Optimalisasi Pembinaan Generasi Muda melalui Pengajian Cabe Rawit di Kapanewon Tanjungsari

Optimalisasi Pembinaan Generasi Muda melalui Pengajian Cabe Rawit di Kapanewon Tanjungsari
foto: ilustrasi / istimewa

Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kapanewon Tanjungsari secara konsisten memperkuat fondasi pendidikan agama bagi generasi penerus melalui program Pengajian Cabe Rawit. Inisiatif strategis ini menyasar anak-anak usia dini mulai dari jenjang PAUD, TK, hingga sekolah dasar dengan tujuan utama menanamkan pemahaman agama yang mendalam serta pembentukan karakter berbasis akhlakul karimah.

Metode Pembinaan Berkelanjutan dan Terukur

Program pendidikan non-formal ini diatur dengan ritme yang terstruktur, yakni dilaksanakan sebanyak lima kali dalam sepekan. Durasi pembelajaran yang diterapkan berkisar antara 60 hingga 90 menit per sesi, sebuah durasi yang dianggap ideal untuk menjaga konsentrasi anak tanpa memberikan beban berlebih. Kurikulum yang disusun mencakup literasi dasar Al-Qur'an seperti pengenalan huruf Hijaiyah, doa harian, hafalan surat-surat pendek, hingga narasi inspiratif dari kisah para nabi yang disajikan secara edukatif.

Komitmen Membangun Generasi Alim dan Berakhlak

Ketua PC LDII Tanjungsari, Haryono, menekankan pentingnya masa usia emas (golden age) sebagai periode krusial dalam membentuk kepribadian religius seorang anak. Menurutnya, pembiasaan sejak dini adalah kunci utama dalam melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, namun juga alim dan fakih dalam pemahaman agama.

Usia PAUD, TK dan SD ini adalah usia emas. Kalau sejak dini sudah kita kenalkan dengan Al-Qur'an, dengan adab, dan kebiasaan mengaji, insyaAllah akan menjadi bekal yang kuat sampai dewasa. Karena itu kami buat rutin 5 kali seminggu agar anak-anak terbiasa, ujar Haryono.

Sinergi Pengajar dan Peran Aktif Orang Tua

Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi yang erat antara tenaga pendidik di lingkungan masjid dengan orang tua di rumah. Haryono menegaskan bahwa edukasi di masjid memerlukan kesinambungan pengawasan di lingkungan keluarga agar nilai-nilai yang telah diajarkan dapat tertanam secara permanen.

Para orangtua harus mendukung. Kalau di masjid anak sudah diajari mengaji 60-90 menit, di rumah harus diulang, didampingi, dan diberi motivasi. Jangan sampai anak semangat di masjid, tapi di rumah tidak diperhatikan. Sinergi antara pengajar dan orangtua ini kuncinya agar anak betah dan istiqomah, tegas Haryono.

Selain aspek pengajaran, keberlangsungan program ini juga didukung penuh oleh jajaran pengurus Takmir Masjid di wilayah Kapanewon Tanjungsari. Dukungan berupa penyediaan sarana dan prasarana ibadah menjadi elemen vital yang memastikan kegiatan dakwah tetap berjalan optimal demi kemakmuran masjid di masa depan.

Kami berterima kasih kepada pengurus Takmir Masjid di lingkungan LDII Kapanewon Tanjungsari, yang telah mendukung penuh terselenggaranya kegiatan pengajian cabe rawit ini. Mulai dari penyediaan tempat, fasilitas, hingga dukungan moril kepada para ustadz-ustadzah. Tanpa dukungan Takmir, kegiatan ini tidak bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga masjid tetap makmur dengan generasi penerusnya, tutup Haryono.

📖 Glosarium Istilah

  • Pengajian Cabe Rawit: Program pembinaan karakter dan keagamaan khusus untuk anak usia dini di lingkungan LDII.
  • Alim Fakih: Istilah bagi individu yang memiliki ilmu agama yang mendalam dan memahami hukum-hukum syariat dengan benar.
  • Kapanewon: Istilah administratif setingkat kecamatan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Akhlakul Karimah: Perilaku terpuji atau budi pekerti yang baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.