Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Memperkuat Wawasan Kebangsaan Generasi Muda

Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Memperkuat Wawasan Kebangsaan Generasi Muda
foto: ilustrasi / istimewa

SEMARANG – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk melakukan refleksi mendalam. Ketua DPP LDII, Singgih Tri Sulistiyono, menegaskan bahwa makna kesaktian Pancasila tidak seharusnya terjebak dalam seremoni tahunan, melainkan harus diterjemahkan sebagai daya hidup nilai-nilai luhur bangsa dalam menghadapi dinamika perubahan zaman yang kian pesat.

Implementasi Pancasila sebagai Kompas Moral Generasi Muda

Dalam pandangan Singgih, pendidikan Pancasila bagi generasi muda harus bertransformasi dari sekadar metode hafalan menjadi pendekatan yang lebih aplikatif. Ia menekankan perlunya ruang dialog, keteladanan nyata, hingga penggunaan konten digital kreatif agar nilai-nilai kebangsaan dapat terserap secara organik.

"Pendidikan Pancasila perlu disampaikan melalui dialog, keteladanan, konten digital kreatif, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial bukan sekadar hafalan. Sehingga Pancasila tetap relevan sebagai kompas moral untuk menjaga persatuan, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan sosial di tengah globalisasi," ujar Singgih Tri Sulistiyono yang juga Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (UNDIP).

Lebih lanjut, Singgih menuturkan bahwa kesaktian Pancasila teruji melalui kemampuannya dalam menjawab tantangan nyata bangsa. Bagi generasi muda, implementasi Pancasila mencakup sikap menghormati perbedaan, menolak intoleransi, serta kemampuan menyaring informasi dengan kritis di ruang digital.

Peran Strategis Ormas dalam Ketahanan Ideologi Nasional

Organisasi kemasyarakatan memiliki posisi krusial sebagai garda terdepan dalam menjaga kohesi sosial. Menurut Singgih, ketahanan bangsa tidak hanya bertumpu pada kekuatan negara, melainkan pada kemampuan masyarakat sipil dalam merawat persatuan.

"Ideologi transnasional perlu diwaspadai ketika membawa sikap eksklusif, menolak kebhinekaan, dan menganggap kelompok lain sebagai musuh, serta mempertentangkan agama dengan Pancasila dan NKRI. Karena itu, generasi muda harus diberi pemahaman bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam," tegas Singgih.

LDII sendiri terus mengedepankan dakwah kultural yang moderat. Strategi ini diwujudkan melalui pengajian, pembinaan generasi muda, hingga dialog lintas kelompok guna membentengi umat dari narasi radikalisme dan disinformasi. Pendekatan ini bertujuan agar generasi muda mampu mengenali propaganda yang berpotensi memecah belah persaudaraan kebangsaan.

Sinergi Lintas Sektoral Mewujudkan Indonesia Maju

Secara struktural, LDII memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta aparat setempat untuk mencegah benih radikalisme. Di tingkat akar rumput, warga didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan tanpa memandang sekat suku atau pilihan politik.

Singgih mengingatkan kembali bahwa keberhasilan pembangunan nasional sangat bergantung pada generasi muda yang cerdas dan berintegritas. Harapannya, Pancasila tidak lagi berhenti pada slogan, melainkan mewujud dalam perilaku sehari-hari, mulai dari ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, hingga basyariyah.

📖 Glosarium Istilah

  • E-E-A-T: Standar kualitas konten Google yang meliputi Experience, Expertise, Authoritativeness, dan Trustworthiness.
  • Ukhuwah Wathaniyah: Konsep persaudaraan atas dasar kebangsaan yang menjadi fondasi persatuan di Indonesia.
  • Ideologi Transnasional: Paham atau pemikiran yang melampaui batas negara dan sering kali berpotensi membenturkan konsensus nasional.
  • Dakwah Kultural: Pendekatan dakwah yang dilakukan dengan cara santun dan beradaptasi dengan budaya setempat tanpa menghilangkan esensi ajaran.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.