LDII Sumbar Ajak Masyarakat Maknai Perbedaan Idul Fitri Sebagai Simbol Harmoni Umat

LDII Sumbar Ajak Masyarakat Maknai Perbedaan Idul Fitri Sebagai Simbol Harmoni Umat

LDII Sumbar Turunkan Tim Rukyatul Hilal di Padang

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sumatera Barat menunjukkan komitmennya dalam mendukung kerukunan umat beragama di tengah dinamika penetapan awal bulan Hijriah. Pada Kamis (19/3), LDII Sumbar menurunkan tim rukyatul hilal untuk mengikuti pemantauan hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah bersama Kanwil Kemenag Sumbar yang berlokasi di lantai 4 Hotel Rangkayo Basa, Kota Padang.

Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara berbagai ormas Islam dan komunitas astronomi guna mengumpulkan data akurat sebelum pemerintah menetapkan keputusan resmi melalui sidang isbat. Sekretaris DPW LDII Sumatera Barat, H. M. Abdillah, menekankan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya seharusnya dipandang sebagai kekayaan khazanah Islam, bukan pemicu perpecahan.

"Kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawal ini bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru menjadi bukti bahwa umat Islam memiliki kekayaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah," ujar Abdillah.

Menjaga Ukhuwah di Tengah Keberagaman Metode

Di wilayah Sumatera Barat sendiri, tercatat adanya variasi waktu perayaan Idul Fitri di antara kelompok masyarakat. Sebagian jemaat tarekat merayakan Lebaran pada Kamis, warga Muhammadiyah pada Jumat, sementara pemerintah menetapkan Sabtu sebagai 1 Syawal. Menurut Abdillah, fenomena ini adalah hal yang wajar dan telah diterima dengan dewasa oleh masyarakat setempat.

"Hal seperti ini sudah lazim terjadi dan tidak pernah menjadi permasalahan karena ihtiyar kita dalam ibadah itu vertikal bukan horisontal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga ukhuwah dan saling menghormati perbedaan yang ada," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami dasar ilmiah dan syariat yang melandasi metode rukyat maupun hisab dalam kalender Hijriah.

"Perbedaan metode ini merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu mempersoalkan secara berlebihan," ujarnya.

Hasil Pengamatan Teknis di Lapangan

Dari sisi teknis, Ketua Biro Teknologi Informasi, Aplikasi, dan Telematika (TIAT) DPW LDII Sumbar, Rosyid Anwar, menjelaskan bahwa keterlibatan LDII adalah bentuk kontribusi nyata organisasi dalam mendukung transparansi pemerintah.

"LDII ikut serta dalam kegiatan ini sebagai bagian dari kontribusi kepada umat, sekaligus mendukung proses rukyatul hilal yang dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak," jelasnya.

Berdasarkan pengamatan di Padang, posisi hilal saat matahari terbenam berada pada ketinggian yang belum memenuhi kriteria visibilitas minimum yang ditetapkan pemerintah.

"Hasil pengmatan sampai menjelang matahari terbenam, ketinggian hilal itu 2,5 derajat pada pukul 18.42 WIB," ujarnya.

Dengan angka 2,5 derajat tersebut, posisi hilal belum mencapai batas minimal 3 derajat yang disepakati untuk penetapan bulan baru. Oleh karena itu, secara ilmiah hilal dinyatakan belum terlihat di titik pantau tersebut.

"Sehingga posisi hilal di Padang belum masuk kategori 3 derajat, yang menjadikan hilal belum terlihat," jelasnya.

Pesan Perdamaian untuk Idul Fitri

Sebagai penutup, LDII Sumbar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk fokus pada esensi Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan mempererat tali silaturahmi. Kedamaian di tengah perbedaan merupakan kunci utama dalam menjaga kondusivitas wilayah Sumatera Barat.

"LDII mengajak seluruh umat Islam di Sumatera Barat untuk tetap menjaga suasana yang damai, saling menghormati, dan menjadikan perbedaan ini sebagai keindahan dalam kehidupan beragama," tuturnya.

Meskipun terdapat perbedaan hari pelaksanaan salat Id, semangat persatuan tetap menjadi prioritas. Melalui hasil sidang isbat di Jakarta, pemerintah secara resmi mengumumkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Perbedaan ini diharapkan semakin mendewasakan umat dalam beragama dan berbangsa.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama