LDII Dorong Diversifikasi Pangan dan Konservasi Lahan untuk Perkuat Ketahanan Nasional

LDII Dorong Diversifikasi Pangan dan Konservasi Lahan untuk Perkuat Ketahanan Nasional
foto: istimewa / sumber asli

Jakarta — Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menegaskan kembali urgensi memperkuat ketahanan pangan nasional. Majelis Pakar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII menyoroti bahwa orientasi pemenuhan kebutuhan pokok tidak boleh hanya bertumpu pada komoditas beras, melainkan harus merata pada ragam potensi pangan lokal yang melimpah di nusantara.

Optimalisasi Sumber Pangan Lokal dan Peningkatan Gizi Generasi Bangsa

Pangan memiliki fungsi krusial dalam mencetak kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Perhatian terhadap pemenuhan gizi seimbang harus dimulai sejak dini, bahkan semenjak masa kehamilan hingga fase tumbuh kembang anak di usia emas.

Pakar pemuliaan dan genetika tanaman menyatakan bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang masif. Ketergantungan tunggal pada beras perlu dikikis melalui langkah nyata penganekaragaman komoditas penunjang.

“Pangan itu bagi Indonesia sangat penting dan kita punya sumber pangan yang luar biasa. Jadi, bukan hanya beras. Diversifikasi sumber pangan seperti ubi-ubian dan buah-buahan juga penting bagi ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia,” ujar Rubiyo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Lebih lanjut, terdapat empat pilar fundamental yang wajib diperhatikan dalam memaknai momentum Hari Pangan Sedunia. Pertama, konservasi tanah dan air sebagai fondasi utama keberlangsungan produksi agraris. Kedua, kesinambungan penyediaan pangan secara konsisten. Ketiga, jaminan pemenuhan gizi guna melahirkan generasi yang sehat serta berkarakter luhur. Keempat, memastikan keterjangkauan akses masyarakat terhadap makanan yang aman, beragam, dan bernutrisi tinggi.

Pengembangan Sorgum Sebagai Solusi Strategis Pertanian Terpadu

Sebagai wujud konkret diversifikasi pangan, LDII turut menginisiasi pengembangan komoditas alternatif seperti sorgum. Tanaman ini dikenal memiliki tingkat adaptabilitas yang sangat tinggi terhadap berbagai kondisi ekologis, termasuk di atas lahan marginal yang kurang subur.

Kolaborasi lintas sektor telah dijalin, salah satunya bersama Pemerintah Kabupaten Blora, guna memaksimalkan potensi budidaya sorgum secara masif. Tanaman ini relatif mudah dikelola dan dapat diolah menjadi aneka ragam produk pangan olahan.

“Sorgum ini salah satu komoditas yang punya adaptabilitas sangat luas terhadap lingkungan. Tanah yang kurang subur pun masih memungkinkan untuk ditanami sorgum, meskipun untuk menghasilkan produksi maksimal, kebutuhan nutrisi, air, dan kondisi lingkungannya tetap harus diperhatikan,” jelas Rubiyo.

Selain menghasilkan biji untuk konsumsi, seluruh bagian tanaman sorgum mulai dari batang, daun, hingga tongkol menyimpan potensi besar sebagai biomassa. Pemanfaatan menyeluruh ini sangat mendukung konsep pertanian terpadu atau integrated farming, sekaligus membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan di sektor pedesaan.

“Mulai dari tongkol, batang, hingga daun sorgum, bagian-bagian tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai biomassa. Jadi, kalau dikembangkan melalui pertanian terpadu, sorgum memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah, baik sebagai sumber pangan maupun untuk pemanfaatan lainnya,” ungkapnya lebih lanjut.

Regulasi Ketat Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan

Di balik berbagai inovasi agrikultur tersebut, laju alih fungsi lahan pertanian masih menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ketahanan pangan nasional. Pertumbuhan populasi yang tidak sebanding dengan penambahan luas daratan menuntut adanya intervensi kebijakan yang tegas dari pemerintah.

Pengawasan konsisten terhadap area sawah yang telah dipetakan sebagai lahan abadi sangat dibutuhkan agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan industri ataupun pemukiman warga.

“Kalau sawah sudah ditetapkan menjadi lahan abadi untuk pertanian, tentunya jangan digunakan untuk keperluan lain, misalnya membangun pabrik atau perumahan. Kita harus berkomitmen agar luas lahan sawah tidak terus berkurang,” tegas Rubiyo.

Melalui peringatan Hari Pangan Sedunia ini, sinergi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah menjadi kunci utama. Menjaga produktivitas lahan serta memaksimalkan kekayaan pangan lokal adalah investasi jangka panjang demi menjamin ketersediaan pangan bagi generasi penerus bangsa.

📖 Glosarium Istilah

  • Diversifikasi Pangan: Upaya penganekaragaman jenis makanan agar tidak bergantung pada satu jenis bahan pokok tertentu seperti beras.
  • Sorgum: Sejenis tanaman serbaguna dari keluarga rumput-rumputan yang biji, batang, dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pangan, pakan ternak, dan biomassa.
  • Integrated Farming: Sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan keterkaitan antar-komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan untuk menghasilkan efisiensi dan nilai tambah.
  • BRIN: Badan Riset dan Inovasi Nasional, lembaga pemerintah nonkementerian yang berada di bawah presiden yang menyelenggarakan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.