Wiwit Aku Isih Bayi, Tentang Keikhlasan Orang Tua kepada Anak
Mengapa penghormatan anak kepada orang tua tidak boleh berhenti? Bahkan ketika orang tua itu telah renta atau telah meninggal dunia? Pertanyaan sederhana ini membawa kita kembali kepada satu kenyataan: sejak masih bayi, anak telah menerima begitu banyak kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusan dari orang tuanya.
Ada masa ketika seorang anak belum mampu melakukan apa pun untuk dirinya sendiri. Untuk makan, ia menunggu disuapi. Untuk berpindah tempat, ia harus digendong. Ketika menangis, ada tangan yang mengusap. Ketika sakit, ada orang yang terjaga sepanjang malam.
Masa itu mungkin tidak lagi diingat oleh seorang anak ketika ia dewasa. Namun bagi orang tua, masa tersebut menjadi bagian panjang dari perjalanan hidup yang penuh perhatian.
Anak tumbuh sedikit demi sedikit. Dari bayi menjadi balita, kemudian mulai belajar berjalan, berbicara, bersekolah, hingga akhirnya mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Sementara orang tua terus membersamai dengan satu harapan sederhana: agar anak tumbuh menjadi manusia yang baik, berilmu, berakhlak, dan mampu menjalani kehidupan dengan benar.
Wong tuwa sing ngopeni
Nganti tumeka saiki
Lair batin gemati.
Mangkat sekolah aku disangoni,
Sandhang pangan wus mesthi.
Mula aku kudu ngerti,
Mbangun turut ngajeni.
Sepenggal lirik berbahasa Jawa tersebut menggambarkan perjalanan seorang anak sejak bayi yang diasuh dengan penuh perhatian oleh orang tuanya.
Wiwit Aku Isih Bayi, Orang Tua Telah Memberi Tanpa Menghitung
Kalimat “wiwit aku isih bayi” menyimpan makna yang dalam. Sejak seorang anak belum mampu memahami arti kehidupan, orang tua sudah lebih dahulu memberikan apa yang mereka miliki.
Waktu, tenaga, pikiran, perhatian, biaya, bahkan kesempatan untuk menikmati kehidupan pribadi sering kali dicurahkan demi anak. Tidak semua pengorbanan itu terlihat. Tidak semuanya pula diceritakan kepada anak.
Seorang ibu mungkin pernah terbangun berkali-kali ketika bayinya menangis. Seorang ayah mungkin pergi bekerja sejak pagi untuk memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Ketika anak mulai sekolah, kebutuhan bertambah. Ketika anak sakit, kecemasan orang tua pun datang.
Semua itu dilakukan jauh sebelum anak memahami bagaimana beratnya menjadi orang tua.
Karena itu, ketika seorang anak telah dewasa, memiliki pekerjaan, mempunyai keluarga, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bukan berarti hubungan kewajiban kepada orang tua selesai.
Kemampuan untuk berdiri sendiri seharusnya tidak membuat seorang anak lupa kepada tangan yang dahulu membantunya berdiri.
Perintah Allah untuk Berbuat Baik kepada Orang Tua
Dalam Islam, berbakti kepada orang tua bukan sekadar tradisi atau bentuk balas budi. Menghormati dan berbuat baik kepada orang tua merupakan bagian dari tuntunan agama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
QS. Al-Isra: 23
Ayat tersebut bahkan memberikan perhatian khusus ketika orang tua telah mencapai usia lanjut. Pada masa itu, orang tua mungkin tidak lagi sekuat dahulu. Mereka mungkin membutuhkan bantuan dalam berbagai hal. Gerak menjadi lebih lambat, kesehatan menurun, dan ketergantungan kepada anak bisa semakin besar.
Justru pada saat seperti itulah seorang anak diperintahkan untuk tetap menjaga perkataan dan sikap.
Bukan hanya tidak boleh membentak, bahkan ucapan kecil yang menunjukkan kejengkelan seperti “ah” pun dilarang.
Ketika Orang Tua Menjadi Tua
Ada sebuah perubahan kehidupan yang sering tidak disadari seorang anak.
Dahulu anak yang digandeng tangannya ketika menyeberang jalan. Kini justru anak yang harus menggandeng tangan orang tua. Dahulu orang tua yang membacakan cerita sebelum anak tidur. Kini mungkin anak yang menemani orang tua ketika malam terasa panjang.
Dahulu orang tua yang mengantarkan anak ke sekolah. Kini mungkin anak yang mengantar orang tua berobat.
Perputaran kehidupan tersebut bukan alasan untuk merasa terbebani. Ia dapat menjadi kesempatan bagi seorang anak untuk menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang kepada orang yang dahulu merawatnya.
Al-Qur'an juga mengajarkan agar seorang anak merendahkan diri dengan penuh kasih sayang kepada orang tua.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu aku masih kecil.’”
QS. Al-Isra: 24
Ayat ini terasa sangat dekat dengan makna “wiwit aku isih bayi”. Ada hubungan antara masa kecil seorang anak dan sikapnya ketika telah dewasa.
Dahulu orang tua menyayangi ketika anak belum mampu membalas. Ketika anak telah dewasa, ia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang tua yang mungkin sudah tidak berdaya seperti dahulu.
Bukan Sekadar Membalas Jasa
Berbakti kepada orang tua tidak berarti seorang anak benar-benar mampu membayar semua pengorbanan yang telah diberikan. Sebab kasih sayang orang tua sering kali tidak memiliki ukuran yang mudah dihitung.
Berapa harga malam-malam yang hilang karena menjaga anak sakit? Berapa nilai kecemasan ketika anak belum pulang? Berapa harga tenaga yang dicurahkan untuk mencari nafkah? Berapa nilai doa yang terus dipanjatkan untuk keselamatan anak?
Tidak semuanya dapat dikonversi menjadi angka.
Karena itu, berbakti bukan semata-mata transaksi: orang tua telah memberikan sesuatu, lalu anak membayarnya kembali. Lebih dari itu, berbakti merupakan bentuk pengakuan seorang anak bahwa dalam perjalanan hidupnya terdapat jasa, kasih sayang, dan pengorbanan orang tua yang tidak boleh dilupakan.
Saat Anak Mulai Sibuk dengan Kehidupannya
Tantangan kehidupan modern membuat banyak anak dewasa memiliki kesibukan masing-masing. Pekerjaan, keluarga, usaha, perjalanan, dan berbagai aktivitas membuat waktu terasa semakin sempit.
Tidak jarang komunikasi dengan orang tua akhirnya hanya sebatas pesan singkat atau telepon sesekali.
Padahal terkadang yang dibutuhkan orang tua bukan sesuatu yang mahal. Bisa jadi mereka hanya ingin mendengar suara anaknya. Ingin mengetahui apakah anaknya sehat. Ingin melihat anak dan cucu pulang. Ingin ditemani makan atau sekadar duduk berbincang.
Kasih sayang tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: menelepon, bertanya kabar, mendengarkan cerita, membantu pekerjaan rumah, mengantar ke suatu tempat, atau sekadar duduk di samping mereka.
Bagaimana Jika Orang Tua Telah Meninggal?
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih dalam: apakah penghormatan kepada orang tua berhenti ketika mereka meninggal dunia?
Jawabannya, hubungan anak dengan orang tua tidak harus berhenti pada kematian.
Seorang anak masih dapat mendoakan orang tuanya. Ia dapat memohonkan ampunan dan rahmat Allah untuk mereka. Ia juga dapat menjaga kebaikan dan hubungan baik dengan orang-orang yang dahulu dekat dengan orang tuanya.
Doa yang diajarkan Al-Qur'an pada Surah Al-Isra ayat 24 sangat relevan untuk direnungkan:
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu aku masih kecil.”
QS. Al-Isra: 24
Doa tersebut mengingatkan seorang anak kepada sebuah fase yang mungkin telah lama berlalu: masa ketika dirinya masih kecil dan sepenuhnya membutuhkan kasih sayang orang tua.
Bahkan setelah orang tua tidak lagi berada di hadapan mata, kenangan tentang pengorbanan mereka dapat menjadi alasan bagi seorang anak untuk terus mendoakan.
Penghormatan Tidak Berakhir di Pemakaman
Pemakaman menandai berakhirnya kehidupan seseorang di dunia. Namun bagi anak yang ditinggalkan, rasa hormat dan doa tidak harus ikut dimakamkan.
Nama orang tua dapat terus disebut dalam doa. Nasihat baiknya dapat terus diamalkan. Kebaikan yang dahulu diajarkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Seorang anak juga dapat menjaga silaturahmi dengan kerabat dan orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya. Dengan demikian, sebagian nilai kebaikan yang pernah hidup bersama orang tua dapat terus dilanjutkan.
Inilah salah satu bentuk penghormatan yang melampaui batas usia.
Pelajaran dari Lirik “Wiwit Aku Isih Bayi”
Lirik sederhana berbahasa Jawa tersebut sebenarnya menyimpan rangkaian perjalanan kehidupan yang sangat panjang.
“Wong tuwa sing ngopeni” mengingatkan bahwa orang tua adalah mereka yang merawat ketika anak belum mampu merawat dirinya sendiri.
“Lair batin gemati” menggambarkan perhatian yang tidak hanya menyangkut kebutuhan fisik, tetapi juga kasih sayang dan perhatian batin.
“Mangkat sekolah aku disangoni” mengingatkan tentang dukungan orang tua terhadap pendidikan anak. Sementara “sandhang pangan wus mesthi” menggambarkan kebutuhan dasar yang berusaha dipenuhi orang tua.
Lalu diakhiri dengan pesan:
Artinya, setelah memahami semua perhatian tersebut, seorang anak semestinya mengerti bagaimana bersikap hormat kepada orang tua.
Birrul Walidain Dimulai dari Sikap Sehari-hari
Berbakti kepada orang tua tidak harus menunggu menjadi kaya. Tidak harus menunggu mempunyai rumah besar atau pekerjaan dengan penghasilan tinggi.
Birrul walidain dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana.
Berbicara dengan sopan. Tidak membentak. Mendengarkan ketika mereka berbicara. Membantu ketika mereka membutuhkan. Menjaga perasaan mereka. Mengunjungi ketika ada kesempatan. Memberikan perhatian ketika mereka kesepian.
Dan ketika mereka telah meninggal, anak dapat terus mendoakan mereka serta menjaga kebaikan yang pernah diajarkan.
Karena ukuran penghormatan kepada orang tua bukan hanya seberapa besar sesuatu yang diberikan, tetapi juga seberapa tulus seorang anak menjaga sikapnya kepada mereka.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Mengerti
Ada penyesalan yang sering datang terlambat: baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah tidak lagi dapat ditemui.
Selama orang tua masih hidup, masih ada kesempatan untuk meminta maaf, mengucapkan terima kasih, memeluk, mencium tangan, mengajak berbicara, atau sekadar duduk bersama.
Jangan sampai kesibukan membuat seorang anak merasa bahwa orang tua akan selalu ada.
Waktu tidak berjalan mundur.
Anak yang dahulu digendong akhirnya mampu berjalan sendiri. Anak yang dahulu disuapi akhirnya mampu mencari nafkah sendiri. Anak yang dahulu diantar sekolah akhirnya memiliki keluarga sendiri.
Tetapi orang tua juga mengalami perjalanan yang sama. Mereka yang dahulu kuat menggendong anak perlahan menjadi tua. Rambut memutih, tenaga berkurang, dan tubuh tidak lagi sekuat dahulu.
Pada titik itu, kehidupan seolah mengembalikan peran: tangan yang dahulu mengangkat kita, kini mungkin membutuhkan tangan kita untuk menopangnya.
Wiwit Aku Isih Bayi, Hingga Orang Tua Menutup Mata
Dari bayi hingga dewasa, seorang anak melewati banyak tahap kehidupan. Namun kasih sayang orang tua sering kali hadir sepanjang perjalanan tersebut.
Karena itu, penghormatan kepada orang tua tidak semestinya berhenti ketika anak telah dewasa. Tidak pula berhenti ketika orang tua menjadi renta. Bahkan ketika mereka telah meninggal dunia, doa dan kebaikan seorang anak tetap menjadi bagian penting dari penghormatannya kepada orang tua.
Ada pesan yang sangat sederhana dari kisah ini: ingatlah dari mana kita memulai kehidupan.
Kita pernah menjadi bayi yang tidak mampu melakukan apa-apa. Kita pernah menangis dan berharap ada seseorang yang datang. Kita pernah membutuhkan tangan untuk digandeng, tubuh untuk menggendong, dan suara untuk menenangkan.
Dan ada orang tua yang dengan sabar menjalankan semua itu.
Maka ketika kita telah dewasa, jangan sampai kemampuan berdiri sendiri membuat kita lupa kepada mereka yang dahulu mengajarkan cara berdiri.
Wiwit aku isih bayi. Dari sejak aku masih bayi, orang tua telah merawat dengan kasih sayang. Maka selama kesempatan masih ada, mari menjaga tutur kata, menghormati, menyayangi, membantu, dan mendoakan mereka. Sebab berbakti kepada orang tua bukan sekadar mengenang apa yang telah mereka berikan, tetapi menjadi bukti bahwa kasih sayang yang mereka tanamkan sejak kita kecil terus tumbuh dalam diri kita hingga dewasa.
