Mengingat Allah SWT di Mana Saja: Menemukan Kedamaian Melalui Dzikir

Mengingat Allah SWT di Mana Saja: Menemukan Kedamaian Melalui Dzikir


Sebagai hamba Allah SWT, kita diamanahkan untuk selalu mengingat dan menyebut nama-Nya. Dzikir, sebuah amalan sederhana yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. 

Dzikir tidak mengenal ruang dan waktu. Di manapun kita berada, kita dapat senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Di tengah kesibukan bekerja, di kala senggang di rumah, bahkan saat terjaga di malam hari, dzikir dapat menjadi teman setia yang menemani langkah kita.

Ada banyak cara untuk berdzikir. Kita dapat membaca lafaz-lafaz dzikir yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadist, seperti tahmid (mengucapkan "Alhamdulillah"), tasbih (mengucapkan "Subhanallah"), dan tahlil (mengucapkan "La ilaha illallah"). 

Kita juga dapat berdzikir dengan mengingat nama-nama indah Allah SWT (Asmaul Husna) atau dengan merenungkan kebesaran dan keagungan-Nya. Bahkan, setiap perbuatan baik yang kita lakukan, seperti menolong sesama, tersenyum, dan bersyukur, juga merupakan bentuk dzikir kepada Allah SWT.

Dzikir memiliki banyak manfaat bagi kehidupan kita. Ketika kita berdzikir, hati kita akan menjadi tenang dan damai. Rasa cemas, stres, dan depresi pun akan perlahan menjauh. Dzikir juga dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. 

Lebih dari itu, dzikir dapat membuka pintu rezeki dan kebahagiaan bagi kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu kufur kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152).

Jadikan momen ini sebagai pengingat untuk lebih rajin berdzikir kepada Allah SWT. Di manapun kita berada, di saat apapun, marilah kita senantiasa menyebut nama-Nya dan memohon rahmat serta karunia-Nya. Dengan demikian, hati kita akan selalu tenang dan damai, dan hidup kita akan senantiasa berkah dan bahagia.


Simak dalil-dalil berikut :


قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ، يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كثيرا

Allah berfirman: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)


وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًاعَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat-Nya, dan banyak-banyaklah mengucapkan tasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)


 وَاذْكُر رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” QS Al A'raf : 205


وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ، وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ )) .

Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


وَقَالَ : «أَلَا أُنبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ، فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ، وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى .

Rasulullah ﷺ  bersabda: “Apakah aku tidak memberitahukan kepada kalian tentang amalan-amalan terbaik kalian, yang paling suci di sisi Raja kalian, yang paling tinggi derajatnya di sisi Raja kalian, dan lebih baik bagimu daripada mengeluarkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuh-musuhmu lalu kamu memotong leher mereka atau mereka memotong lehermu?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi)


وَقَالَ : يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنَّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً» 

“Allah berfirman: 'Aku berada pada persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersama dia ketika dia menyebut-Ku. Jika dia menyebut-Ku dalam hatinya, Aku pun menyebutnya dalam hati-Ku. Jika dia menyebut-Ku di antara sekelompok orang, Aku pun menyebutnya di antara sekelompok orang yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” HR Bukhari.


وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّتُ بِهِ. قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

dari Abdullah bin Busr, sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, peraturan dalam Islam telah menjadi banyak bagi kami. Beritahukanlah sesuatu yang dapat saya pegang teguh.” Rasulullah ﷺ menjawab: “Teruslah menyebut nama Allah, agar lidahmu tetap basah dengan zikir-Nya.” HR Tirmidzi.


وَقَالَ : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ؛ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: الَم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ 


وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَةِ، فَقَالَ: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ، أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَا وَيْنِ، فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطِيعَةِ رَحِمٍ ؟ فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: «أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ ؛ خَيْرٌ لَهُ  مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ 

dari Uqbah bin Amir. Ia berkata: “Rasulullah ﷺ keluar dan aku berada di Suffah , beliau bertanya, 'Siapa di antara kalian yang ingin pergi setiap hari ke Buthan atau Al-‘Aqiq, lalu membawa dua ekor unta sebagaimana dua unta yang berwarna merah, tanpa dosa dan tanpa memutus hubungan silaturahmi?’ Kami menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.’ Beliau bersabda, ‘Tidakkah salah seorang dari kalian pergi ke masjid untuk belajar atau membaca dua ayat dari Kitab Allah? Itu lebih baik baginya daripada dua unta, tiga lebih baik baginya daripada tiga, dan empat lebih baik baginya daripada empat, dan semuanya sebanding dengan jumlah unta yang dihitung.’” HR Muslim.


وَقَالَ  : مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ؛ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجِعًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ؛ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةٌ . 

bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa duduk di suatu tempat tanpa menyebut nama Allah, maka akan ada kerugian baginya. Dan barangsiapa berbaring tanpa menyebut nama Allah, maka juga akan ada kerugian baginya.” HR Abu Dawud


وَقَالَ ﷺ  : مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ؛ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ» .

“Maka tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis, lalu mereka tidak menyebut Allah di dalamnya dan tidak mendoakan Nabi mereka, melainkan akan ada penyesalan bagi mereka di Hari Kiamat. Jika Allah berkehendak, Dia akan mengazab mereka, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.” HR Timidzi


وَقَالَ  : «مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ؛ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارِ ، وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً» .

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada suatu kaum yang duduk dalam suatu majelis, kemudian mereka tidak menyebut nama Allah di dalamnya, melainkan mereka berdiri dari majelis itu sebagaimana berdirinya seekor keledai yang menggembala di atas kotoran dan kotoran itu menempel pada kakinya.” HR Abu Dawud

Post a Comment

Previous Post Next Post