Di Bawah Langit Mekkah: Bisikan Setan di Balik Amal Saleh

Hajj


Di tanah suci Mekkah, di bawah langit yang diberkahi, kisah pilu seorang jemaah haji terukir. Ia, dengan penuh semangat, menceritakan amalnya kepada rekannya, bagai ingin menunjukkan kesalehannya.

"Lihatlah saya," ujarnya dengan nada bangga, "Setiap hari saya ke masjidil haram, beribadah dengan khusyuk. Saya datang ke sini untuk beribadah, bukan untuk bermalas-malasan!"

Kata-katanya bagai pedang yang melukai hati, membandingkan dirinya dengan teman sekamarnya yang memilih untuk beristirahat di kamar. Tanpa sadar, ia terjerumus dalam perangkap setan, tergoda untuk pamer dan membanggakan amal salehnya.

Di Mekkah, di mana doa dan amal saleh bergema, setan tak henti-hentinya membisikkan tipu daya. Ia menggoda manusia untuk terlena dalam kesombongan, menjerumuskan mereka ke dalam riya' dan sum'ah, penyakit hati yang merenggut pahala.

Riya', bagaikan racun yang menggerogoti keikhlasan. Ia mendorong manusia untuk beramal demi pujian dan pengakuan, bukan semata-mata karena Allah. Sum'ah, di sisi lain, adalah penyakit hati yang membuat manusia merasa superior atas orang lain, menganggap amalnya lebih baik dan lebih bernilai.

Kisah jemaah haji ini menjadi pengingat bagi kita semua. Di balik amal saleh, hati manusia selalu berisiko terjerumus dalam godaan. Kita harus senantiasa waspada, menjaga keikhlasan dan ketulusan dalam beramal, agar pahala yang kita cari tidak terkikis oleh riya' dan sum'ah.


Pengingat Untuk Menyelamatkan

Jemaah haji yang bercerita tadi, tersentak mendengar nasihat lembut dari temannya. Sang teman, dengan bijaksana berkata, "Saudaraku, amal saleh adalah perhiasan hati. Jika kita memamerkannya, perhiasan itu akan kehilangan cahayanya. Mari kita sama-sama fokus pada ibadah, menjaga diri dari bisikan setan, dan berharap Allah menerima semua amal kita."

Kalimat itu bagaikan air jernih yang menyiram jiwa jemaah yang tadi bercerita. Ia tersadar akan kesalahannya. Ia meminta maaf kepada temannya dan berjanji untuk memperbaiki niatnya. Sejak saat itu, mereka berdua menjalankan ibadah dengan khusyuk dan keikhlasan. Mereka tidak lagi sibuk membandingkan diri atau menceritakan amalnya pada orang lain.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa:

  • Keikhlasan adalah kunci. Niat yang lurus, ditujukan semata-mata untuk Allah, adalah hal yang paling penting dalam beribadah.
  • Hindari membandingkan diri. Setiap orang memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda. Fokuslah pada diri sendiri dan teruslah beribadah dengan sebaik-baiknya.
  • Waspada terhadap bisikan setan. Setan selalu berusaha menggoda manusia agar terjerumus dalam kesombongan dan riya'.
  • Introspeksi diri adalah penting. Biasakan untuk merenungkan amalan kita, apakah niatnya sudah benar, apakah kita sudah terjebak dalam pamer.
  • Saling mengingatkan. Muslim yang baik adalah Muslim yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Tegurlah teman yang terlena dalam riya' dengan cara yang lembut dan bijaksana.

Mekkah adalah tempat suci, tempat untuk meraih ridho Allah. Mari kita jaga kekhidmatan ibadah kita di sana, jauhkan diri dari riya' dan sum'ah, agar kepulangan kita ke tanah air membawa berkah dan pahala yang berlimpah.

Post a Comment

Previous Post Next Post