Seharian Ngecor Balok Lantai GSG LDII Kotim

Seharian Ngecor Balok Lantai GSG LDII Kotim

Dari mesin molen, drum yang ditarik derek, hingga angkong di lantai dua. Sehari penuh warga LDII Kotawaringin Timur bergotong royong menyelesaikan pengecoran balok lantai 2 GSG LDII Kotim.

Senin, 28 September 2026   |   Tim Redaksi LDII Sampit

Minggu pagi (27/9/2026) suasana di kawasan selatan Masjid Al Barokah Sampit tampak berbeda. Sejak pagi, warga LDII Kotawaringin Timur yang berada di Kota Sampit mulai berdatangan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan besar: pengecoran balok lantai 2 Gedung Serbaguna (GSG) LDII Kotim. Bukan sekadar pekerjaan konstruksi, kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya semangat gotong royong, kebersamaan, dan amal sholih warga.

Hari itu, pekerjaan konstruksi dilakukan secara bersama-sama. Ada yang menyiapkan material, ada yang melayani mesin molen, ada yang mengangkut adukan, ada yang mengendalikan proses pengangkatan drum, dan ada pula yang bekerja di lantai dua untuk menerima adukan cor. Setiap orang mengambil bagian sesuai tugasnya.

Dari bawah hingga lantai dua, aktivitas berlangsung silih berganti. Suara mesin molen bercampur dengan suara angkong yang didorong dari satu titik ke titik lainnya. Sesekali terdengar aba-aba dari warga yang sedang mengatur posisi drum. Di tengah pekerjaan yang cukup menguras tenaga itu, suasana justru terasa akrab dan penuh keceriaan.

Menyiapkan 300 Sak Semen dan Material Pengecoran

Untuk pekerjaan pengecoran tersebut, panitia telah menyiapkan material dalam jumlah cukup besar. Sekitar 300 sak semen disiapkan bersama pasir dan koral sebagai bahan utama adukan beton.

Jumlah material yang tidak sedikit itu menggambarkan skala pekerjaan yang dilakukan. Setiap sak semen harus diolah bersama pasir dan koral melalui mesin molen, kemudian adukan yang telah siap dipindahkan untuk dibawa ke lantai dua.

Dalam pekerjaan konstruksi seperti ini, kelancaran tidak hanya ditentukan oleh satu orang. Seluruh rangkaian pekerjaan harus berjalan secara berkesinambungan. Ketika bagian bawah terlambat menyiapkan adukan, bagian atas akan menunggu. Sebaliknya, apabila adukan terlalu cepat datang, bagian atas harus mampu menerima dan menyalurkannya ke titik pengecoran.

Catatan Pekerjaan
  • Lokasi: Selatan Masjid Al Barokah Sampit.
  • Bangunan: GSG LDII Kotawaringin Timur.
  • Ukuran bangunan: sekitar 10 x 22 meter.
  • Balok lantai 2: enam balok utama.
  • Material utama: semen, pasir, dan koral.
  • Semen yang disiapkan: sekitar 300 sak.
  • Sistem pengangkutan: drum dengan mesin derek.
  • Pengangkutan adukan di lantai: menggunakan angkong.

Tidak Lagi Mengandalkan Estafet Ember

Pengecoran kali ini memiliki cara tersendiri. Jika pada pekerjaan pengecoran sebelumnya adukan biasanya dipindahkan dengan sistem estafet ember, kali ini panitia menggunakan drum yang ditarik menggunakan mesin derek menuju lantai dua.

Adukan beton yang telah selesai dicampur di bawah kemudian dimasukkan ke dalam drum. Drum tersebut selanjutnya ditarik ke atas menggunakan mesin derek. Setelah mencapai lantai dua, adukan dituangkan ke dalam angkong untuk kemudian dibawa menuju bagian balok yang akan dicor.

Metode tersebut membuat pekerjaan memiliki alur yang cukup panjang. Adukan dimulai dari material yang masih terpisah, kemudian masuk ke mesin molen, dipindahkan ke drum, diangkat menggunakan derek, diterima oleh petugas di lantai dua, dimasukkan ke angkong, lalu didorong menuju titik pengecoran.

Setiap tahap membutuhkan ketelitian. Satu kesalahan kecil dapat mengganggu alur pekerjaan yang dilakukan puluhan orang. Karena itulah, komunikasi dan koordinasi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.

Enam Balok Menopang Lantai Dak

Bangunan GSG LDII Kotim yang berada di selatan Masjid Al Barokah Sampit memiliki ukuran sekitar 10 x 22 meter. Pada lantai dua terdapat enam balok yang dipersiapkan untuk menopang lantai dak.

Ukuran dan struktur tersebut membuat pengecoran balok menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembangunan. Pekerjaan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan suplai adukan yang terus mengalir agar proses pengecoran dapat berjalan sebagaimana direncanakan.

“Tiap balok lebarnya 10 meter, ditambah sayap untuk teras kanan kiri masing-masing setengah meter.” — Mujiono, Koordinator Bangunan GSG LDII Kotim

Mujiono, yang sering disapa Mbah Man, selaku koordinator bangunan GSG LDII Kotim, menjelaskan kondisi struktur bangunan tersebut di sela-sela pekerjaan pengecoran.

Dibagi Menjadi Beberapa Kelompok Kerja

Agar pekerjaan dapat berlangsung terus-menerus, warga dibagi menjadi beberapa kelompok. Pembagian tersebut membuat setiap orang memiliki peran yang jelas dalam rangkaian proses pengecoran.

Kelompok pertama bertugas melayani kebutuhan mesin molen. Mereka memasukkan semen, pasir, dan koral ke dalam mesin sesuai kebutuhan adukan. Kelompok berikutnya mengendalikan mesin molen agar proses pencampuran berjalan.

Setelah adukan siap, kelompok angkong di bagian bawah bertugas membawa adukan menuju drum yang akan diangkat menggunakan derek. Dari sana, pekerjaan berpindah ke kelompok yang berada di lantai dua.

Di lantai dua, terdapat kelompok penerima drum dan kelompok angkong atas. Mereka menerima adukan dari drum yang telah sampai, kemudian menuangkan dan membawanya ke bagian balok yang sedang dikerjakan.

Pekerjaan besar seperti pengecoran bukan hanya tentang siapa yang paling kuat mengangkat atau paling lama bekerja. Kelancaran justru lahir dari kemampuan banyak orang menjalankan tugas masing-masing secara bersamaan.

Keselamatan Tetap Menjadi Perhatian

Aktivitas pengecoran di lantai dua tentu memiliki tantangan tersendiri. Selain harus bergerak cepat mengikuti alur datangnya adukan, warga yang berada di atas juga harus memperhatikan posisi dan keselamatan kerja.

Terutama bagi warga yang bertugas menerima drum berisi adukan dari bawah. Drum yang diangkat memiliki volume adukan cukup banyak sehingga membutuhkan kehati-hatian ketika berada di dekat titik penerimaan.

Para petugas di bagian tersebut menggunakan safety belt yang diikatkan pada tiang penyangga. Perlengkapan itu digunakan untuk membantu menjaga posisi dan pergerakan mereka ketika menerima drum berisi adukan.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari pekerjaan. Semangat bergotong royong tetap berjalan berdampingan dengan kehati-hatian. Sebab, pekerjaan konstruksi membutuhkan tenaga, koordinasi, sekaligus perhatian terhadap keselamatan setiap orang yang terlibat.

Ketika Peran Ibu-Ibu dan Remaja Putri Tak Kalah Penting

Di tengah aktivitas kaum pria yang berkutat dengan semen, pasir, koral, mesin molen, drum, dan angkong, ada pula kelompok yang mengambil peran penting di belakang layar.

Para ibu-ibu dan remaja putri menyiapkan kebutuhan konsumsi bagi warga yang bekerja. Snack, minuman, dan makanan disiapkan untuk menjaga tenaga para pekerja yang sejak pagi berkutat dengan pekerjaan fisik.

Pembagian peran seperti itu memperlihatkan bahwa gotong royong dalam pembangunan GSG LDII Kotim tidak hanya berlangsung di titik pengecoran. Mereka yang tidak berada di area konstruksi tetap memiliki kontribusi melalui berbagai kebutuhan pendukung.

Dari sinilah terlihat bahwa sebuah pekerjaan besar dapat menjadi pekerjaan bersama. Ada yang bekerja menggunakan tenaga, ada yang mengatur alur, ada yang menyediakan konsumsi, dan ada yang memastikan kebutuhan lainnya tetap tersedia.

Ceria di Tengah Pekerjaan yang Menguras Tenaga

Meski pekerjaan pengecoran membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, warga terlihat menjalankannya dengan suasana ceria. Canda dan komunikasi antarkelompok sesekali terdengar di sela-sela aktivitas.

Wajah-wajah yang berkeringat tidak menghilangkan kegembiraan. Justru kebersamaan membuat pekerjaan terasa lebih ringan. Satu orang membantu orang lainnya, sementara kelompok yang satu memastikan pekerjaan kelompok lainnya dapat berjalan.

Dalam suasana seperti itu, pembangunan gedung tidak hanya menghasilkan perubahan pada bentuk fisik bangunan. Ia juga menghadirkan pengalaman kebersamaan bagi warga yang terlibat langsung di dalamnya.

Hujan Datang Saat Pengecoran Hampir Tiga Perempat

Ada momen yang membuat suasana pengecoran hari itu terasa semakin berkesan. Ketika pekerjaan telah melewati sekitar tiga perempat area, langit yang sebelumnya lama menunggu hujan akhirnya menurunkan air.

Alhamdulillah. Setelah sekitar empat bulan Sampit dilanda kemarau panjang, hujan akhirnya turun pada hari ketika warga sedang bergotong royong menyelesaikan pengecoran GSG LDII Kotim.

Setelah berbulan-bulan merasakan panas dan kering, turunnya hujan di tengah pekerjaan menjadi kabar yang disambut penuh syukur. Di tengah lelahnya bekerja, warga mendapatkan suasana yang berbeda ketika air hujan mulai membasahi kawasan GSG LDII Kotim.

Pekerjaan pun terus dikejar dengan tetap memperhatikan kondisi di lapangan. Target hari itu adalah menyelesaikan pekerjaan pengecoran yang telah dimulai sejak pagi.

Selesai Sebelum Maghrib

Setelah melalui rangkaian pekerjaan sejak pagi, pengecoran balok lantai dua akhirnya dapat diselesaikan sebelum waktu Maghrib.

Seluruh warga kemudian mengakhiri pekerjaan untuk beristirahat. Panitia mengistirahatkan kegiatan hingga setelah pelaksanaan salat Isya. Setelah seharian mengeluarkan tenaga, jeda tersebut menjadi waktu bagi warga untuk memulihkan tenaga sebelum pekerjaan dilanjutkan.

Namun, rencana manusia ternyata tidak selalu berjalan persis seperti yang telah disusun.

Mesin Penderek Mengalami Gangguan

Ketika malam tiba dan panitia hendak melanjutkan pekerjaan pengecoran, sebuah kendala muncul. Mesin penderek yang menjadi salah satu bagian penting dalam sistem pengangkutan adukan ke lantai dua mengalami gangguan atau trouble.

Kondisi tersebut membuat pekerjaan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan sesuai rencana malam itu. Setelah mempertimbangkan kondisi peralatan, panitia akhirnya memutuskan menunda pekerjaan hingga Senin pagi.

Manusia boleh menyusun rencana dan bekerja sekuat tenaga. Namun pada akhirnya, ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Karena itu, ikhtiar, kehati-hatian, dan kesabaran berjalan bersama dalam setiap proses pembangunan.

Lebih dari Sekadar Mengecor Beton

Seharian mengecor balok lantai dua GSG LDII Kotim pada akhirnya bukan hanya cerita tentang semen, pasir, koral, mesin molen, drum, derek, dan angkong. Di balik semua itu terdapat cerita tentang orang-orang yang datang untuk mengambil bagian dalam sebuah pekerjaan bersama.

Ada yang mengangkat material, mengoperasikan mesin, mendorong angkong, menerima drum di lantai dua, mengatur alur pengecoran, hingga menyiapkan makanan dan minuman. Semua peran tersebut saling melengkapi.

Pembangunan GSG LDII Kotim menjadi gambaran bagaimana sebuah pekerjaan fisik dapat mempertemukan banyak orang dalam satu tujuan. Keringat yang keluar sepanjang hari menjadi bagian dari proses panjang menghadirkan sebuah fasilitas yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan.

Yang lebih penting, kegiatan tersebut menghadirkan suasana kebersamaan. Warga tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang bekerja di garis depan, ada yang mendukung dari belakang, dan semuanya memiliki arti bagi kelancaran pekerjaan.

Gotong Royong yang Menjadi Catatan Perjalanan GSG

Setiap tahap pembangunan sebuah gedung selalu memiliki cerita. Ada material yang datang, struktur yang berdiri, pekerjaan yang diselesaikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi. Pengecoran balok lantai dua GSG LDII Kotim menjadi salah satu bagian dari perjalanan tersebut.

Minggu, 27 September 2026, akan menjadi salah satu catatan ketika warga LDII Kotawaringin Timur bersama-sama mencurahkan tenaga untuk sebuah pekerjaan yang dikerjakan dari pagi hingga sore.

Mesin molen terus berputar, angkong bergerak dari satu titik ke titik lainnya, drum naik turun menggunakan derek, sementara para pekerja di lantai dua terus menerima dan menyalurkan adukan. Semua berlangsung dalam satu rangkaian kerja yang membutuhkan kekompakan.

Ketika hujan turun setelah kemarau panjang, suasana pun menjadi semakin istimewa. Dan ketika mesin penderek mengalami gangguan pada malam hari, warga belajar bahwa setiap pekerjaan memiliki waktunya sendiri.

```

Dari sebuah pengecoran balok, tersimpan cerita tentang kebersamaan. Dari ratusan sak semen, lahir jejak kerja banyak tangan. Dari satu gedung yang sedang dibangun, tumbuh pengalaman gotong royong yang akan menjadi bagian dari perjalanan GSG LDII Kotim.

Semoga setiap tenaga yang dicurahkan, setiap material yang digunakan, setiap waktu yang disisihkan, serta setiap bentuk dukungan yang diberikan menjadi bagian dari amal sholih dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Alhamdulillah. Pengecoran balok lantai dua terus berproses. Satu tahapan telah dilewati, dan perjalanan pembangunan GSG LDII Kotim masih berlanjut.

GSG LDII Kotim GSG LDII Sampit LDII Kotawaringin Timur LDII Sampit Gotong Royong Pembangunan GSG Masjid Al Barokah Sampit Sampit Kotawaringin Timur