Belajar Lapang Hati Ketika Melihat Orang Lain Berbuat Baik
Ada kalanya kebaikan seseorang justru mengundang komentar negatif. Ketika seseorang berusaha membantu orang lain, aktif dalam kegiatan sosial, berbagi ilmu, bekerja dengan sungguh-sungguh, atau menunjukkan kepedulian kepada sesama, selalu ada kemungkinan muncul orang yang menilai dengan sudut pandang berbeda.
Ada yang mengatakan terlalu mencari perhatian. Ada yang menuduh ingin dipuji. Ada pula yang mempertanyakan maksud di balik sebuah kebaikan.
Di tengah situasi seperti itu, kita sebenarnya mempunyai dua pilihan. Membalas komentar tersebut dengan kemarahan dan perdebatan, atau memilih tetap tenang, melanjutkan kebaikan, dan menyerahkan penilaian akhir kepada Allah.
Terhadap komentar negatif atas perbuatan baik yang dilakukan seseorang, terkadang lebih baik dianggap sebagai angin lalu. Tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua tuduhan harus diluruskan. Dan tidak setiap penilaian buruk harus dibalas dengan penjelasan panjang.
Jangan Biarkan Komentar Negatif Menghentikan Kebaikan
Salah satu ujian ketika berbuat baik bukan hanya ketika tidak ada yang menghargai, tetapi justru ketika kebaikan itu mendapatkan penilaian negatif.
Di sinilah keikhlasan diuji.
Jika seseorang melakukan kebaikan hanya karena ingin mendapatkan pengakuan manusia, satu komentar negatif saja bisa membuatnya kecewa. Sebaliknya, ketika niatnya benar-benar diarahkan kepada Allah, pujian tidak membuatnya terbang dan celaan tidak membuatnya berhenti.
Ia memahami bahwa manusia mempunyai penilaian yang berbeda-beda. Apa yang dianggap baik oleh seseorang mungkin dianggap biasa oleh orang lain. Apa yang dipuji oleh sebagian orang mungkin justru dicurigai oleh sebagian yang lain.
Karena itu, jangan menjadikan penilaian manusia sebagai satu-satunya ukuran dalam berbuat baik.
Selama sesuatu dilakukan dengan cara yang benar, tidak melanggar aturan agama, tidak merugikan orang lain, dan diniatkan untuk kebaikan, maka teruslah berjalan.
Belajar Menganggap Komentar Negatif sebagai Angin Lalu
Bukan berarti setiap kritik harus diabaikan. Kritik yang benar justru dapat menjadi bahan untuk memperbaiki diri. Yang perlu dihindari adalah membiarkan komentar negatif yang tidak berdasar menguasai pikiran dan hati.
Ada kritik yang membangun. Ada pula komentar yang lahir dari kesalahpahaman. Bahkan ada komentar yang muncul karena seseorang tidak nyaman melihat keberhasilan atau kebaikan orang lain.
Di sinilah kedewasaan diperlukan.
Kita perlu belajar membedakan antara kritik yang perlu diterima dengan komentar yang cukup dilewati tanpa harus dimasukkan ke dalam hati.
Jika setiap perkataan orang selalu kita masukkan ke dalam hati, perjalanan hidup akan terasa sangat berat. Kita akan terlalu sibuk memikirkan siapa yang tidak menyukai kita, siapa yang membicarakan kita, siapa yang mencurigai kita, dan siapa yang memberikan penilaian buruk.
Padahal, waktu dan energi itu jauh lebih bermanfaat apabila digunakan untuk terus memperbaiki diri dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Ketika Melihat Orang Lain Berbuat Baik
Namun, ada sisi lain yang tidak kalah penting.
Jika kita ingin belajar menerima ketika orang lain berbuat baik, maka kita harus belajar mengelola hati kita sendiri.
Ketika melihat seseorang berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat, pertanyaannya bukan, “Mengapa dia?”
Melainkan, “Apa yang bisa saya pelajari dari kebaikannya?”
Ketika melihat seseorang rajin membantu orang lain, jangan buru-buru berpikir bahwa ia sedang mencari perhatian.
Ketika melihat seseorang aktif berdakwah, jangan langsung berprasangka bahwa ia ingin dipuji.
Ketika melihat seseorang berhasil dalam pekerjaan, jangan tergesa-gesa menganggap keberhasilannya sebagai sesuatu yang patut dicurigai.
Ketika melihat seseorang mendapatkan penghargaan, jangan merasa bahwa keberhasilan orang lain otomatis mengurangi nilai diri kita.
Sebab, keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan kita.
Kebaikan yang dilakukan orang lain tidak membuat jatah kebaikan kita berkurang. Keberhasilan seseorang tidak berarti pintu keberhasilan untuk kita tertutup. Rezeki, kesempatan, kemampuan, dan jalan hidup setiap orang mempunyai ketetapan masing-masing.
Mendahulukan Prasangka Baik
Islam mengajarkan agar seorang Muslim berhati-hati dalam berprasangka. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...”
QS. Al-Hujurat: 12
Ayat ini mengajarkan sebuah sikap penting dalam kehidupan sosial: jangan mudah membangun kesimpulan tentang seseorang hanya berdasarkan dugaan.
Ketika melihat orang lain melakukan sesuatu, kita sering hanya melihat apa yang tampak dari luar. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangannya. Kita tidak mengetahui niatnya. Kita tidak mengetahui apa yang sudah ia korbankan. Kita juga tidak mengetahui hubungan antara dirinya dengan Allah.
Karena itu, jangan mengambil posisi sebagai hakim atas hati orang lain.
Jika seseorang melakukan kebaikan, berikan kemungkinan terbaik dalam pikiran kita.
“Semoga memang niatnya baik.”
Jika kita tidak mengetahui niatnya, serahkan urusan niat kepada Allah.
Sebab, kita diminta menjaga hati dan perilaku kita sendiri, bukan menguasai isi hati orang lain.
Mengapa Kita Terkadang Sulit Menerima Kebaikan Orang Lain?
Salah satu penyebabnya adalah perbandingan.
Kita melihat pencapaian orang lain, lalu membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Dari sinilah terkadang muncul rasa tidak nyaman.
Ketika orang lain mendapatkan pujian, kita merasa kurang dihargai. Ketika orang lain mendapatkan kepercayaan, kita merasa tersisih. Ketika orang lain berhasil melakukan sesuatu, kita merasa seolah-olah diri kita tertinggal.
Jika perasaan tersebut tidak dikendalikan, ia dapat berkembang menjadi iri.
Padahal, perasaan tersebut dapat diarahkan menjadi sesuatu yang lebih sehat: ghibthah, yaitu keinginan mendapatkan kebaikan serupa tanpa berharap kebaikan yang dimiliki orang lain hilang.
Misalnya, ketika melihat seseorang rajin bersedekah, kita tidak berkata dalam hati, “Mengapa dia terus dipuji?”
Lebih baik kita berkata:
“Masya Allah. Semoga saya juga bisa memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berbuat baik seperti itu.”
Perubahan kalimat sederhana tersebut sebenarnya menunjukkan perubahan cara berpikir yang besar.
Belajar Mengubah Rasa Iri Menjadi Inspirasi
Setiap kali melihat kebaikan orang lain, kita dapat menjadikannya sebagai cermin.
Jika ia rajin bersedekah, mungkin kita bisa belajar lebih dermawan.
Jika ia rajin menolong, mungkin kita bisa belajar lebih peduli.
Jika ia mampu menjaga tutur kata, mungkin kita bisa belajar berbicara lebih santun.
Jika ia disiplin bekerja, mungkin kita bisa belajar mengatur waktu.
Jika ia aktif memberikan manfaat kepada masyarakat, mungkin kita bisa mencari ruang untuk memberikan manfaat dengan kemampuan yang kita miliki.
Dengan demikian, keberadaan orang baik di sekitar kita tidak lagi menjadi ancaman bagi ego, tetapi menjadi sumber inspirasi.
Kita tidak perlu menjadi orang lain. Kita hanya perlu menjadi versi diri kita yang lebih baik.
Jangan Mencari Kekurangan untuk Membatalkan Kebaikan Seseorang
Manusia bukan makhluk yang sempurna.
Seseorang yang hari ini melakukan kebaikan mungkin masih mempunyai kekurangan di sisi lain. Demikian pula diri kita.
Karena itu, jangan menggunakan satu kekurangan seseorang untuk membatalkan seluruh kebaikannya.
Jika seseorang berbuat baik, akui kebaikannya. Jika ia melakukan kesalahan, tegur dengan cara yang baik apabila memang diperlukan.
Kita tidak perlu mengubah seseorang menjadi sempurna terlebih dahulu untuk bisa mengakui bahwa ada kebaikan yang telah dilakukannya.
Sikap seperti ini membuat hati menjadi lebih adil.
Berlatih Mengucapkan “Masya Allah”
Salah satu latihan sederhana untuk membersihkan hati adalah membiasakan diri mengucapkan “Masya Allah” ketika melihat kebaikan, keberhasilan, atau kelebihan orang lain.
Bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi juga sebagai latihan batin.
Ketika melihat seseorang berhasil, kita belajar mengakui bahwa Allah telah memberikan kemampuan kepadanya.
Ketika melihat seseorang berbuat baik, kita belajar bersyukur bahwa masih ada orang yang mau memberikan manfaat.
Ketika melihat seseorang mendapatkan rezeki, kita belajar meyakini bahwa Allah Mahaluas dalam memberikan karunia.
Dengan begitu, hati perlahan-lahan terbiasa melihat nikmat orang lain tanpa merasa kehilangan sesuatu.
Doakan, Bukan Dijatuhkan
Jika kita merasa ada seseorang yang berbuat baik tetapi belum mampu kita pahami niatnya, jalan yang lebih selamat adalah mendoakannya daripada menjatuhkannya.
Jika ternyata ia ikhlas, semoga Allah menerima amalnya.
Jika ternyata masih ada kekurangan dalam niatnya, semoga Allah memperbaiki niatnya.
Dan jika ternyata penilaian kita yang keliru, semoga Allah mengampuni kita karena telah berprasangka buruk.
Doa seperti ini membuat hati jauh lebih tenang daripada sibuk mencari kesalahan orang lain.
Semoga Allah Membukakan Hati
Terhadap orang yang memberikan komentar negatif atas kebaikan orang lain, kita pun tidak perlu membalas dengan kebencian.
Saya memilih untuk berpikir positif: semoga Allah membukakan hati mereka.
Semoga suatu hari mereka dapat melihat kebaikan bukan sebagai sesuatu yang mengancam dirinya, tetapi sebagai sesuatu yang patut disyukuri.
Semoga mereka mampu menerima keberhasilan orang lain tanpa merasa dirinya gagal.
Semoga mereka mampu melihat kebaikan orang lain tanpa harus mencari-cari alasan untuk merendahkannya.
Dan semoga hati kita sendiri juga dijaga agar tidak terjatuh pada penyakit yang sama.
Kebaikan Tidak Perlu Dipertandingkan
Pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling baik di hadapan manusia.
Setiap orang mempunyai ruang pengabdian masing-masing.
Ada yang berbuat baik melalui ilmu. Ada yang melalui harta. Ada yang melalui tenaga. Ada yang melalui pekerjaan profesionalnya. Ada yang membantu secara diam-diam. Ada pula yang memberikan manfaat melalui kata-kata yang menenangkan.
Tidak perlu iri kepada bentuk kebaikan orang lain.
Kita hanya perlu menemukan ruang kebaikan yang dapat kita isi.
Jika orang lain menanam satu pohon, jangan sibuk mempertanyakan mengapa ia menanamnya. Lebih baik kita mencari tanah tempat kita bisa menanam pohon kita sendiri.
Jika orang lain memberikan cahaya, jangan sibuk mematikan lampunya. Nyalakan pula cahaya yang kita miliki.
Sebab, dunia tidak akan menjadi lebih terang jika kita sibuk memadamkan cahaya orang lain.
Tetap Berbuat Baik, Tetap Rendah Hati
Berbuat baik memang membutuhkan keberanian. Tetapi mempertahankan kebaikan ketika mendapatkan komentar negatif membutuhkan keteguhan hati.
Kita boleh menjelaskan jika memang diperlukan. Kita boleh menerima kritik jika kritik itu benar. Kita boleh memperbaiki diri jika ternyata ada kesalahan.
Namun, jangan berhenti berbuat baik hanya karena takut dinilai buruk oleh manusia.
Dan jangan pula merasa lebih baik hanya karena kita sedang melakukan kebaikan.
Di sinilah keseimbangan diperlukan: tetap berbuat baik, tetapi tetap rendah hati; tetap menunjukkan karya, tetapi tidak haus pujian; menerima apresiasi, tetapi tidak menggantungkan harga diri pada apresiasi manusia.
Jika dipuji, kita bersyukur.
Jika dikritik, kita introspeksi.
Jika disalahpahami, kita bersabar.
Jika melihat orang lain berbuat baik, kita ikut bersyukur.
Jika melihat orang lain berhasil, kita ikut mendoakan.
Dan jika hati mulai merasa iri, segera kita ingatkan diri sendiri bahwa nikmat Allah tidak pernah terbatas pada satu orang.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana manusia menilai kita, melainkan bagaimana kita menjaga hati di hadapan Allah.
Teruslah berbuat baik. Jangan terlalu sibuk memikirkan komentar orang. Jika melihat orang lain berbuat baik, belajarlah ikut bahagia. Dahulukan prasangka baik daripada prasangka buruk. Karena hati yang mampu bersyukur atas kebaikan orang lain adalah hati yang sedang belajar menjadi lapang.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari iri dan dengki, menjauhkan kita dari prasangka buruk, mengajarkan kita untuk menghargai kebaikan orang lain, dan menjadikan setiap kebaikan yang kita lakukan sebagai amal yang ikhlas karena-Nya.
