Sewot Tak Dipanggil Haji Sepulang dari Baitullah


Musim haji kembali tiba, membawa aroma kesucian dan keharuman bagi para peziarah yang baru saja menunaikan ibadah haji. Di tengah kebahagiaan dan rasa syukur yang mereka rasakan, muncul pula fenomena menarik yang tak jarang terjadi: sewot tak dipanggil haji.

Si Fulan, misalnya, baru saja pulang dari Baitullah dengan hati yang berbunga-bunga. Ia telah menunaikan rukun Islam ke-5 dan menyandang gelar haji yang mulia. Namun, kebahagiaannya sedikit tercoreng saat temannya, si Budi, memanggilnya tanpa embel-embel haji. "Fulan, sini sebentar!" seru Budi.

Fulan mengerutkan kening. "Kenapa kamu panggil saya begitu? Saya kan sudah haji?" tanyanya dengan nada kesal.

Budi terheran-heran. "Lho, emangnya kenapa? Kan biasanya begitu kalau baru pulang haji?"

"Ya, tapi kan sekarang saya sudah haji. Panggil saya Haji Fulan dong!" tegas Fulan.

Budi terdiam sejenak, merasa bingung dengan perubahan sikap Fulan. Ia tak habis pikir mengapa Fulan begitu sewot hanya karena dipanggil tanpa embel-embel haji.


Fenomena sewot tak dipanggil haji ini memang tak jarang terjadi. Banyak orang yang baru pulang haji merasa berhak mendapatkan pengakuan dan penghormatan khusus atas ibadah mereka. Gelar haji bagi mereka tak hanya simbol kesucian, tapi juga penanda status sosial yang baru.

Namun, perlu diingat bahwa ibadah haji adalah ibadah personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Gelar haji hanyalah konsekuensi dari ibadah tersebut, bukan hak yang harus dituntut. Sikap sewot dan sombong karena dipanggil tanpa embel-embel haji justru menunjukkan kesalahpahaman tentang makna haji yang sebenarnya.

Haji bukan tentang pengakuan dan penghormatan dari manusia, tapi tentang kedekatan dengan Allah SWT. Orang yang benar-benar memahami makna haji tak akan mudah tersinggung oleh hal-hal sepele seperti panggilan tanpa embel-embel haji. Mereka akan fokus pada hikmah dan perubahan diri yang mereka dapatkan setelah menunaikan ibadah haji.

Sebagai teman, kita perlu memahami fenomena ini dengan bijak. Jika ada teman yang baru pulang haji dan merasa sewot tak dipanggil haji, sebaiknya kita jelaskan dengan sopan tentang makna haji yang sebenarnya. Ingatkan mereka bahwa ibadah haji adalah ibadah personal dan gelar haji hanyalah konsekuensi dari ibadah tersebut.

Lebih penting lagi, marilah kita jadikan momen musim haji ini sebagai pengingat bagi diri sendiri untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Semoga kita semua dapat meraih haji mabrur, haji yang diterima Allah SWT dan membawa perubahan positif dalam hidup kita. 

Post a Comment

Previous Post Next Post