Anggota DPD RI Abdullah Puteh Puji Kontribusi Pertanian LDII


Anggota DPD RI Abdullah Puteh Puji Kontribusi Pertanian LDII
Anggota DPD RI Abdullah Puteh Puji Kontribusi Pertanian LDII


Jakarta (13/1). Anggota DPD RI Abdullah Puteh silaturrahim ke kantor DPD LDII, Jakarta Selatan. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari Muswil DPW LDII Provinsi Aceh yang dihelat beberapa waktu lalu.

Abdullah Puteh disambut langsung oleh Ketua Umum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso beserta jajarannya.

Saat berbincang-bincang, Abdullah Puteh mengapresiasi program 8 Bidang Pengabdian LDII. Terlebih lagi, Abdullah Puteh yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Pertanian Indonesia (GKPPI) memuji peran LDII di bidang pertanian.

KH Chriswanto menjelaskan beberapa kisah sukses warga LDII pada bidang pertanian, salah satunya Awaldi Hasibuan penyuluh pertanian nasional yang sukses menanam singkong raksasa di Riau yang ditanam oleh Awaldi Hashibuan. Sementara di Garut, Tantan Rustandi mengembangkan pertanian digital di Garut. Selanjutnya, ada nama Taswadi yang mengembangkan pertanian di lahan gambut di Kalimantan Barat.

Menanggapi program LDII, Abdullah Puteh terinspirasi dengan berbagai program pertanian yang dilaksanakan warga LDII, “Programnya sangat terarah dan mereka memberdayakan ekonomi masyarakat di bidang peternakan dan pertanian. Itulah yang dibutuhkan masyarakat kita hari ini. Saya kira ini memang sudah sangat berkembang dan harus terus dikembangkan,” ujarnya.


Anggota DPD RI Abdullah Puteh Puji Kontribusi Pertanian LDII


Abdullah Puteh kemudian bercerita, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Aceh tertinggi ke-5, namun angka kemiskinan menempati peringkat ke-6 pada tahun 2019. Masyarakat Aceh dengan mayoritas petani dan area yang cukup besar, sayangya kemiskinan masih melanda. Ia pun prihatin dengan dengan keadaan ini.

Untuk itu, ia menegaskan bahwa peran ormas harus diperkuat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Produksi pertanian harus ditingkatkan, apalagi lahan yang tersedia di Aceh juga cukup luas. Ia mengajak ormas LDII di tiap daerah mengelola lahan.

“Saya lihat LDII sudah siap, nanti kita bisa lihat bersama-sama tentang Kepres Pertanian. Saya juga punya ide food estate regional. Cita-cita saya dengan jaringan LDII yang sudah ada, dapat membuat food estate regional. Misal dipecah 10.000 hektar untuk provinsi dan 10.000 hektarnya kerjasama dengan LDII,” ujarnya.

Supaya dapat mengelola lahan, ia menyarankan ormas LDII di tiap provinsi membuat Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) ataupun Koperasi. Saat ini, Hak Guna Lahan (HGU) di bawah 5.000 hektar bisa diteken di tingkat kabupaten. Seandainya pemerintah bisa fokus di lapangan dan dibantu dengan berbagai pihak, lahan pertanian yang luas dapat dikelola dengan baik dan produksi pertanian pun bisa meningkat.

“Saya berharap bisa terus berlanjut dan lebih besar lagi. Saya siap bekerja sama membantu LDII supaya bisa sama-sama memberikan sesuatu untuk masyarakat. Kita akan membentuk tim teknis, tapi yang jelas semua sektor pertanian LDII mumpuni. Kita pilih yang lebih cepat terlaksana dan kelihatan hasilnya,” ujarnya.


Anggota DPD RI Abdullah Puteh Puji Kontribusi Pertanian LDII


KH Chriswanto Santoso sangat mengapresiasi kehadiran Abdullah Puteh. Ia menjelaskan jika pertanian, pangan, dan lingkungan hidup adalah salah satu prioritas program dikerjakan DPP LDII berdasarkan program “8 Bidang Pengabdian LDII untuk Bangsa”.

“Kehadiran kakanda Abdullah Puteh ke tempat kami adalah kehormatan yang luar biasa, orang yang dulu saya kagumi. Maka pengalamannya perlu kita adopsi untuk bisa berkontribusi nyata ke depannya,” ujarnya.

Chriswanto Santoso kemudian bercerita terkait program yang sudah dilakukan LDII untuk bangsa. Terkait pangan, ketika hal ini disampaikan oleh pemerintah daerah, mereka sangat membuka uluran tangan.

“Di Bangka Belitung, kami dibantu dan diamanahi 1.000 hektar oleh Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan Ketua DPP LDII Profesor Rubiyo membantu warga LDII agar lahannya menjadi produktif,” ujarnya.

Chriswanto Santoso pun menyarankan agar fokus pada satu tempat untuk dikerjakan, terutama di wilayah Provinsi Aceh. Jika berhasil, program ini bisa dikloning untuk daerah lain. (kim/*)


0 Komentar