Bagi seorang suami, mempunyai isteri  sholihah adalah hal yang sangat diidamkan dan  merupakan keberuntungan tiada banding taranya. Kehidupan dalam membina rumah tangga yang 'sakinah wamaddah warahmah' tentu saja sangat tidak mungkin terwujud tanpa hadirnya seorang 'isteri sholihah'. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi  :
يا معاذ قلب شاكر ولسان ذاكر وزوجة صالحة تعينك على أمر دنياك ودينك خير ما اكتسب الناس (الطبرانى ، والبيهقى فى شعب الإيمان عن أبى أمامة)
" Wahai Muadz, hati yang syukur dan lisan berdzikir dan isteri yang sholihah yang dapat membantu atas urusan dunia dan agamamu adalah sebaik-baiknya simpanan manusia "

Dalam melaksanakan tugas keseharian dalam rumah tangga, isteri mempunyai kewajiban untuk senantiasa mendukung kebijakan - kebijakan suami ( selama tidak maksiat ), turut serta mendidik dan membina anak - anak agar menjadi anak yang sholih dan sholihah.  
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
... dan perempuan itu ( isteri ) adalah pengembala (bertanggung jawab) atas keluarga dan anak suami dan dia ditanya tentang mereka ....  ( HR Al Bukhori )
Kemandirian isteri bukan berarti harus melanggar kodratnya sebagai wanita untuk tetap taat pada suami. Terkadang karena merasa bahwa telah bisa memenuhi nafkah sendiri, seorang isteri lantas melupakan kewajibannya dalam rumah tangga. Hal demikian jelas tidak sesuai dengan sunah Rasulullah SAW, justru seharusnya kemandirian tersebut hendaknya dipergunakan untuk memperkuat tugas suami sebagai kepala rumah tangga الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ  .

Jadi, selalulah menjadi wanita / isteri yang sholihah.