Fondasi Spiritual dalam Menjalani Kehidupan di Dunia
Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri melalui perwakilan Humas, Ust. Asyhari Eko Prayitno, menyampaikan pesan penting mengenai persiapan bekal kehidupan akhirat bagi umat Islam. Seruan ini disampaikan di hadapan ribuan jamaah Masjid Baitul A’la, Kediri, usai pelaksanaan ibadah salat Jumat. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa setiap individu perlu memperbarui komitmen ketakwaan sebagai landasan utama dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan kefanaan.
Implementasi Ketakwaan dalam Keseharian Umat
Menurut Ust. Asyhari, ketakwaan bukan sekadar konsep teoritis, melainkan perwujudan nyata dari ketaatan seorang hamba dalam menjalankan seluruh perintah Allah SWT. Hal ini dibarengi dengan komitmen sungguh-sungguh untuk menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Ketakwaan pada hakikatnya adalah wujud nyata ketaatan manusia dalam menjalankan seluruh perintah Allah SWT sekuat kemampuan yang dimiliki, seraya dengan sungguh-sungguh menjauhi segala bentuk larangan serta batasan yang telah ditetapkan dalam ajaran agama, ujar Ust. Asyhari Eko Prayitno.
Ia menambahkan bahwa ketakwaan menuntut keyakinan utuh terhadap kebenaran Al-Qur’an dan Al-Hadis. Ketakwaan dipandang sebagai jalan keselamatan yang dicari oleh setiap manusia, sekaligus kunci pembuka jalan keluar atas berbagai permasalahan hidup yang sedang dihadapi.
Refleksi Hakikat Kehidupan sebagai Tempat Menanam Amal
Dalam tausiahnya, Ust. Asyhari mengajak jamaah untuk merenungi perjalanan waktu yang terus bergulir. Ia mengingatkan bahwa keberadaan manusia di dunia hanyalah persinggahan sementara, sementara akhirat merupakan kediaman sejati yang kekal abadi.
Dunia hanyalah sebuah tempat persinggahan sementara yang kelak pasti ditinggalkan, sedangkan alam akhirat adalah kediaman sejati yang akan ditempati untuk selama-lamanya, ungkap Ust. Asyhari Eko Prayitno.
Ia mengibaratkan dunia sebagai ladang tempat menanam segala bentuk kebaikan dan amal saleh. Hasil panen dari apa yang ditanam di dunia inilah yang nantinya akan dituai oleh manusia saat berada di akhirat kelak. Setiap karunia, mulai dari kesehatan hingga panca indra, dipastikan akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat terperinci oleh Allah SWT.
Pertanggungjawaban Manusia di Hari Kiamat
Merujuk pada ajaran Rasulullah SAW, Ust. Asyhari menguraikan empat perkara mendasar yang akan ditanyakan kepada setiap hamba sebelum bergeser dari tempatnya di hari kiamat. Empat perkara tersebut meliputi penggunaan masa umur, pemanfaatan ilmu, cara perolehan harta serta cara membelanjakannya, dan penggunaan kondisi fisik dalam menjalankan kebaikan.
Ia mengimbau agar jamaah tidak terbuai oleh angan-angan duniawi yang sering kali membuat seseorang menunda-nunda amal saleh. Mengingat ajal bersifat misterius, setiap individu diimbau untuk segera memaksimalkan kesempatan yang ada saat ini untuk memperbanyak ibadah.
Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Sedangkan dalam urusan akhirat, jangan menunda-nunda amal dan anggaplah hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk beramal, pungkas Ust. Asyhari Eko Prayitno.
📖 Glosarium Istilah
- Ketakwaan: Sikap mental menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran.
- Alam Fana: Dunia yang bersifat sementara, tidak kekal, dan akan berakhir.
- Wasiat Takwa: Pesan atau perintah untuk senantiasa menjaga hubungan ketaatan kepada Sang Pencipta dalam segala situasi.
- Amal Saleh: Segala bentuk perbuatan atau pekerjaan baik yang dilakukan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.