Jakarta—Menghadapi tantangan cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang, DPP LDII secara proaktif menggalakkan gerakan ketahanan air di seluruh wilayah Indonesia. Langkah strategis ini mencakup perpaduan antara inovasi teknologi konservasi lingkungan serta penguatan pendekatan spiritual bagi masyarakat guna meminimalisasi dampak kekeringan.
Penguatan Sistem Ketahanan Air Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa fenomena iklim pada tahun 2026 memberikan sinyal urgensi bagi masyarakat untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan air saat krisis terjadi. Pengelolaan sumber daya air harus dilakukan jauh sebelum musim kering memuncak, melalui sistem penampungan mandiri yang berkelanjutan.
Tidak ada kata terlambat, hari ini adalah pelajaran untuk tahun mendatang. Air memang perlu kita kelola sebagai sumber daya yang harus ditabung untuk menghadapi musim kering. Karena itu, masyarakat perlu membangun sistem ketahanan air secara mandiri dan gotong royong, ujar Dody Taufiq Wijaya.
Optimalisasi Masjid sebagai Pusat Penampungan Air
Dody menyoroti potensi masjid sebagai infrastruktur vital dalam upaya pemanenan air hujan. Dengan luasan atap yang memadai, masjid dapat dioptimalkan sebagai sistem tangkapan air hujan yang dialirkan menuju bak penampungan. Model percontohan ini telah diterapkan secara efektif oleh warga LDII di Gunungkidul, Yogyakarta, yang memanfaatkan bangunan masjid untuk menyediakan cadangan air bersih saat debit sumber air tanah menurun.
Sebagai bentuk konkret, PC LDII Saptosari, Gunungkidul, telah mengintegrasikan dua bak penampungan besar pada Masjid Al-Fattah dengan total kapasitas mencapai 30.000 liter. Inovasi ini selaras dengan langkah yang ditempuh di Gedung Serba Guna LDII DIY, yang memanfaatkan area atap sebagai ruang sebagai media penyimpan air cadangan.
Integrasi Inovasi Lingkungan dan Pendekatan Spiritual
Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (Lisdal) DPP LDII, Atus Syahbudin, mendorong agar setiap daerah melakukan replikasi teknologi tepat guna tersebut sesuai dengan karakteristik geografis masing-masing. Prinsip utamanya adalah mengelola surplus air saat musim hujan sebagai bekal strategis di masa kemarau.
Prinsipnya sederhana: ketika air berlebih kita simpan, ketika kekurangan kita manfaatkan. Jangan sampai air hujan yang begitu banyak ketika musim hujan justru terbuang, sementara ketika kemarau masyarakat kesulitan mendapatkan air, ujar Atus Syahbudin.
Selain upaya teknis di lapangan, LDII juga mengedepankan pendekatan spiritual melalui pelaksanaan Salat Istisqa di berbagai daerah, termasuk di Pondok Pesantren Budi Utomoen Asy-Syifa Sukoharjo dan Pondok Pesantren Budi Utomo Surakarta. Ketua DPD LDII Kota Surakarta, Muhammad Zain, menyatakan bahwa ikhtiar ini merupakan bentuk nyata permohonan pertolongan kepada Allah SWT sekaligus dukungan terhadap pemerintah dalam penanganan dampak kemarau seperti risiko kebakaran lahan.
Kegiatan ini merupakan salah satu wujud membantu pemerintah dengan cara mengetuk jalur langit melalui Salat Istisqa. Mudah-mudahan hujan segera turun dan berbagai dampak kemarau, termasuk kebakaran di TPA Putri Cempo, dapat segera teratasi, ujar Muhammad Zain.
📖 Glosarium Istilah
- El Nino: Fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada iklim kering di Indonesia.
- Salat Istisqa: Ibadah salat sunnah yang dilakukan secara berjamaah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
- Desa ProKlim: Program Kampung Iklim yang diinisiasi pemerintah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mitigasi perubahan iklim.
- PC/DPD LDII: Struktur organisasi LDII di tingkat Pimpinan Cabang (PC) maupun Dewan Pimpinan Daerah (DPD).
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.