Momentum Hari Batik Nasional: LDII Perkuat Integrasi Budaya dan Kelestarian Lingkungan

Momentum Hari Batik Nasional: LDII Perkuat Integrasi Budaya dan Kelestarian Lingkungan
foto: ilustrasi / istimewa

JAKARTA – Peringatan Hari Batik Nasional menjadi titik tolak penting bagi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dalam memperkuat komitmen menjaga warisan budaya bangsa yang sarat dengan kearifan lokal. Batik tidak lagi sekadar dipandang sebagai produk fesyen semata, melainkan instrumen strategis yang mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penguatan ekonomi kerakyatan, regenerasi perajin, hingga kepedulian terhadap ekosistem lingkungan.

Sinergi Pelestarian Budaya dan Pembangunan Berkelanjutan

Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (Lisdal) DPP LDII, Atus Syahbudin, menekankan bahwa batik merupakan manifestasi budaya yang memiliki kaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Menurut Atus, melestarikan batik menuntut pendekatan komprehensif, mulai dari menjaga keaslian motif hingga transformasi proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

"Batik merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai kearifan lokal sekaligus potensi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Merawat batik tidak cukup hanya dengan melestarikan motif dan teknik pembuatannya, tetapi juga memastikan proses produksinya semakin ramah lingkungan, termasuk melalui pemanfaatan pewarna alam yang disertai pengelolaan limbah secara bertanggung jawab," ujar Atus yang juga merupakan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tantangan Regenerasi dan Adaptasi Digital bagi Perajin Muda

Keberlangsungan industri batik di tanah air sangat bergantung pada keberhasilan regenerasi perajin. Saat ini, banyak perajin tradisional yang didominasi oleh kelompok usia senior. Atus menegaskan bahwa generasi muda harus dirangkul melalui jalur pendidikan, kewirausahaan berbasis teknologi digital, dan inovasi desain agar batik tetap relevan dengan tuntutan zaman.

"Tantangan regenerasi perajin perlu dijawab dengan melibatkan generasi muda, baik melalui pendidikan, inovasi desain, kewirausahaan, maupun pemanfaatan teknologi digital agar batik tetap relevan dengan perkembangan zaman," imbuh Atus.

Realita Pasar dan Perjuangan Pelaku UMKM Batik

Di lapangan, para pelaku usaha batik menghadapi dinamika yang tidak ringan. Agung Prayitno, seorang pengusaha batik dari PAC LDII Banyuripan, Klaten, mengungkapkan bahwa pasar batik tulis pasca-pandemi masih memerlukan stimulan agar kembali bergairah. Meski biaya produksi batik tulis tergolong tinggi, Agung tetap konsisten mengembangkan penggunaan pewarna alami dari bahan kayu mahoni, jolawe, dan tegeran guna menjaga nilai eksklusifitas produknya.

Di sisi lain, apresiasi masyarakat terhadap batik lokal memegang peranan krusial bagi keberlangsungan ekonomi para perajin. Dengan mengenakan batik, masyarakat sebenarnya sedang melakukan aksi nyata dalam mempertahankan identitas nasional sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di tingkat akar rumput.

Transformasi Perilaku Generasi Muda dalam Berbusana

Senada dengan hal tersebut, Suharno, praktisi batik dari Surakarta, mengajak generasi milenial dan Gen Z untuk tidak merasa canggung dalam memadukan batik ke dalam gaya berpakaian sehari-hari. Menurutnya, batik memiliki fleksibilitas tinggi yang mampu menampilkan kesan sopan, elegan, dan berwibawa di segala situasi.

"Gaya boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap pakai batik. Apa pun gayanya, orang yang memakai batik tetap terlihat sopan, elegan, dan berwibawa," ujar Suharno.

Upaya pelestarian ini tidak hanya berhenti pada penggunaan produk, tetapi juga menyentuh aspek etika produksi. Suharno memastikan bahwa unit usahanya tetap memperhatikan pengelolaan limbah sisa produksi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan sekitar.

📖 Glosarium Istilah

  • SDGs (Sustainable Development Goals): Tujuan pembangunan berkelanjutan global yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
  • Ekoteologi: Studi atau pandangan yang menghubungkan ajaran spiritual dengan tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan hidup.
  • Pewarna Alam: Zat pewarna untuk kain yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan, lebih ramah lingkungan dibanding pewarna sintetis.
  • PAC LDII: Pimpinan Anak Cabang Lembaga Dakwah Islam Indonesia, unit organisasi di tingkat kelurahan atau desa.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.