Pemantauan Hilal di Tanjung Kodok Terkendala Cuaca dan Posisi Rendah
Upaya pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 H yang dilaksanakan di titik pantau Tanjung Kodok, Paciran, Lamongan, pada Kamis (19/3), belum membuahkan hasil. Tim Rukyatul Hilal DPD LDII Kabupaten Lamongan melaporkan bahwa fenomena astronomi tersebut gagal teramati akibat faktor cuaca buruk dan posisi hilal yang masih berada di bawah kriteria visibilitas yang ditetapkan.
Meskipun proses observasi telah menggunakan peralatan teleskop modern, kondisi alam di ufuk barat menjadi rintangan utama. Awan tebal yang menyelimuti garis cakrawala di kawasan pesisir utara Lamongan menghalangi pandangan tim perukyat dari berbagai ormas Islam serta perwakilan Kementerian Agama.
"Tim kami sudah bekerja maksimal berkolaborasi dengan Badan Hisab Rukyat (BHR) Lamongan. Namun, hingga matahari terbenam, hilal tidak terlihat di titik Tanjung Kodok ini karena faktor cuaca," ujar Gunawan Sugiharto.
Analisis Teknis dan Kriteria MABIMS
Gunawan Sugiharto, selaku ahli ilmu falak LDII Lamongan, menambahkan bahwa rendahnya posisi hilal menjadi tantangan teknis tersendiri bagi para pengamat di lapangan. Berdasarkan perhitungan data hisab, parameter fisik hilal memang belum mencapai ambang batas minimal untuk dapat diverifikasi secara visual.
"Secara perhitungan hisab, parameter ketinggian dan elongasi memang belum mencapai ambang batas minimum keterlihatan, sehingga verifikasi visual maupun digital tidak dapat dilakukan sore ini," ungkap Gunawan Sugiharto.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Lamongan, Khoirul Anam. Ia menjelaskan bahwa ketinggian hilal di wilayah Lamongan saat matahari terbenam berada pada posisi yang sangat rendah, yakni di bawah 1 derajat, yang artinya belum memenuhi standar MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
"Kondisi hilal hari ini memang masih sangat rendah. Secara perhitungan, posisi hilal di Tanjung Kodok berada pada ketinggian yang belum memenuhi kriteria MABIMS. Ditambah lagi dengan hambatan awan tebal di ufuk barat," jelas Khoirul Anam.
Berdasarkan hasil teknis tersebut, diperkirakan bulan Ramadan tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idul Fitri 1 Syawal 1447 H diprediksi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Data hasil pantauan dari Tanjung Kodok ini pun telah dilaporkan secara resmi kepada Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur untuk diteruskan sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat di Jakarta.
Menunggu Ketetapan Resmi Pemerintah
Ketua DPD LDII Lamongan, H. Agus Yudi, yang hadir langsung di lokasi pemantauan, mengimbau kepada seluruh warga untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum adanya ketetapan resmi dari otoritas berwenang.
"Kami mengharap seluruh warga LDII dan masyarakat Lamongan pada umumnya untuk tetap sabar menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah melalui Menteri Agama malam ini. Apapun keputusannya, mari kita jaga kekhusyukan dan persatuan di hari yang fitri nanti," pungkas H. Agus Yudi.
Melalui semangat ketaatan pada pemerintah dan menjaga kerukunan, LDII Lamongan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan nilai-nilai persaudaraan dalam menyambut hari kemenangan yang akan segera tiba.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.