BENGKULU – Tiga hari pendalaman materi jurnalistik di ruang kelas menjadi langkah awal bagi para peserta Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar DPW LDII Provinsi Bengkulu. Usai menyelesaikan rangkaian pelatihan pada 4–6 September 2026, para peserta langsung diterjunkan ke lapangan untuk menguji pemahaman mereka melalui peliputan kegiatan Rukyatul Hilal, yang diselenggarakan dalam rangka penentuan 1 Rabiul Akhir bersama tim pengamat hilal DPW LDII Provinsi Bengkulu.
Penerapan Teknik Jurnalistik di Lapangan
Pengalaman lapangan ini menjadi agenda praktik kedua bagi peserta pascapelatihan. Fokus utama kegiatan kali ini adalah menantang peserta untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari secara sistematis, mencakup teknik wawancara yang efektif, penerapan rumus 5W+1H, ketajaman mencatat fakta di lokasi, hingga dokumentasi visual yang mendukung narasi berita.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut, para peserta berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan Sekretaris DPW LDII Provinsi Bengkulu, Erik Rahman. Ia hadir memberikan keterangan didampingi oleh dua anggota tim pendamping, yakni Tri Ardi Ranggawan dari Tim IT dan Sugeng Heriyanto dari Biro Pendidikan dan Dakwah.
Sejak tiba di lokasi, koordinasi tim segera dibangun. Peserta dibagi ke dalam beberapa tugas spesifik: mengamati jalannya observasi hilal, menghimpun data krusial, menyusun daftar pertanyaan, hingga memastikan setiap sudut pandang peristiwa terabadikan melalui lensa kamera sebagai bahan pendukung berita.
Peningkatan Rasa Percaya Diri Peserta
Bagi para peserta, momentum ini merupakan ujian nyata untuk mengukur seberapa jauh kemampuan mereka berkembang setelah menjalani pelatihan intensif. Salah seorang peserta, Yola, mengungkapkan bahwa ia kini merasa jauh lebih siap dan percaya diri dibandingkan saat tugas liputan pertama.
“Liputan kedua ini saya merasa tidak segugup liputan pertama. Saya lebih berani, lebih percaya diri untuk mencoba dan bertanya. Setelah ini saya ingin lebih banyak mengikuti kegiatan peliputan jurnalistik,” ujar Yola.
Pengalaman serupa juga dibagikan oleh Elfina. Menurutnya, terjun langsung ke lapangan memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana teori jurnalistik harus disesuaikan dengan dinamika situasi nyata yang dinamis.
“Perasaan saya setelah mengikuti liputan langsung kegiatan Rukyatul Hilal dalam rangka penentuan 1 Rabiul Akhir adalah bangga dan bersyukur. Ini merupakan pengalaman liputan lapangan kedua saya setelah mengikuti Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar seminggu yang lalu,” kata Elfina.
Elfina menambahkan bahwa proses tersebut memudahkannya dalam mengintegrasikan berbagai keterampilan teknis yang ia peroleh sebelumnya. Baginya, jurnalistik kini tidak lagi sekadar tentang menulis, melainkan tentang kemampuan merasakan dan mengabadikan peristiwa penting bagi masyarakat secara akurat.
Jurnalisme Sebagai Sarana Literasi
Perjalanan dari ruang kelas menuju lapangan telah mengubah perspektif peserta mengenai profesi jurnalis. Mereka kini menyadari bahwa seorang pewarta dituntut memiliki ketelitian, kemampuan memverifikasi fakta di sumbernya, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Pengalaman liputan ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan bagi peserta untuk terus mengasah kemampuan jurnalistik mereka. Dengan terjun langsung, peserta tidak hanya belajar dari narasumber, tetapi juga belajar dari peristiwa dan fakta nyata yang mereka temukan sendiri di lapangan.
📖 Glosarium Istilah
- Rukyatul Hilal: Proses pengamatan bulan sabit muda sebagai penanda dimulainya awal bulan dalam kalender Hijriah.
- 5W+1H: Rumus dasar jurnalistik yang meliputi What, Who, Where, When, Why, dan How sebagai acuan kelengkapan informasi berita.
- DPW LDII: Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia, organisasi kemasyarakatan yang menaungi kegiatan dakwah di tingkat provinsi.
- Jurnalistik Mahir Dasar: Program pelatihan untuk membekali kader dengan keterampilan teknis penulisan dan peliputan berita.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.