LDII Banyuwangi Bekali Generasi Muda Keterampilan Astronomi Islam dan Ilmu Falak

LDII Banyuwangi Bekali Generasi Muda Keterampilan Astronomi Islam dan Ilmu Falak
foto: ilustrasi / istimewa

BANYUWANGI – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Banyuwangi mengambil langkah progresif dalam penguatan literasi sains bagi generasi muda. Melalui kegiatan pelatihan intensif yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Huda, Banyuwangi, pada Sabtu (12/9/2026), puluhan santri dan pelajar SMK Bina Sejahtera Mandiri dibekali dengan pemahaman mendasar mengenai ilmu falakiyah serta teknis pengoperasian teleskop astronomi.

Integrasi Astronomi Modern dalam Praktik Ibadah

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya sistematis dalam kaderisasi generasi penerus yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga cakap dalam astronomi Islam. Dalam konteks ibadah, ilmu falak memegang peranan krusial sebagai penentu waktu shalat serta penetapan awal bulan hijriah. LDII memandang bahwa penguasaan teori dan praktik di bidang ini adalah kompetensi penting yang harus dimiliki oleh kaum muda saat ini.

Anggota Tim Hisab Rukyat DPD LDII Banyuwangi, Andreas Askhab Firdaus, menjelaskan bahwa fokus utama pelatihan ini terletak pada koordinasi presisi antara data digital dengan instrumen optik di lapangan. Hal ini penting untuk memastikan setiap pengamatan memiliki akurasi yang tinggi.

Pelatihan ini bertujuan membangun pemahaman teknis mengenai koordinasi data aplikasi dengan alat pengamatan di lapangan. Target latihan hari ini adalah menguji akurasi koordinasi antara data yang tersaji di aplikasi dengan arah orientasi teleskop, ujar Andreas Askhab Firdaus.

Penguasaan Instrumen Teknis dan Ketelitian Pengamatan

Selama sesi praktik, para peserta diajak untuk memanfaatkan perangkat lunak astronomi pada ponsel pintar mereka guna membaca koordinat, azimut, serta ketinggian benda langit. Data tersebut menjadi acuan vital dalam mengarahkan teleskop secara akurat ke posisi yang dituju. Andreas menekankan bahwa pengalaman lapangan ini sangat berbeda dibandingkan sekadar belajar teori di dalam kelas.

Penguasaan keterampilan dasar ini menjadi bekal penting sebelum para santri dan pelajar terlibat langsung dalam kegiatan hisab dan rukyatul hilal, jelasnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa latihan ini memberikan simulasi nyata bagi peserta mengenai tingkat ketelitian yang dibutuhkan dalam dunia astronomi. Proses penyelarasan antara perhitungan matematis dan realitas visual di langit menjadi inti dari keterampilan yang sedang diasah.

Pengalaman Belajar Langsung Generasi Milenial

Salah satu peserta, Wisnu, siswa SMK Bina Sejahtera Mandiri, mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengubah persepsinya mengenai rukyatul hilal. Baginya, penggunaan teknologi yang dikombinasikan dengan teleskop membuat proses tersebut menjadi lebih menarik sekaligus menantang.

Kami belajar membaca koordinat benda langit melalui gawai, kemudian mencocokkannya dengan arah dan sudut bidik teleskop. Dari praktik ini saya memahami bahwa rukyatul hilal membutuhkan ketelitian agar objek yang dicari dapat ditemukan sesuai dengan data yang sudah dihitung, ujar Wisnu.

Melalui inisiatif ini, diharapkan para peserta memiliki fondasi keterampilan yang kuat untuk berkontribusi dalam kegiatan hisab rukyat di masa depan. Keterlibatan aktif generasi muda dalam ilmu falak diharapkan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kolaborasi antara sains dan ibadah.

📖 Glosarium Istilah

  • Ilmu Falak: Ilmu yang mempelajari lintasan benda langit untuk menentukan waktu ibadah.
  • Rukyatul Hilal: Proses pengamatan bulan sabit muda sebagai penentu awal bulan hijriah.
  • Azimut: Sudut arah horisontal benda langit yang diukur dari titik utara.
  • Hisab: Metode perhitungan matematis untuk menentukan posisi benda langit.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.