Jakarta – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum krusial bagi seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan nilai-nilai kebangsaan dalam tindakan nyata. Ketua DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa Pancasila harus diimplementasikan sebagai pedoman hidup sehari-hari untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah keragaman agama, suku, dan budaya.
Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Perilaku Sehari-hari
Dody menjelaskan bahwa penghayatan terhadap Pancasila menjadi fondasi utama dalam menghormati perbedaan dan mengutamakan kepentingan nasional di atas segalanya. Menurutnya, pemahaman ini menjadi sangat relevan di tengah pesatnya arus informasi yang tidak jarang membawa dampak negatif bagi kerukunan masyarakat.
"Hari Kesaktian Pancasila menjadi saat yang tepat untuk mengingat kembali bahwa persatuan bangsa harus terus dirawat. Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, terutama dalam menghormati perbedaan dan mengedepankan kepentingan bangsa," ujar Dody di Jakarta, pada Kamis (1/10/2026).
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan era digital yang berpotensi memicu disinformasi, ujaran kebencian, hingga intoleransi. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital bagi generasi muda menjadi kunci penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah bangsa maupun ideologi yang bertentangan dengan konsensus nasional.
Sinergi Moderasi Beragama dan Semangat Kebangsaan
Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro yang juga Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono, menekankan pentingnya memaknai Pancasila sebagai daya hidup yang dinamis. Ia mendorong pendidikan Pancasila dilakukan melalui pendekatan kreatif dan dialogis, bukan sekadar hafalan teks.
"Pendidikan Pancasila perlu disampaikan melalui dialog, keteladanan, konten digital kreatif, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial bukan sekadar hafalan. Sehingga Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral untuk menjaga persatuan, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial ditengah globalisasi," papar Singgih.
Singgih menambahkan bahwa organisasi kemasyarakatan memiliki peran vital dalam meredam ideologi transnasional yang bersifat eksklusif. LDII sendiri, melalui dakwah kulturalnya, terus menanamkan semangat moderasi beragama dan gotong royong agar umat Islam dapat menjalankan ajaran agamanya sekaligus berkontribusi positif sebagai warga negara yang majemuk.
Penguatan Peran Organisasi Kemasyarakatan dalam Menjaga Persatuan
Dalam menjaga stabilitas nasional, LDII secara konsisten memperkuat kerja sama dengan pemerintah, tokoh agama, dan aparat setempat. Strategi ini dilakukan melalui forum kerukunan, pembinaan wawasan kebangsaan, serta upaya preventif terhadap radikalisme.
Singgih menegaskan bahwa keharmonisan harus diwujudkan dalam perjumpaan dan kerja nyata di akar rumput. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta prinsip ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah, diharapkan masyarakat mampu menjadi benteng pertahanan bagi keutuhan NKRI dari potensi polarisasi.
📖 Glosarium Istilah
- Pancasila: Dasar negara Indonesia yang menjadi pedoman moral dan titik temu dalam keberagaman bangsa.
- Dakwah Kultural: Metode penyampaian ajaran agama dengan cara yang menghargai nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat setempat.
- Ideologi Transnasional: Paham atau pemikiran yang melampaui batas negara dan berpotensi bertentangan dengan konsensus nasional seperti NKRI.
- Moderasi Beragama: Pandangan atau sikap beragama yang mengambil jalan tengah, tidak ekstrem, dan menjunjung tinggi toleransi.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.