Minggu pagi pukul 06.00, udara Sampit masih lembut dan menenangkan. Namun puluhan warga jamaah Masjid Al-Barokah sudah berkumpul dengan wajah penuh semangat. Tidak ada yang datang karena kewajiban—mereka datang untuk beramal sholih, dengan hati ringan dan langkah mantap.
Hari itu mereka bersiap untuk melakukan gotong royong merawat kebun sawit seluas 6 hektar yang baru-baru ini dibeli masjid. Kebun ini adalah bagian dari program kemandirian masjid, sebuah ikhtiar agar operasional masjid tidak selalu bergantung pada donasi jamaah.
Meski hasil panen belum maksimal, pemeliharaan terus dilakukan. “Harapannya dalam satu tahun ke depan sudah ada perubahan, mengingat selama ini pemilik lama tidak pernah melakukan pemupukan,” ujar Surono, penanggung jawab kebun, sambil menatap hamparan pohon sawit yang menjanjikan masa depan cerah.
Perjalanan Menuju Kebun Sawit
Kebun itu terletak di kawasan Desa Kandan, sekitar 30 km dari Sampit. Medannya tidak mudah—tanah gambut menuntut perawatan ekstra dan tenaga yang tidak sedikit. Namun tujuh unit mobil berisi jamaah bergerak bersama menuju lokasi dengan tawa ringan menghiasi perjalanan.
“Semoga kebun sawit ini membawa barokah untuk jamaah,” ucap Priyo dalam doa singkat sebelum pekerjaan dimulai. Kalimat sederhana itu rasanya cukup untuk menguatkan semua hati yang hadir.
Pagi yang Dimulai dengan Jembatan
Kegiatan pagi itu dibuka dengan pemasangan jembatan penghubung menuju kebun. Sebuah jembatan sepanjang 6 meter yang sebelumnya dibuat di Sampit, kini dirakit dan diletakkan di atas parit gambut.
“Alhamdulillah, jembatan terpasang dengan baik,” ujar salah satu peserta dengan mata berbinar. Momen sederhana, namun terasa seperti pencapaian besar.
Mengangkat 20 Karung Pupuk & Semangat yang Tak Kalah Berat
Setelah jembatan terpasang, pekerjaan pun dimulai. Sebanyak 20 karung pupuk, masing-masing berbobot 50 kg, diangkut satu per satu melalui jembatan. Ada yang mendorong angkong, ada pula anak-anak muda yang nekat memanggul langsung karung pupuk itu.
Di balik peluh yang jatuh, ada tawa dan candaan yang membuat suasana jauh dari kata berat. Mereka berbagi tugas: ada yang memupuk, ada yang menyemprot racun, ada yang membersihkan belukar.
Sementara itu, tim konsumsi menyiapkan minuman dan jajanan—penguat energi sederhana namun terasa seperti oase.
Lelah? Iya. Namun Bahagia.
Matahari merangkak naik, menyengat tanpa kompromi. Wajah jamaah mulai tampak letih. Namun raut bahagia tetap terlihat jelas. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli: kebersamaan.
Menjelang waktu dzuhur, para peserta berkemas. Badan lelah, pakaian kotor, namun hati terasa penuh. Setiap langkah menuju mobil seperti membawa pulang secuil pahala dan secuil kebahagiaan.
Ternyata benar—kadang yang membuat kita bahagia bukanlah hal besar, melainkan kebersamaan untuk melakukan kebaikan… meski melelahkan.




