Serang – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Banten menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung program pemerintah di bidang keagamaan dan ekonomi. Kehadiran LDII Banten dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Lembaga Keagamaan dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam se-Provinsi Banten yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Banten pada Senin (5/10), menjadi momentum krusial untuk mempererat kolaborasi antar elemen bangsa.
Sinergi Strategis Membangun Kerukunan dan Kualitas Beragama
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Banten, Amrullah, tersebut dihadiri oleh perwakilan berbagai ormas Islam dan pemangku kepentingan keagamaan di wilayah Banten. Forum ini dirancang untuk menyelaraskan arah kebijakan program keagamaan, memperkuat moderasi beragama, serta menjamin stabilitas kehidupan beragama yang harmonis di Provinsi Banten.
Kementerian Agama tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan elemen masyarakat, khususnya ormas-ormas Islam. Sinergi dan kolaborasi yang erat ini harus terus kita perkuat demi menjaga kerukunan, mengawal moderasi beragama, serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama di Provinsi Banten, ujar Kepala Kanwil Kemenag Banten, Amrullah.
Komitmen Pengembangan Pendidikan Karakter dan Ketahanan Pangan
Menanggapi arahan tersebut, Ketua DPW LDII Provinsi Banten, Dimo Tono Sumito, menegaskan kesiapan lembaganya untuk terus berkontribusi. Dimo menjelaskan bahwa LDII telah mengintegrasikan program kerja organisasi dengan kebutuhan masyarakat, terutama melalui sistem pendidikan yang komprehensif.
LDII menjalankan pendekatan pendidikan yang menyatukan pendidikan formal di bawah yayasan dengan pendidikan karakter religius melalui pesantren dan majelis taklim. Sinergi antara pengelola yayasan, tenaga pendidik, dan peran orang tua menjadi kunci dalam mencetak generasi yang tidak hanya mahir secara akademis, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kuat.
Untuk menjalankan sistem pendidikan ini perlu kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di antaranya pengurus yayasan, kepala sekolah atau rektor, guru, tenaga kependidikan, pamong, dan para orang tua. Karakter religius dapat dibentuk melalui pondok pesantren atau pengajian di majelis taklim, sedangkan karakter profesional itu dibentuk melalui sekolah-sekolah, ujar Dimo Tono Sumito.
Lebih lanjut, Dimo menyoroti inisiatif strategis LDII di sektor ketahanan pangan. Komunitas warga LDII di wilayah Cikeusik, Banten, telah berhasil mengoptimalkan lahan produktif dengan mengembangkan sistem tumpang sari padi gogo dan sorgum di area perkebunan kelapa sawit.
Sorgum ini bukan hanya sekadar komoditas pertanian, tapi bagian dari solusi jangka panjang atas tantangan krisis pangan global. Kami ingin umat tidak hanya mandiri secara spiritual, tapi juga secara ekonomi dan pangan, tambahnya.
Transformasi Dakwah Digital dan Literasi Masyarakat
Selain fokus pada pendidikan dan pangan, LDII Banten juga menaruh perhatian besar pada literasi digital. Melalui kolaborasi dengan media massa lokal, organisasi ini berupaya memberikan edukasi bagi generasi muda agar lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengoptimalkan ruang digital untuk menyebarkan pesan kebaikan atau dakwah bil hal, sekaligus menangkis dampak disinformasi di tengah masyarakat.
Rakor tersebut mempertemukan berbagai organisasi besar seperti MUI Banten, DMI, Muhammadiyah, Al-Khairiyah, FKUB, ICMI, FSPP, Baznas, serta perwakilan organisasi Islam lainnya, yang semuanya sepakat untuk menguatkan peran ormas sebagai pilar pendukung program pembangunan nasional.
📖 Glosarium Istilah
- Asta Cita: Delapan misi utama pemerintah yang menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pembangunan nasional.
- Dakwah Bil Hal: Metode dakwah melalui tindakan nyata atau amal saleh yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
- Padi Gogo: Jenis padi yang dibudidayakan di lahan kering atau tanah tegalan tanpa memerlukan penggenangan air secara terus-menerus.
- Moderasi Beragama: Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.