Puisi Hari Ibu | TK & SD | Singkat, Menyentuh Hati, Islami — 10 Contoh

Puisi Hari Ibu | TK & SD | Singkat, Menyentuh Hati, Islami — 10 Contoh (Bagian 1)

Puisi Hari Ibu — 10 Contoh

Menjelang peringatan Hari Ibu, pembacaan puisi jadi momen yang menggetarkan. Berikut 10 puisi bernuansa Islami dan menyentuh — cocok dibacakan di acara TK atau SD dengan penyesuaian intonasi. Setiap puisi ditulis dengan bahasa yang humanis, penuh citra, dan mudah dimengerti anak-anak bila dibacakan dengan penuh perasaan.

Tanggal publikasi: • Kategori: Puisi Hari Ibu •

1. "Ibu, Seutas Doa di Pagi yang Luruh"

Di pagi yang masih sabit, ketika matahari malu-malu membuka tirai, aku belajar mengikat kata menjadi nasihat dari bibirmu, Ibu — seperti benang halus yang menenun hari. Kau ajari aku mengusap air mata bukan dengan kasar, tetapi dengan cara menahan agar tak tercurah sia-sia, karena air mata adalah doa yang ragu-ragu mau naik ke langit.

Engkau pernah bilang, "Anakku, hidup adalah ladang kecil; setiap kebaikan yang kau tebarkan akan tumbuh walau tak kau saksikan sendiri." Lalu, di sela-sela pekerjaan rumah, tanganmu terus bergenggam pada Al-Qur'an kecil yang berhalaman usang — bukan sebagai pajangan, melainkan sebagai kompas langkah. Dari sana, aku tahu mengapa kau sabar menelan lelah; karena imanmu tak mengharap tepuk tangan, hanya ridha dari Yang Maha Memberi.

Ketika aku sakit, kau bangun tengah malam, menempuh koridor panjang rumah hanya untuk membuatkan obat tradisi yang hangat. Kau bilang, "Air hangat dan doa adalah obat yang Allah lipat gandakan berkat niat." Kau menaruh tanganmu di dahiku dan seolah menyalurkan ketegaran—energi itu bukan sesuatu yang bisa diukur; ia seperti aroma rempah di dapur, sederhana, namun menenangkan seisi rumah.

Di sekolah, aku membawa bekal dengan tulisan tanganmu: "Bersyukurlah, jangan sombong, bahagiakan yang kecil." Tulisan itu menempel di kotak nasi, mengingatkanku untuk menahan amarah ketika teman marah-marah tanpa sebab. Kau mengajarkanku tata krama lewat cerita semalam: kisah sederhana tentang tetangga, tentang memberikan nasi kepada yang lapar, tentang menundukkan diri ketika terlalu bangga akan ilmu. Cerita-cerita itu menanamkan akar yang dalam pada jiwaku.

Suatu sore, ketika hujan turun dengan ritme yang berat, aku melihatmu menyapu halaman basah. Kau menyapu bukan demi halaman bersih saja, tetapi kau menyapu agar langkah kami tidak tergelincir. "Ibu," kataku, "mengapa kau selalu memikirkan kami terlebih dahulu?" Kau hanya tersenyum, lalu memetik seikat bunga kecil di pot dan menaruhnya di meja, seperti memberi tanda bahwa dunia ini tetap indah meski hujan badai menerpa.

Di tengah kesaharianmu, aku belajar tentang tawakkal — menaruh usaha lalu menyerahkan hasil kepada Allah. Kau mengajarkan doa tanpa drama: doa yang lirih, doa yang pulang ke langit tanpa menuntut imbal. "Sabar dan syukur" itulah lagu yang kau ajarkan tanpa bersuara, hanya lewat kebiasaanmu memberi salam pada tetangga meski lelah, dan menerima tamu meski tidak ada hidangan mewah.

Ketika aku menginjak masa remaja dan mulutku penuh kata-kata yang tajam, engkau tetap sabar menanggapi. Kau bukan lawan untuk dilawan, melainkan cermin untuk kuhadapi. Di wajahmu tertulis cerita tentang perjalanan, tentang pengorbanan tanpa pamrih yang tak pernah kau laporkan pada siapapun. Kau selalu percaya pada kebaikanku ketika aku sendiri meragukannya.

Ibu, namamu melekat pada doa-doaku sebelum tidur. Aku memohon pada-Nya: tetapkan engkau dalam nikmat sehat, kuatkan engkau saat lemah, lapangkan rizkimu, curahkan ketenangan pada hatimu. Bila suatu hari aku lupa membalas jasa, ampuni aku, wahai cahaya rumahku. Karena bahagiaku adalah melihatmu tersenyum dalam keadaan sederhana dan tenang.

Di hari ini kupersembahkan sebuah puisi; bukan untuk mengubah dunia, tetapi untuk menaruh kembali rasa syukur pada tempat yang semestinya. Ibu, engkau adalah seutas doa di pagi yang luruh — lembut, tak riuh, namun mengikat seluruh hariku dengan harapan. Semoga Allah balas setiap jasamu dengan kebaikan yang tak pernah lekang. Aamiin.

2. "Surat untuk Ibu di Ambang Senja"

Ambang senja menaruh rindunya pada atap rumah kita. Suara anak ayam di kandang bergelombang seperti tawa kecil yang telah lama kau ajarkan. Aku duduk di teras, pena di tangan, mencoba menuliskan sesuatu yang tak pernah terucap. Surat ini untukmu, Ibu, yang setiap lelahmu kau bungkus menjadi pelajaran lembut bagi kami.

Kau membesarkanku dengan doa yang tak pernah basi: doa yang kau ulang tiap kali menyapu, tiap kali memasak, setiap kali mencuci. Bagi orang lain, itu mungkin hanya kebiasaan; bagiku, itu adalah lafaz-lafaz yang menyusun jiwa. Dari doa-doamu aku paham makna tawakal — bukan pasrah tanpa usaha, tetapi yakin bahwa usaha yang diberkati akan menemui jalannya.

Aku ingat ketika kecil, kaki kecilku tergelincir di tangga. Kau yang memegang, kau yang menenangkanku, lalu kau menyeka lututku dengan tangan yang sama yang kuanggap tak pernah lelah. Cinta nyata bukan sekadar kata; ia tertera di jemari yang mengusap, di makanan hangat yang kau siapkan, di kata-kata yang menenangkan di malam ketika petir menari di langit.

Begitu banyak malam yang kutahu kau tak tidur. Bukan karena tidak punya waktu, tetapi karena waktu itu kau gunakan untuk menghitung doa: sedekah kecil yang kau sisipkan dalam amplop, nasihat untuk tetangga yang kau sampaikan pelan, perbaikan kecil di rumah yang kau lakukan tanpa pamrih. Semua itu adalah pelajaran gigih bagaimana mencintai dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.

Di masa sekolah dasar, kau menulis namaku di setiap buku pelajaran dengan tinta biru. Tinta itu tak hanya nama, melainkan doa yang kau tuliskan agar aku selalu ingat akhlak ketika berprestasi. "Hemat, jangan sombong, jangan melupakan asal," tulisanmu itu tak lekang oleh waktu; ia menempel di hati ketika godaan dunia mulai mendesah di telinga.

Ibu, kau mengajarkan syukur melalui cangkir-cangkir sederhana yang kau cuci, melalui piring yang kau selipkan di rak. Cinta itu tersusun dari hal-hal kecil — senyuman di pagi hujan, sapu yang kau genggam saat daun gugur, dan kata-kata yang kau bisikkan ketika masalah datang mengetuk. Kau ajarkan untuk menghargai tiap nikmat meskipun kecil; karena dari nikmat yang kecil itu tumbuh kebahagiaan besar.

Kini aku tumbuh, mencoba mengumpulkan remah-remah pengalaman di luar rumah. Kadang aku lupa, kadang aku tak menelepon. Namun, di balik jarak itu, aku selalu membawa harum didikmu. Dalam kegundahan, aku ingat nasihatmu: "Jangan lari dari tanggung jawab; hadapi dengan tawadhu'." Itu jadi lentera ketika dunia menuntutku berlari cepat.

Surat ini hendak kubaca kepada angin — semoga sampai ke telingamu, Ibu. Jika engkau lelah, izinkan aku menyeka peluhmu. Jika engkau rindu, ijinkan aku mengulang doa yang pernah kau ajarkan. Engkau adalah masjid kecil di rumah, tempat aku belajar menyatu dengan Yang Kuasa lewat tutur dan teladanmu.

Di ambang senja ini aku berjanji untuk menjaga warisanmu: kelembutan yang tegas, keteguhan yang tidak berisik, dan iman yang selalu menuntun tindakan. Semoga Allah panjangkan umurmu dalam kebaikan dan limpahkan surga sebagai balasan bagi setiap doamu. Aamiin.

3. "Nada-Nada Ibu dalam Setiap Nafas"

Nada ibu bukan melodi yang selalu lantang; ia sering muncul sebagai bisik kecil di pagi buta, sebuah nada yang membuat rumah terasa teduh. Ketika aku bangkit sebelum subuh, kulihat lampu kecil di dapur, tanda bahwa ada tangan yang sibuk menyiapkan sarapan, menata doa, memohon agar hari kami diberkahi. Nada itu mengajarkanku bahwa kebaikan adalah pekerjaan harian, bukan acara besar-besaran.

Ibu mengajarkanku membaca dunia dalam bahasa sederhana. Di balik nasi yang kau suapi, ada pelajaran tentang berbagi. Dalam cara kau menata tempat tidur yang rapi, ada pelajaran tentang tanggung jawab. Segala kebiasaanmu adalah bait-bait puisi yang menuntun langkahku tanpa perlu kau berteriak. Engkau menabur budi pekerti seperti menabur benih—sunyi, sabar, namun pasti tumbuh.

Aku pernah bertanya, "Ibu, mengapa kau selalu mendoakan orang yang menyakiti?" Kau menatapku dan berkata, "Karena luka itu tukang mengeraskan hati; doa adalah penghalus." Sejak itulah, aku belajar memberi kata maaf sebelum mengukur salah orang. Kau mengajarku bahasa kemaafan yang disampaikan dalam doa, bukan dengan bukti-bukti pembuktian.

Ketika aku melangkah jauh, merantau memburu ilmu, suaramu tetap lekat di telingaku: "Ingat adab, ingat asal." Adab adalah pagar yang kau bangun agar aku tidak hilang arah. Di tempat baru, ketika badai kritik menyisirkan kata-kata, aku ingat bagaimana kau merangkulku saat kecil, menyeka tangis dengan tawa kecil, lalu menatap mata anaknya seakan memberi tahu, "Bangkitlah, kau punya cahaya."

Waktu berlalu tapi nadamu tetap sama. Malam-malam kita berbincang sampai rembulan tersenyum. Engkau bercerita tentang masa kecilmu, tentang ibumu, tentang ketabahan yang turun-temurun. Dari cerita-cerita itu aku menangkap bahwa kekuatan tak selalu garang; kekuatan juga halus dan sabar—seperti akar yang menyokong pohon hingga tumbuh tinggi tanpa perlu pamer.

Di hari-hari biasa, aku melihatmu memegang Al-Qur'an dengan penuh hormat. Engkau mengajarkan makna ayat bukan sebagai hafalan semata, melainkan sebagai cahaya yang menerangi tindakan sehari-hari. Shalatmu bukan ritual kosong, melainkan kesempatan untuk mengingat siapa yang memberi semua nikmat. Kau mengikat hidupmu pada syariat sebagai bentuk syukur dan penuntun akhlak.

Jika kelak aku punya anak, aku ingin menularkan nada itu kepadanya— nada lembut yang menuntun tanpa memaksa, doa yang mengalir tanpa henti, dan cinta yang terlihat paling jelas pada tindakan-tindakan kecil. Karena ibu yang baik bukan hanya yang memberi, tetapi yang menyiapkan jiwa untuk memberi kembali kepada dunia.

Di penghujung sajak ini, aku menutup dengan harapan sederhana: semoga setiap langkahmu ringan, semoga doa-doamu menjadi pelindung bagi keluarga, dan semoga pahala dari kesabaranmu mengalir terus hingga engkau bersemayam di taman surga yang paling indah. Engkau adalah nada-nada ibu dalam setiap nafasku, dan aku bersyukur pada Allah karena karunia bernama Ibu.

4. "Pelukan Ibu yang Menumbuhkan Langit"

Setiap anak lahir membawa dunianya sendiri, tetapi aku tumbuh di dalam dunia yang engkau bangun dengan pelukan. Pelukan yang tidak selalu membungkus tubuhku, tetapi membungkus keberanianku. Pelukan yang tak selalu tampak, namun kutemukan dalam cara engkau memandang langkah-langkah kecilku yang dulu gemetar. Ibu, aku tidak pernah benar-benar memahami betapa jauhnya engkau menahan cemas demi membuatku merasa aman.

Ketika aku masih berlari-lari kecil di halaman, engkau tertawa paling keras ketika aku jatuh, bukan karena kau suka melihatku terluka, tapi karena engkau percaya bahwa jatuh adalah bagian dari cara dunia mengajariku berdiri. Engkau menyeka lututku yang berdarah, lalu berkata pelan, “Sakit itu kecil saja, Nak. Yang besar adalah keberanianmu untuk bangkit.” Kata-kata itu melekat seperti mantra, menemani tiap proses dewasa yang selalu menguji ketahanan hati.

Di malam-malam tertentu, ketika aku menangis tersengal karena tidak memahami matematika atau hidup yang mulai terasa rumit, engkau memelukku tanpa banyak kata. Pelukanmu tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan keheningan yang membuatku kembali mampu bernafas. Engkau adalah rumah pada saat dunia tidak memberi ruang bagi kelemahan.

Semakin aku tumbuh, semakin kusadari bahwa engkau menyembunyikan lelahmu di balik senyum yang tak pernah kau pertanyakan nilainya. Aku sering lupa bahwa engkau juga manusia—punya hari-hari rapuh, punya mimpi yang tertunda, punya keinginan sederhana yang tidak sempat kau urus. Namun engkau tetap memilih menjadi sandaran, bahkan ketika pundakmu sendiri membutuhkan tempat bersandar.

Ibu, aku ingin engkau tahu: pelukanmu bukan hanya tempat beristirahat dari duka. Pelukanmu adalah pintu menuju langit—langit harapan, langit sabar, langit iman yang mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling hebat, melainkan menjadi paling bermanfaat. Engkau memelukku sambil mengajarkan tentang doa yang naik diam-diam, tentang tawakal yang tidak dipamerkan, tentang syukur yang tidak menunggu kaya untuk diucapkan.

Pada Hari Ibu ini, aku ingin menulis sesuatu yang lebih besar dari kata “terima kasih”. Karena terima kasih terlalu kecil untuk seluruh pengorbananmu. Jadi izinkan aku menulis ini: aku bersaksi bahwa kasihmu adalah madrasah terbaik dalam hidupku. Dan aku memohon pada Allah agar pelukanmu kelak diganti dengan ketenangan tanpa batas di surga-Nya. Aamiin.

5. "Ibu, Cahaya yang Tak Pernah Padam"

Ada cahaya yang tidak lahir dari listrik, tidak berasal dari matahari, dan tidak pula dari lilin. Cahaya itu berasal darimu, Ibu. Cahaya yang menyembur dari kesabaranmu, dari keteguhanmu, dari cara engkau memperbaiki hari-hari kami dengan kata-kata yang penuh kelembutan. Cahaya itu menuntunku bahkan ketika aku berada jauh dari rumah, di kota yang tak mengenal namaku.

Sejak kecil, engkau mengajariku arti memberi. Memberi bukan karena mampu, tetapi karena hati tergerak. Engkau memberi waktu untuk mendengarkan setiap keluhanku, memberi tenaga untuk membereskan rumah meski tubuhmu lelah, memberi doa tanpa pernah menyebutkan apa yang engkau harapkan kembali. Ketika aku mulai ragu pada diriku sendiri, engkau justru memandangku seolah aku adalah anak yang paling engkau percaya mampu berdiri.

Pernah suatu sore kau berkata: “Tidak apa-apa gagal, Nak. Yang penting kau jujur dalam berusaha.” Kalimat itu sederhana, tetapi menyala dalam dadaku seperti bintang kecil yang mengajarku untuk tidak takut mencoba. Ibu, engkau memaparkan dunia tanpa membuatku takut pada luasnya. Engkau menemani perjalananku bukan sebagai pemandu yang memaksa, tetapi sebagai cahaya yang membuatku melihat arah ketika gelap datang tiba-tiba.

Di setiap sujudmu, aku melihat namaku tersisip dalam doa. Entah bagaimana kau mampu mengingat semua hal tentangku—keinginanku, ketakutanku, mimpi-mimpiku—padahal kau tidak pernah menuliskannya. Seolah hatimu adalah buku besar yang menyimpan setiap halaman hidupku. Aku sering bertanya, bagaimana mungkin satu orang memiliki cinta sebanyak itu? Jawabannya adalah karena engkau seorang ibu, dan ibu diciptakan dengan kapasitas cinta yang tidak habis meski terus dibagi.

Hari Ibu bukan hanya hari perayaan; bagiku, ia adalah hari perenungan. Hari ketika aku menghitung ulang betapa banyak pengorbananmu yang tidak bisa kuukur dengan angka. Dan di tengah renungan itu, aku kembali pada satu permintaan: semoga Allah menjaga cahaya dalam dirimu, karena cahaya itulah yang membuatku mengenali arah hidupku. Ibu, engkau adalah cahaya yang tak akan pernah padam.

6. "Doa yang Tumbuh dari Telapak Tangan Ibu"

Jika doa bisa dilihat bentuknya, mungkin doa-doamu adalah taman luas dengan bunga-bunga sabar yang tumbuh tanpa engkau sadari. Telapak tanganmu yang mungkin tampak kecil bagi dunia, sesungguhnya adalah ladang besar tempat segala kebaikan bermula. Doa-doamu tumbuh seperti angin sejuk yang merambat pelan namun pasti, menenangkan hati yang sedang dilanda badai.

Dari engkau aku belajar bahwa doa bukan soal panjangnya kalimat, melainkan dalamnya keyakinan. Engkau mengajarku berdoa tanpa tergesa, berdoa dengan hati yang lapang, berdoa dengan harapan yang tidak dipaksa. Dalam setiap gerakan tanganmu, aku melihat kerendahan hati yang indah— kerendahan hati yang membuatku paham bahwa manusia tidak pernah benar-benar kuat tanpa pertolongan Tuhan.

Ketika aku masih kecil, aku sering memerhatikan bagaimana engkau mengusap wajahku setelah berdoa. Gerakan itu sederhana, tetapi ada sesuatu yang magis di dalamnya. Seolah engkau menitipkan keberkahan pada kulitku, memberiku perlindungan yang tidak terlihat. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa apa pun yang aku lakukan, aku tidak pernah benar-benar sendirian; selalu ada doa ibu yang mengantar langkahku.

Di usia dewasa, ketika kesulitan semakin rumit, aku semakin memahami bahwa doa ibu bukan sekadar kebiasaan keagamaan. Doa ibu adalah jaring halus yang menjaga agar aku tidak jatuh terlalu keras. Ketika aku merasa dunia terlalu cepat, aku teringat suara lirihmu di pagi hari, memanggil namaku dalam sujud panjang. Suara itu menenangkan bahkan sebelum aku kembali ke rumah.

Ibu, tanganmu telah menumbuhkan ribuan harapan dalam hidupku. Maka di Hari Ibu ini, aku ingin menaruh satu doa untukmu: semoga seluruh doa yang pernah kau panjatkan kembali kepadamu sebagai ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan yang tidak pernah redup. Karena doa terbaik adalah doa yang tumbuh dari tangan seorang ibu.

7. "Ibu, Rumah Tempat Segala Pulang"

Pada akhirnya, setiap manusia mencari tempat pulang. Aku telah berjalan ke banyak arah, menapaki kota dengan lampu-lampu terang, mencoba mengenali dunia dengan versi yang lebih luas. Namun tidak ada satu pun tempat yang membuatku merasa dipahami sepenuhnya selain rumah yang engkau jaga dengan ketulusanmu. Ibu, engkau bukan hanya bagian dari rumah—engkau adalah rumah itu sendiri.

Engkau mengajarkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke bangunan fisik, melainkan kembali ke nilai-nilai yang engkau tanamkan: jujur, rendah hati, tidak menyakiti, dan selalu memilih jalan kebaikan meski kadang harus berjalan lebih jauh. Nilai-nilai itulah yang menjadi alamat dari pulangku.

Ketika persoalan hidup menumpuk, aku sering membayangkan duduk di sampingmu sambil minum teh hangat. Kau tidak perlu menjadi motivator yang lantang, cukup kau mendengarkan, dan dunia terasa lebih sederhana. Itulah kekuatan seorang ibu—menenangkan tanpa banyak bicara.

Hari Ibu adalah pengingat bahwa aku memiliki rumah yang tidak pernah menuntut. Rumah yang menerima aku dengan seluruh kekurangan dan keberhasilanku. Rumah yang memelukku tanpa syarat. Ibu, aku kembali menuliskan janji: selama aku hidup, aku akan menjaga kehormatanmu, menjaga doamu, dan menjaga nilai-nilai rumah yang telah engkau bangun sekuat doa.

8. "Langkah Ibu, Langkah yang Mengalirkan Kebaikan"

Aku sering memikirkan betapa banyak langkah yang telah engkau tempuh demi kami. Langkah kecil menyusuri dapur, langkah besar mengejar pasar, langkah terburu ketika aku sakit, langkah pelan ketika aku jatuh. Setiap langkahmu adalah bagian dari perjalanan kami menjadi manusia yang lebih baik.

Engkau tidak pernah meminta dunia mengerti betapa lelahnya perjalanan itu. Engkau hanya tersenyum ketika kami berhasil, dan menutup rapat kekecewaanmu ketika kami gagal. Itulah ketulusan ibu, ketulusan yang mengalir tanpa syarat.

Di setiap langkahmu, aku belajar tentang apa itu keteguhan. Keteguhan tidak harus keras, tidak harus lantang. Keteguhan bisa muncul dalam bentuk konsistensi sederhana: bangun pagi, memasak, bekerja, memperbaiki yang rusak, menenangkan yang gelisah, dan mendoakan yang jauh. Keteguhanmu membentuk karakter kami tanpa kami sadari.

Ibu, dalam langkahmu aku mengenali arah. Semoga Allah memudahkan langkahmu hingga akhirnya engkau digiring menuju surga-Nya yang paling indah.

9. "Ibu, Nafas Kebaikan dalam Hidupku"

Sejak kecil, aku percaya bahwa kebaikan memiliki suara. Suara itu lembut, hampir tidak terdengar, tetapi terasa. Dan suara itu—aku sadar—berasal darimu, Ibu. Suaramu mengajariku membedakan mana yang memberi manfaat, mana yang membawa mudarat. Engkau mengajarkan bahwa hidup bukan hanya dihitung dari pencapaian, tetapi dari seberapa banyak kebaikan yang bisa kita tinggalkan.

Engkau pernah berkata, “Menjadi baik tidak perlu diumumkan, cukup dilakukan.” Dan aku melihat bagaimana engkau melakukannya setiap hari. Engkau menolong orang lain tanpa berharap dipuji. Engkau meminta maaf meski bukan engkau yang salah. Engkau memberi bahkan ketika engkau sendiri berkekurangan. Kebaikanmu seperti nafas: terus mengalir tanpa terputus.

Hari Ibu ini menjadi pengingat bahwa aku ingin meneladanimu sebaik mungkin. Semoga aku dapat menjadi manusia yang tidak hanya bangga dengan pencapaian, tetapi dengan manfaat yang bisa kuberikan seperti yang engkau contohkan.

10. "Bintang-bintang yang Kau Pasang di Langit Hidupku"

Ibu, aku sering mengira kehidupan ini gelap. Namun setiap kali aku melihat kembali perjalanan yang telah kita lalui, aku sadar bahwa engkaulah yang memasang bintang-bintang kecil di langit hidupku. Bintang berupa nasihatmu, berupa doa-doamu, berupa kesabaran dalam mendidikku. Engkau membuat gelap itu tidak pernah benar-benar gelap.

Kau mengajariku melihat cahaya di tempat yang tidak terlihat: dalam gagal, dalam jatuh, dalam kecewa. Engkau mengajarkan bahwa kesedihan adalah bagian dari proses, bukan tujuan. Dan dalam setiap pengajaran itu, aku melihat dirimu menahan cemas demi membuatku kuat.

Di Hari Ibu ini, aku mengakui bahwa hidupku penuh cahaya karena engkau. Semoga Allah memasang cahaya yang lebih indah untukmu kelak, cahaya yang tidak redup, tidak perih, tidak padam. Cahaya surga. Aamiin.

Lebih baru Lebih lama