Iktikaf - Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Iktikaf: Menjemput Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Dalil Lailatul Qadr & I'tikaf — Al-Qur'an & Hadis Shahih
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Pendahuluan

Lailatul Qadr (ليلة القدر) adalah malam paling mulia dalam Islam — lebih baik dari seribu bulan (± 83 tahun). Allah SWT menurunkan Al-Qur'an pada malam ini dan menetapkannya sebagai anugerah terbesar bagi umat Nabi Muhammad SAW.

I'tikaf (الاعتكاف) adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, untuk meraih Lailatul Qadr.

الجزء الأول

Bagian I — Lailatul Qadr (ليلة القدر)

Malam Kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan

A. Dalil Al-Qur'an tentang Lailatul Qadr

Dalil QS. 1 Al-Qur'an · QS. Al-Qadr [97]: 1–5

Surat Al-Qadr (Lengkap) — Ayat 1

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Innā anzalnāhu fī lailati l-qadr
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam qadar (kemuliaan).

Ayat 2

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Wa mā adrāka mā lailatu l-qadr
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Ayat 3 ✦ Inti Kemuliaan

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Lailatu l-qadri khairun min alfi shahr
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Ayat 4

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
Tanazzalu l-malā'ikatu wa r-rūḥu fīhā bi'idni rabbihim min kulli amr
Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Ayat 5

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Salāmun hiya ḥattā maṭla'i l-fajr
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
QS. Al-Qadr [97]: 1–5
Penjelasan Ulama (Ibnu Katsir) Allah SWT menyebutkan kemuliaan Lailatul Qadr dengan menegaskan bahwa ibadah pada malam ini lebih utama dari ibadah seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadr di dalamnya. Imam Asy-Syafi'i, Imam Malik, dan mayoritas ulama memahami "seribu bulan" secara hakiki — yakni 83 tahun 4 bulan.
Dalil QS. 2 Al-Qur'an · QS. Ad-Dukhan [44]: 3–5
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Innā anzalnāhu fī lailatin mubārakah, innā kunnā mundhirīn
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
Amran min 'indinā, innā kunnā mursilīn
Yaitu urusan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus rasul-rasul.
QS. Ad-Dukhan [44]: 3–5
Catatan "Lailatin mubārakah" (malam yang diberkahi) dalam ayat ini merujuk pada Lailatul Qadr — malam Allah menetapkan berbagai takdir dan keputusan-Nya untuk setahun ke depan. Ini menegaskan bahwa malam ini adalah malam penuh keberkahan ilahi.
Dalil QS. 3 Al-Qur'an · QS. Al-Baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Shahru ramaḍāna lladhī unzila fīhi l-qur'ānu hudan li n-nāsi wa bayyinātin mina l-hudā wa l-furqān
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).
QS. Al-Baqarah [2]: 185
Keterkaitan dengan Lailatul Qadr Ayat ini menunjukkan Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadhan. Berdasarkan QS. Al-Qadr, peristiwa ini terjadi pada Lailatul Qadr — memperkuat betapa agungnya malam tersebut sebagai malam turunnya kitab suci paling mulia.

B. Hadis Shahih tentang Lailatul Qadr

Hadis LQ. 1 Shahih Bukhari No. 1901 · Muslim No. 760
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man qāma lailata l-qadri īmānan wa-ḥtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dhanbih
Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
HR. Bukhari No. 1901 & Muslim No. 760, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Status Hadis MUTTAFAQ 'ALAIH — Disepakati keshahihannya oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim. Sanad bersambung (muttashil) sampai Rasulullah SAW.
Hadis LQ. 2 Shahih Bukhari No. 2017
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Taḥarraw lailata l-qadri fī l-witri mina l-'ashri l-awākhiri min ramaḍān
Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
HR. Bukhari No. 2017, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Malam-malam Ganjil yang Diutamakan Malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Mayoritas ulama berpendapat malam ke-27 paling kuat kemungkinannya berdasarkan riwayat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu.
Hadis LQ. 3 Shahih Bukhari No. 2016 · Muslim No. 1167
أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا، وَأَرَانِي صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ
Urītu lailata l-qadri thumma unsītu-hā, wa arānī ṣubḥahā asjudu fī mā'in wa ṭīn
Aku pernah diperlihatkan Lailatul Qadr kemudian aku dilupakan (mengenai kepastiannya), dan aku melihat diriku sujud di atas air dan lumpur pada pagi harinya.
HR. Bukhari No. 2016 & Muslim No. 1167, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu
Hadis LQ. 4 Shahih Ibnu Khuzaimah No. 2049
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلِقَةٌ، لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ، تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ
Lailatu l-qadri lailatun samḥatun ṭaliqah, lā ḥārratun wa lā bāridah, tuṣbiḥu sh-shamsu ṣabīḥatahā ḍa'īfatan ḥamrā'
Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari di pagi harinya terbit dengan sinar merah yang lemah (tidak menyilaukan).
HR. Ibnu Khuzaimah No. 2049 — Shahih, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu
Tanda-tanda Lailatul Qadr (1) Malam tenang, tidak berangin kencang · (2) Cuaca sejuk, tidak ekstrem panas/dingin · (3) Matahari terbit kemerahan dan tidak terlalu menyilaukan · (4) Suasana penuh ketenangan dan kekhusyukan
Hadis LQ. 5 Shahih Bukhari No. 2024 · Muslim No. 1174
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Kāna n-nabiyyu ṣallallāhu 'alaihi wa sallama idhā dakhala l-'ashru shadda mi'zarahu wa aḥyā lailahu wa ayqaẓa ahlah
Apabila Nabi SAW memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadhan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.
HR. Bukhari No. 2024 & Muslim No. 1174, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Makna "Shadda Mi'zarahu" Para ulama menafsirkan "mengencangkan ikat pinggang" dengan dua makna: (1) Bersungguh-sungguh dalam ibadah melebihi hari biasa, dan (2) Menjauhi istri demi fokus beribadah.
Hadis LQ. 6 Shahih Tirmidzi No. 3513 · Ibnu Majah No. 3850
قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Qulī: Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbu l-'afwa fa'fu 'annī
Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang aku ucapkan jika aku mengetahui malam Lailatul Qadr?" Beliau menjawab: "Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku."
HR. Tirmidzi No. 3513 & Ibnu Majah No. 3850 — Shahih, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
★ Doa Utama Lailatul Qadr
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbu l-'afwa fa'fu 'annī
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemberian maaf, maka maafkanlah aku."
Hadis LQ. 7 Shahih Bukhari No. 38 · Muslim No. 760
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man ṣāma ramaḍāna īmānan wa-ḥtisāban ghufira lahu… wa man qāma lailata l-qadri īmānan wa-ḥtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dhanbih
Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, diampuni pula dosa-dosanya yang telah lalu.
HR. Bukhari No. 38 & Muslim No. 760, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Hadis LQ. 8 HR. Ahmad · Shahih Al-Jami' No. 7989
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى
Tanazzalu l-malā'ikatu fī tilka l-lailati aktharu min 'adadi l-ḥaṣā
Para malaikat turun pada malam itu lebih banyak dari jumlah kerikil (di muka bumi).
HR. Ahmad — Hasan; dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' No. 7989, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
✦ ✦ ✦
الجزء الثاني

Bagian II — I'tikaf (الاعتكاف)

Berdiam di masjid untuk meraih Lailatul Qadr dan ridha Allah

A. Dalil Al-Qur'an tentang I'tikaf

Dalil QS. 4 Al-Qur'an · QS. Al-Baqarah [2]: 187 — Dalil Utama I'tikaf
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
Wa lā tubāshirūhunna wa antum 'ākifūna fī l-masājid, tilka ḥudūdullāhi falā taqrabūhā
Janganlah kamu campuri mereka (istri-istri) sedang kamu beritikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
QS. Al-Baqarah [2]: 187
Dalil Terkuat I'tikaf dalam Al-Qur'an Ayat ini merupakan dalil paling tegas tentang disyariatkannya I'tikaf. Allah menyebutnya sebagai ibadah khusus di masjid dan menetapkan larangan berhubungan intim selama I'tikaf — menunjukkan bahwa I'tikaf adalah ibadah yang diakui dan diatur oleh syariat Islam.
Dalil QS. 5 Al-Qur'an · QS. Al-Baqarah [2]: 125
وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Wa 'ahidnā ilā Ibrāhīma wa Ismā'īla an ṭahhirā baitiya li ṭ-ṭā'ifīna wa l-'ākifīna wa r-rukka'i s-sujūd
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku (Ka'bah) untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang i'tikaf, orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud."
QS. Al-Baqarah [2]: 125
I'tikaf sejak Zaman Nabi Ibrahim AS Penyebutan "al-'ākifīn" (orang-orang yang i'tikaf) bersama para tawaf dan orang shalat menunjukkan bahwa I'tikaf adalah syiar Islam sejak zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Dalil QS. 6 Al-Qur'an · QS. Al-Hajj [22]: 26
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Wa idh bawwa'nā li-Ibrāhīma makāna l-baiti al-lā tushrik bī shai'an wa ṭahhir baitiya li ṭ-ṭā'ifīna wa l-qā'imīna wa r-rukka'i s-sujūd
Dan (ingatlah) ketika Kami memperlihatkan kepada Ibrahim tempat Baitullah (dengan firman): "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud."
QS. Al-Hajj [22]: 26

B. Hadis Shahih tentang I'tikaf

Hadis I'tikaf. 1 Shahih Bukhari No. 2026 · Muslim No. 1172
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama ya'takifu fī l-'ashri l-awākhiri min ramaḍāna ḥattā tawaffāhu Allāh
Rasulullah SAW senantiasa beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, hingga beliau wafat.
HR. Bukhari No. 2026 & Muslim No. 1172, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Faidah Hadis ini menegaskan I'tikaf sepuluh malam terakhir adalah amalan Nabi SAW yang tidak pernah beliau tinggalkan selama hidup — dalil kuatnya kesunnahan I'tikaf (sunnah muakkadah).
Hadis I'tikaf. 2 Shahih Bukhari No. 2044
كَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ رَمَضَانَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Kāna ya'takifu kulla ramaḍāna 'asharata ayyām, falammā kāna l-'āmu lladhī qubiḍa fīhi i'takafa 'ishrīna yawmā
Beliau (Rasulullah SAW) biasa beri'tikaf setiap Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun beliau wafat, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari.
HR. Bukhari No. 2044, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Hadis I'tikaf. 3 Shahih Bukhari No. 2033 · Muslim No. 1173
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama ya'takifu l-'ashra l-awākhira min ramaḍān, fakunbtu aḍribu lahu khibā'an faṣyuṣalli ṣ-ṣubḥa thumma yadkhuluh
Rasulullah SAW beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, maka aku (Aisyah) pasangkan tendanya, lalu beliau shalat Subuh kemudian masuk ke dalamnya (tenda i'tikaf).
HR. Bukhari No. 2033 & Muslim No. 1173, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Hadis I'tikaf. 4 Shahih Bukhari No. 295 · Muslim No. 297
كَانَتْ تُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حَائِضٌ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فِي الْمَسْجِدِ، وَهِيَ فِي حُجْرَتِهَا يُنَاوِلُهَا رَأْسَهُ
Kānat turrajjilu ra'sa Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama wa hiya ḥā'iḍun wa huwa mu'takifun fī l-masjidi
Aisyah menyisir rambut Rasulullah SAW sementara beliau sedang i'tikaf di masjid dan ia (Aisyah) sedang haid, ia berada di kamarnya sementara Rasulullah SAW menjulurkan kepalanya kepadanya.
HR. Bukhari No. 295 & Muslim No. 297, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Hukum yang Dipetik Boleh bagi orang yang i'tikaf menjulurkan anggota badannya keluar masjid untuk keperluan yang tidak bisa dihindari tanpa harus membatalkan i'tikaf.
Hadis I'tikaf. 5 Sunan Abu Dawud No. 2473 — Shahih
السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلَا يُبَاشِرَهَا وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ
As-sunnatu 'alā l-mu'takifi an lā ya'ūda marīḍan wa lā yashhadha janāzatan wa lā yamassa mra'atan wa lā yubāshirahā wa lā yakhruja li ḥājatin illā limā lā budda minh
Sunnah bagi orang yang i'tikaf adalah: tidak menjenguk orang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita dan tidak mencampurinya, dan tidak keluar untuk suatu keperluan kecuali yang tidak bisa tidak (kebutuhan mendesak).
HR. Abu Dawud No. 2473 — Shahih, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
Hadis I'tikaf. 6 Shahih Bukhari No. 2041 · Muslim No. 1173
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، فَلَمَّا كَانَتِ السَّنَةُ الَّتِي تُوُفِّيَ فِيهَا أَقَامَ عِشْرِينَ
Kāna n-nabiyyu ṣallallāhu 'alaihi wa sallama ya'takifu l-'ashra l-awākhira min ramaḍān, falammā kānati s-sanatu llatī tuwuffiya fīhā aqāma 'ishrīn
Nabi SAW beri'tikaf sepuluh malam terakhir Ramadhan. Pada tahun beliau wafat, beliau berdiam dua puluh hari.
HR. Bukhari No. 2041 & Muslim No. 1173, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Hadis I'tikaf. 7 Shahih Muslim No. 1175
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama yajtahidu fī l-'ashri l-awākhiri mā lā yajtahidu fī ghayrih
Rasulullah SAW bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di malam-malam lainnya.
HR. Muslim No. 1175, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
✦ ✦ ✦
الجزء الثالث

Bagian III — Hukum, Syarat & Amalan I'tikaf

Hukum I'tikaf

STATUS HUKUM
KETERANGAN
Sunnah Muakkadah
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Pendapat mayoritas ulama (jumhur) berdasarkan amalan rutin Nabi SAW yang tidak pernah beliau tinggalkan.
Wajib
Jika dinadzarkan. Barangsiapa bernadzar untuk i'tikaf maka wajib memenuhinya. (QS. Al-Hajj: 29 & HR. Bukhari No. 6696)
Sunnah Biasa
Di luar Ramadhan, dapat dilakukan kapan saja di masjid yang biasa digunakan shalat berjamaah.

Syarat-syarat I'tikaf

  • Muslim — I'tikaf hanya sah bagi orang Islam.
  • Berakal — Tidak sah dari orang gila atau tidak sadar.
  • Niat — Wajib ada niat i'tikaf di dalam hati sebelum memulai.
  • Di Masjid — Harus dilakukan di masjid (minimal masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah).
  • Suci dari Hadats Besar — Tidak sah bagi orang junub, wanita haid, atau nifas.
  • Izin suami (bagi istri) — Dianjurkan mendapat izin dari suami.

Amalan Utama selama I'tikaf

  • Memperbanyak shalat sunnah dan dzikir kepada Allah SWT.
  • Membaca, mentadabburi, dan mengkhatamkan Al-Qur'an Al-Karim.
  • Berdoa dengan sepenuh hati, khususnya doa Lailatul Qadr.
  • Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Bertaubat, beristighfar, dan menangis karena dosa-dosa.
  • Mempelajari ilmu agama melalui buku dan kajian.

Hal-hal yang Membatalkan I'tikaf

  • Keluar dari masjid tanpa keperluan yang dibenarkan syariat.
  • Berhubungan intim (jima') dengan istri atau suami.
  • Murtad — keluar dari agama Islam (na'udzu billah).
  • Gila atau hilang akal (tidak sadar diri).
  • Haid atau nifas yang tiba-tiba datang (bagi wanita).
✦ ✦ ✦
الجزء الرابع

Bagian IV — Pendapat Para Ulama

Pendapat Ulama tentang Waktu Lailatul Qadr

Ulama / Mazhab Pendapat tentang Lailatul Qadr
Imam Asy-Syafi'i Kemungkinan besar malam ke-21 Ramadhan
Imam Ahmad bin Hanbal Paling kuat pada malam ke-27 Ramadhan
Jumhur (Mayoritas) Ulama Salah satu dari malam-malam ganjil di sepuluh terakhir; berpindah setiap tahun dan tidak menetap pada satu malam tertentu
Ibnu Hajar Al-Asqalani Dalam Fath Al-Bari: pendapat terkuat adalah malam ke-27, namun berpindah di antara malam-malam ganjil
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Dalam Zādul Ma'ād: kemungkinan besar malam ke-27 berdasarkan dalil dan keterangan sahabat

Nasihat Ibnul Qayyim tentang I'tikaf

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah — Zādul Ma'ād I'tikaf disyariatkan untuk mengosongkan hati dari kesibukan duniawi dan menyibukkannya dengan Allah semata. Seseorang yang beri'tikaf menutup dirinya dari segala kegiatan dunia agar hatinya senantiasa bergantung hanya kepada Allah. Inilah puncak ketakwaan dan kekhusyukan yang menghubungkan ruh manusia dengan Allah SWT.

Hadis Ancaman bagi yang Terhalang Ramadhan

Hadis Penutup Shahih Ibnu Hibban No. 907
أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ
Atānī Jibrīlu faqāla: man adraka ramaḍāna falam yughfar lahu fa ab'adahu Allāh
Jibril mendatangiku dan berkata: "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun (dosa-dosanya) tidak diampuni, maka Allah akan menjauhkannya (dari rahmat-Nya)."
HR. Ibnu Hibban — Shahih No. 907, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Lebih baru Lebih lama