Pesantren Hijau: Lahirnya Generasi Peduli Bumi dari Ecopesantren

*

[JAKARTA] Di tengah ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata, pesantren kini bertransformasi menjadi garda depan gerakan ekologis melalui konsep Ecopesantren, sebuah inisiatif yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pelestarian alam.

“Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata—banjir, sampah plastik, hingga udara yang semakin sesak—kita sering bertanya: siapa yang akan memulai perubahan? Jawabannya bisa datang dari tempat yang tak terduga: pesantren. Lembaga pendidikan Islam ini berpotensi mampu melahirkan generasi hijau yang peduli pada bumi. Eopesantren hadir sebagai bukti bahwa menjaga alam bisa dimulai dari halaman pesantren.”

Ecopesantren: Mengurai Konsep Pendidikan Berkelanjutan

Ecopesantren bukan sekadar tren, melainkan sebuah gerakan yang menyelaraskan ajaran Islam dengan tanggung jawab menjaga alam. Konsep ini menekankan bahwa manusia memiliki peran penting dalam merawat dan melindungi ciptaan Allah SWT.

Implementasinya beragam, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, pengembangan pertanian organik, hingga pemanfaatan energi terbarukan. Lebih dari sekadar praktik teknis, Ecopesantren menanamkan kesadaran ekologis dalam setiap aspek kehidupan santri.

Inspirasi dari Lapangan: Kisah Sukses Ecopesantren di Indonesia

Berbagai pesantren telah mengadopsi konsep ini dengan sukses. Pondok Pesantren Gadingmangu (Jombang) bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan UGM memberdayakan santri dalam pengelolaan lingkungan. Sementara itu, Ponpes Wali Barokah Kediri mendapatkan apresiasi sebagai teladan Ecopesantren di Jawa Timur.

Pondok Pesantren Al-Muhajirin (Purwakarta) menerapkan sistem bank sampah yang dikelola santri, menanamkan disiplin dan tanggung jawab ekologis. Pondok Pesantren Daarul Ulum (Bogor) mengembangkan kebun organik sebagai bagian dari kurikulum, sementara Pondok Pesantren Darul Fallah (Ciampea) memanfaatkan energi biogas dari kotoran ternak.

Sinergi Pemerintah dan Pesantren: Jawa Timur sebagai Pelopor

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) mendukung penuh gerakan Ecopesantren melalui program Eco-Pesantren Jawa Timur dan Eko-Tren OPOP (One Pesantren One Product). Inisiatif ini menegaskan peran pesantren sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

Pemprov Jatim mendorong pesantren untuk menjadi teladan dalam penghijauan, pengelolaan sampah, dan energi terbarukan. Program Eko-Tren OPOP juga membuka peluang ekonomi hijau berbasis pesantren, menciptakan produk ramah lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menghadapi Tantangan, Meraih Peluang

Implementasi Ecopesantren tidak lepas dari berbagai tantangan, termasuk keterbatasan dana, kurangnya pengetahuan teknis, dan resistensi budaya. Namun, tantangan ini justru membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan NGO.

"Dengan dukungan yang tepat, pesantren dapat mengatasi kendala dan menjadikan ecopesantren sebagai gerakan berkelanjutan yang memberi dampak luas bagi masyarakat."

Urgensi Ecopesantren untuk Indonesia

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan pesantren sebagai pusat gerakan lingkungan. Ecopesantren menghubungkan agama dan ekologi, mengajarkan santri bahwa menjaga bumi adalah amanah dan bagian dari ibadah.

Ecopesantren relevan dengan tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Pesantren, dengan jaringan sosialnya yang kuat, dapat menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat sekitar. Gerakan ini juga menyiapkan generasi hijau yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Harapan dan Ajakan untuk Bertindak

Gerakan Ecopesantren membutuhkan dukungan luas dari berbagai pihak. Pemerintah perlu menjadikan Ecopesantren sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi krisis lingkungan. Akademisi dan NGO dapat menjadi mitra strategis dalam memberikan pelatihan teknis dan pendampingan. Masyarakat sekitar juga perlu terlibat aktif dalam mendukung program-program Ecopesantren.

"Menjaga bumi bukan sekadar pilihan, melainkan amanah. Dari halaman pesantren, kita belajar bahwa ibadah tidak hanya dilakukan di masjid atau ruang kelas, tetapi juga ketika kita menanam pohon, mengurangi sampah, dan merawat alam. Inilah jalan hijau yang bisa menjadi gerakan nasional: ecopesantren sebagai ibadah kolektif bangsa."

Ecopesantren selaras dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), termasuk pendidikan berkualitas (SDG 4), konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), dan penanganan perubahan iklim (SDG 13). Dari pesantren, berpotensi lahir kontribusi nyata bagi bumi dan masa depan umat manusia.

*) Prof. Ir. H. Sudarsono, M.Sc., adalah Koordinator Bidang (Korbid), Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL).

Atus Syahbudin, P.hD, adalah Anggota, Departemen Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII)

The post [https://www.ldii.or.id/ecopesantren-dari-pesantren-ke-revolusi-ekologis/](https://www.ldii.or.id/ecopesantren-dari-pesantren-ke-revolusi-ekologis/) appeared first on [https://www.ldii.or.id](https://www.ldii.or.id).

Lebih baru Lebih lama