Contoh Ceramah Idul Adha 2022

Ceramah Idul Adha 2022


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Setiap kali merayakan iedul-adha, kita tidak akan terlepas dari sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimas-salam.

Bapak dan anak ini menjadi suri teladan bagi kita semua dalam banyak hal: dalam ketaatan dan kepasrahan diri kepada Allah SWT, dalam kesabaran dan keikhlasan beribadah, serta dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Nabi Ibrahim AS adalah seorang ayah sekaligus seorang hamba Allah yang hanif, berhati lembut, lagi penyantun. Beliau seorang Nabi dengan keteladan bagi generasi-generasi selanjutnya. Sedangkan sang anak, Nabi Ismail AS, adalah seorang anak yang sabar dan berbakti kepada kedua orang tuanya; dan tentunya juga taat kepada Allah SWT.


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Nabi Ibrahim AS menikah dengan Ibu Sarah sudah cukup lama, bertahun-tahun, namun belum dikaruniai seorang anak pun. Beliau telah lama mengidamkan hadirnya seorang anak. Kemudian oleh Sarah, Nabi Ibrahim dipersilakan untuk menikah lagi dengan Ibu Hajar yang tak lain adalah pembantu bagi keluarga Ibrahim. Dan akhirnya beliau mendapatkan seorang anak hasil pernikahannya dengan Hajar dan diberi nama Ismail. Beliau merasa senang dan tenang bersama sang buah hati. Beliau melihat Ismail menikmati masa kanak-kanaknya dan menemani kehidupannya dengan tentram dan damai. Tetapi kemudian, Ibrahim bermimpi dalam tidurnya, bahwa beliau menyembelih anak satu-satunya itu. Ibrahim pun menyadari bahwa itu adalah perintah dari Allah SWT.


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Kita bisa membayangkan betapa Nabi Ibrahim tengah diuji oleh Allah SWT. Anak satu- satunya yang telah lama beliau nantikan kehadirannya hingga usia beliau hampir 100 tahun, pada akhirnya harus dikorbankan atas perintah Allah dengan cara disembelihnya sendiri.

Bagaimanakah sikap Nabi Ibrahim menghadapi perintah tersebut? Nabi Ibrahim adalah seorang rasul. Maka beliau tidak ragu-ragu dalam memahami dan menerima perintah tersebut. Tidak ada kekacauan dalam pikiran beliau sehingga beliau tidak melakukan protes atau mencoba bertanya kepada Allah untuk meminta klarifikasi. Misalnya dengan bertanya:

 ”Kenapa ya Allah, harus saya sembelih anak tunggal saya ini?” Tidak ada pertanyaan- pertanyaan seperti itu. Yang ada pada Nabi Ibrahim adalah penerimaan total, keridhoan yang mendalam, ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Itulah sebabnya Nabi Ibahim AS mendapat berbagai macam gelar seperti: ulul ‘azmi (orang yang sangat sabar), khalilullah (kekasih Allah), hanifan muslima (orang yang hanif, yang pasrah berserah diri kepada Allah SWT).


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Kisah bagaimana Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah SWT bisa kita simak sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surah Ash-Shaffat, ayat 102:


قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ

 Artinya: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”.

 

Ayat tersebut merupakan perintah dari Allah SWT agar Nabi Ibrahim menyembelih Ismail yang belum cukup dewasa atau masih anak-anak karena baru berusia kurang dari 14 tahun. Maka Nabi Ibrahim sebagai orang tua bertanya kepada Ismail bagaimana pendapatnya tentang perintah tersebut sebagaimana dikisahkan dalam bagian ayat berikutnya:


فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

 Artinya: “Coba pikirkan, apa pendapatmu tentang perintah itu”.

Pertanyaan Nabi Ibrahim kepada Ismail ini sebenarnya mengandung pelajaran berharga bahwa seorang ayah atau orang tua tidak ada jeleknya, bahkan sangat bagus, memberikan hak mengemukakan pendapat bagi anak-anaknya berkaitan dengan masa depan mereka. Apalagi menyangkut soal hidup dan mati. Dengan kata lain, ini sesungguhnya pelajaran tentang musyawarah di mana dialog untuk mencapai persepsi yang sama diperlukan untuk meraih tujuan baik yang akan dicapai bersama. Dengan cara seperti ini tentu keikhlasan untuk menerima sebuah keputusan bisa dicapai dengan baik secara bersama pula. Maka tidak mengherankan ketika memberikan jawaban kepada Ibrahim, Ismail menjawab dengan jawaban yang sangat bagus, penuh kesabaran dan keikhlasan sebagai berikut:


قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Artinya: "Wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada ayah; insya Allah ayah akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar".


Jamaah iedul-adha yang kami hormati. Dengan ketaatan kepada Allah SWT yang luar biasa sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail, maka Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim sebagaimana termaktub dalam Surat As-Shaffat, ayat 104 -105 sebagai berikut:


وَنَـٰدَيْنَـٰهُ أَن يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ

قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ 

Artinya: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu; sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah hanya menghendaki ketundukan dan penyerahan diri Nabi Ibrahim AS, sehingga tiada lagi tersisa dalam diri beliau kecuali ketaatan kepada Allah. Nabi Ibrahim meyakini tidak ada perintah yang lebih berharga dan lebih tinggi daripada perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan segalanya, termasuk yang paling berharga, yakni Ismail, dengan pengorbanan yang penuh keridhoan, ketenangan, kedamaian, dan keyakinan akan kebenaran. Maka, Allah kemudian menebus Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang besar.


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Dengan peristiwa ini, kemudian dimulailah sunnah berkurban pada shalat Idul Adha hingga sekarang. Disembelihnya hewan-hewan kurban menjadi pengingat kita atas kejadian besar tersebut. Peristiwa itu akan terus menyibak tabiat keimanan yang kita genggam supaya kita lebih paham mengenai bagaimana kita berserah diri seutuhnya kepada Allah SWT; bagaimana kita taat kepada Allah dengan ketaatan yang penuh keridhoan.

Semua itu agar kita makin mengerti, bahwa Allah tidak hendak menghinakan manusia dengan cobaan. Cobaan atau ujian dari Allah bukan untuk menghinakan. Justeru adalah

 

sebagai sarana untuk kemuliaan, dengan syarat kita sabar menghadapinya. Allah menghendaki agar kita bersegera memenuhi panggilan tugas dan kewajiban secara total. Namun demikian, Allah mengingatkan kita dalam Surat Al Hajj ayat 37:

َلَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Meskipun kurban berupa pemotongan hewan ternak kita lakukan hanya sekali dalam setahun yaitu pada hari iedul-adha dan tiga hari setelahnya, namun semangat kurban harus kita miliki sepanjang tahun. Karena cobaan dari Allah pun bisa datang sewaktu-waktu dalam sepanjang tahun.

Pada intinya semangat kurban adalah kesanggupan untuk keluar dari zona nyaman dalam rangka lebih mendekat kepada Allah. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang sedang asyik-asyiknya bermain dengan anaknya, yang telah diidamkannya selama bertahun-tahun, tiba-tiba Allah menyuruhnya untuk mengurbankan si anak tersebut. Tentunya sangat berat hal ini untuk dilakukan kalau tidak didasari ketakwaan yang tinggi.

Ketika kita sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, sekitar pukul tiga dinihari, ada kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan dan anugrah dari Allah SWT dengan cara kita hempaskan hangatnya selimut, kita tinggalkan empuknya alas tidur, dan kita lawan rasa kantuk dan udara dinginnya malam untuk berdoa dan atau shalat tahajud. Itu tidak gampang untuk dilakukan kalau kita tidak memiliki semangat berkurban. Alangkah ruginya kalau kita tidak pernah memanfaatkan waktu sepertiga malam yang akhir untuk berdoa kepada Allah SWT, satu-satunya pemilik dan pengelola jagat raya ini.

Mari kita renungkan: ibarat kita sedang kepepet memerlukan dana untuk keperluan yang sangat mendesak. Sementara kita sendiri sedang tidak punya uang; kita sudah berusaha cari pinjaman, tidak ada yang bersedia memberikan pinjaman. Tahu-tahu ada relasi kita yang menawarkan kepada kita, bukan menawarkan pinjaman, tapi mau memberi kepada kita

 dana yang cukup untuk menutup keperluan kita yang sangat mendesak tadi. Ini ‘kan

kesempatan emas untuk dimanfaatkan.

Relasi kita yang baik hati tadi malah mengatakan bahwa dananya mau dia antarkan sendiri ke rumah kita, jadi kita tidak usah repot-repot menjemput dana tersebut.

Dan sekarang, sekarang ini, relasi kita itu sudah berada di depan pintu rumah kita dengan membawa dana yang kita perlukan.

Pada kondisi seperti itu, pantaskah kalau kita tinggal tidur?

Nah pada kondisi kita sekarang, di saat kita merasa banyak dosa, sementara banyak juga persoalan hidup yang harus dihadapi, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup pun sedang banyak kendala, di setiap sepertiga malam yang akhir Allah turun ke langit dunia seraya menawarkan:

 

Siapa yang berdoa pada-Ku saat ini, akan Aku kabulkan.

Siapa yang minta pada-Ku saat ini, akan Aku beri.

Dan siapa yang minta ampun pada-Ku saat ini, akan Aku ampuni.

Pada kondisi seperti itu, pantaskah kalau saat-saat mustajab itu kita tinggal tidur?


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Shalat iedul-adha berlangsung pada bulan Dzulhijjah yang dalam bulan ini dilaksanakan ibadah haji di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Mungkin, sayup-sayup terdengar oleh kita kalimat talbiyah yang dikumandangkan mereka yang sedang menunaikan ibadah haji melalui berbagai media. Mereka berseru:

 “Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya setiap getar pujian adalah bagi-Mu. Sejatinya, setiap tetes kenikmatan berasal dari-Mu. Sebenarnya, Engkaulah Raja dan Penguasa kami, tiada sekutu bagi-Mu”.


Jamaah iedul-adha yang kami hormati.

Mari kita doakan semoga saudara-saudara kita umat Islam yang saat ini tengah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci bisa mendapatkan haji yang mabrur. Dan bagi yang belum menunaikan ibadah haji, semoga Allah mudahkan untuk bisa melaksanakan ibadah ini di tahun-tahun mendatang. Amin ya rabbal 'alamin.

Marilah kita akhiri nasehat ini dengan memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT.

Ya Allah, perbaikilah untuk kami agama kami, yang menjadi benteng segala urusan kami.

Perbaikilah urusan dunia kami, yang di dalamnya terdapat penghidupan kami. Dan perbaikilah akhirat kami yang akan menjadi tempat kembali kami.

Jadikanlah hidup kami, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun yang kami lalui agar menjadi penambah segala kebaikan bagi kami, dan manakala datang waktunya

kematian, jadikanlah kematian sebagai perhentian kami dari segala kejelekan.

Ya Allah kami mohon kepada-Mu, pengampunan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak.

Ya Allah kami mohon kepada-Mu, pengampunan dan keselamatan bagi agama dan urusan dunia kami, bagi keluarga dan harta kami.

Ya Allah tutuplah aib dan cela kami, dan ubahlah rasa takut kami menjadi rasa aman damai, jagalah kami dari depan dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri kami, juga dari arah atas kami, dan kami berlindung dengan keagunganMu dari malapetaka yang datang dari arah bawah kami.


Ya Allah, kami adalah hamba-hambaMu, anak-anak dari hamba-hambaMu, ubun-ubun kami

di tangan-Mu, ketentuan-Mu terlaksana pada diri kami, keputusan-Mu sangat adil pada kami, kami memohon kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengan nama itu, atau Engkau wahyukan nama itu dalam kitab-Mu atau Engkau ajarkan nama itu kepada salah seorang hamba-Mu atau Engkau khsususkan nama itu untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di hadirat-Mu, kami mohon kepada-Mu agar Engkau jadikan Al-Quran yang agung itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya terang di dada kami,menjadi penyirna kesedihan dan penghapus keresahan dan kedukaan kami.

Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak, dan hindarkanlah kami dari adzab neraka.



0 Komentar