Pulihkan Paru-Paru Dunia: Refleksi Hari Menanam Pohon, Aksi Nyata Selamatkan Bumi

JAKARTA. Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) setiap 28 November seharusnya menjadi momentum krusial untuk aksi nyata, bukan sekadar seremoni tahunan. Indonesia, yang dulu dikenal sebagai paru-paru dunia, kini menghadapi ancaman serius dengan 12,7 juta hektare lahan kritis yang mendesak untuk dipulihkan.

HMPI: Refleksi dan Aksi Nyata Selamatkan Bumi

Tema HMPI tahun ini, "Hijaukan Negeri, Pulihkan Bumi," menjadi pengingat betapa gentingnya menjaga keseimbangan alam. Kementerian Kehutanan RI memimpin gerakan penanaman pohon serentak di seluruh Indonesia, namun pertanyaannya adalah, apakah upaya ini benar-benar menanam harapan, atau sekadar menunda krisis?

“Indonesia yang dulu disebut paru-paru dunia, kini menghadapi kenyataan pahit: 12,7 juta hektare lahan kritis menunggu untuk dipulihkan. Hari Menanam Pohon Indonesia hadir setiap tahun, tetapi terlalu sering berhenti pada seremoni tanpa tindak lanjut nyata. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar menanam harapan untuk generasi mendatang, atau sekadar menanam krisis yang akan diwariskan?”

Lahan Kritis Ancam Kehidupan

Data Kementerian Kehutanan (2025) menunjukkan bahwa 12,7 juta hektare dari 120,5 juta hektare kawasan hutan di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Deforestasi, alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan eksploitasi tambang menjadi penyebab utama. Bencana banjir dan longsor yang kerap terjadi, seperti yang melanda Sumatera Utara dan Aceh pada akhir 2025, adalah konsekuensi nyata dari kerusakan lingkungan.

Target Ambisius dan Tantangan Nyata

Pemerintah Indonesia menargetkan rehabilitasi 12 juta hektare lahan kritis sebagai bagian dari komitmen Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030. Target ini bertujuan menjadikan sektor kehutanan sebagai penyerap emisi bersih pada tahun 2030. Namun, ambisi ini terancam gagal jika HMPI hanya menjadi ritual tanpa implementasi yang berkelanjutan.

Pohon: Lebih dari Sekadar Tanaman

Fungsi Ekologis, Sosial-Ekonomi, dan Budaya

Pohon memiliki fungsi vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga siklus air, dan mencegah erosi. Selain itu, pohon juga menjadi sumber ekonomi melalui hasil hutan, buah-buahan, dan potensi ekowisata. Dalam tradisi Nusantara, pohon memiliki nilai budaya dan spiritual yang mendalam.

Tantangan dalam Penanaman Pohon

* Degradasi Lahan: Kerusakan lahan akibat alih fungsi hutan dan kebakaran hutan memperparah bencana hidrometeorologi.

* Partisipasi Masyarakat: Kesadaran masyarakat masih rendah, dan konflik kepentingan sering menghambat upaya konservasi.

* Keberlanjutan Perawatan: Penanaman massal sering gagal karena kurangnya perawatan pasca tanam.

* Kebijakan dan Koordinasi: Koordinasi antar lembaga yang lemah menghambat efektivitas program rehabilitasi.

Strategi dan Solusi: Menanam dengan Tepat dan Terencana

Pemilihan Jenis Pohon yang Tepat

Rehabilitasi lahan kritis harus disesuaikan dengan karakteristik unik setiap daerah. Pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim sangat penting untuk keberhasilan penanaman. Contohnya, di Jawa Barat, jenis pohon seperti puspa, damar, dan rasamala cocok untuk menahan longsor dan menjaga sumber air.

Teknik Penanaman dan Perawatan Pasca Tanam

Penanaman harus dilakukan dengan persiapan lahan yang baik, termasuk pembuatan lubang tanam yang sesuai, pemberian pupuk organik, dan penanaman di musim hujan. Perawatan pasca tanam meliputi penyiraman rutin, pemupukan tambahan, penyiangan gulma, dan pengendalian hama.

Kolaborasi Multi Pihak dan Insentif Ekonomi Hijau

Keberhasilan penanaman pohon membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Skema kredit karbon dan insentif ekonomi hijau dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga pohon.

“Ketika melihat berita tentang banjir bandang di Sumatera Utara dan longsor di Aceh, semakin yakin bahwa menanam pohon adalah tindakan pencegahan paling sederhana namun paling efektif. Pohon bukan hanya memberi oksigen, tetapi juga menahan tanah, menyerap air, dan melindungi manusia dari bencana. Menanam pohon berarti menanam perlindungan.”

Menanam Harapan, Menuai Masa Depan

Hari Menanam Pohon Indonesia harus menjadi ajakan moral untuk berinvestasi pada generasi mendatang. Pohon yang kita tanam hari ini akan memberikan oksigen, air, dan kehidupan bagi anak cucu kita. Mari wujudkan Indonesia hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Penutup

HMPI tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi gerakan berkelanjutan. Setiap pohon yang ditanam adalah benteng harapan untuk melawan banjir dan longsor. Dengan pohon, kita menanam harapan sekaligus perlindungan.

Oleh Sudarsono dan Sri Wilarso\*

\) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc adalah Koordinator Bidang (Korbid) Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII)*

\) Prof. Dr. Ir. Sri Wilarso Budi R, MS, adalah Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII)*

Lebih baru Lebih lama