah kemajemukan Indonesia. Menurutnya, keragaman adalah kekuatan jika dibarengi dengan budi pekerti yang luhur. Ia menyatakan:

“Apalagi dalam masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai latar belakang agama, dan budaya. Akhlak yang baik menjadi jembatan harmoni sosial untuk menjaga hubungan antar manusia tetap damai,” ujarnya.

Dalam perspektif teologis, ia menjelaskan bahwa Islam menempatkan akhlak pada posisi yang sangat istimewa. Akhlak mulia disebut sebagai amalan yang paling berat bobotnya dalam timbangan amal di hari akhir nanti. Hal ini selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW mengenai kunci utama keselamatan di akhirat.

“Ketika sahabat bertanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, Nabi menjawab adalah mereka yang taqwa kepada Allah dan husnul khuluq (akhlak yang baik),” jelas Ust. Salman.

Dampak Positif Akhlak dalam Dimensi Spiritual dan Sosial

Penerapan karakter yang baik membawa manfaat ganda, baik bagi stabilitas publik maupun ketenangan batin individu. Secara kolektif, akhlak yang kuat mampu mereduksi potensi konflik sosial dan mempererat persatuan bangsa. Secara personal, dampaknya sangat terasa pada kualitas hidup seseorang.

“Sedangkan bagi diri sendiri membentuk pribadi yang tenang, mendapat kepercayaan orang lain, mendatangkan keberkahan dalam kehidupan sosial dan spiritual,” ujarnya.

Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah Degradasi Moral

Menutup sesi tausiahnya, Ust. Salman memberikan catatan kritis terhadap fenomena penurunan moral yang melanda berbagai lapisan kehidupan saat ini. Ia mengajak semua pihak untuk kembali menaruh perhatian serius pada pendidikan karakter sejak dini agar kerusakan moral tidak semakin meluas.

“Hal ini menjadi pengingat bahwa pendidikan akhlak harus terus diperkuat dan tidak boleh dianggap sepele,” pungkasnya.

Dengan adanya edukasi melalui media massa seperti TVRI, diharapkan pesan-pesan kesejukan dan nilai-nilai luhur ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya di wilayah Papua Barat, guna mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih harmonis dan religius.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama