Pentingnya Skala Prioritas, Ratusan Remaja Putri LDII Jakarta Selatan Belajar Kelola Keuangan Secara Bijak

Pentingnya Skala Prioritas, Ratusan Remaja Putri LDII Jakarta Selatan Belajar Kelola Keuangan Secara Bijak
foto: ilustrasi
  • Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Jakarta Selatan melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) sukses menyelenggarakan seminar bertajuk "Smart Shopping Smart Living" pada Minggu (30/8). Bertempat di Gedung Serba Guna Bina Insan Mulia, kegiatan ini mengumpulkan sedikitnya 140 remaja putri yang merupakan representasi generasi Z. Fokus utama dari pertemuan ini adalah memberikan pembekalan mendalam mengenai manajemen finansial agar mereka mampu membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan sesaat, terutama di tengah gempuran tren digital yang serba cepat.

    Animasi Uang Berhamburan

    Ilustrasi pengelolaan keuangan yang bijak diperlukan untuk masa depan yang stabil.

    Strategi Jitu Menghadapi Godaan Belanja Impulsif di Era Digital

    Dalam pemaparannya, Kartika Putri selaku narasumber utama menekankan bahwa kemampuan untuk menahan diri dari perilaku belanja impulsif adalah kunci stabilitas ekonomi pribadi. Maraknya fenomena diskon kilat dan kampanye pemasaran masif di media sosial sering kali membuat remaja kehilangan arah dalam menetapkan prioritas belanja mereka. Kartika memberikan panduan praktis agar para peserta tidak mudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang tidak esensial.

    "Dalam hidup, setiap individu harus memiliki tujuan besar atau goal yang jelas. Jika kita memiliki prioritas masa depan yang kuat, maka secara otomatis kita akan mampu menahan keinginan kecil yang sifatnya hanya sementara. Apabila ingin memberikan apresiasi diri atau self-reward, pastikan hal tersebut sudah masuk dalam anggaran khusus agar tidak mengganggu pos kebutuhan utama," jelas Kartika Putri di hadapan para peserta.

    Lebih lanjut, ia membagikan kiat-kiat aplikatif seperti disiplin menyusun daftar belanja sebelum bepergian, memberikan jeda waktu refleksi sebelum menekan tombol beli di aplikasi e-commerce, serta belajar untuk berhenti sejenak guna mengevaluasi urgensi dari barang yang ingin dibeli.

    Antusiasme Generasi Muda dalam Sesi Diskusi Kelompok

    Ketua Panitia Pelaksana, Memey, mengungkapkan bahwa tema ini sengaja diangkat sebagai respons atas fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang sangat kental di kalangan wanita muda, khususnya terkait tren kosmetik dan gaya hidup. Seminar ini tidak hanya berisi ceramah satu arah, namun juga diperkaya dengan sesi tanya jawab interaktif, Focus Group Discussion (FGD), hingga permainan simulasi kekompakan dalam menyusun strategi keuangan.

    “Alhamdulillah, antusiasme peserta sangat luar biasa. Mereka sangat aktif berdiskusi dalam kelompok untuk membedah masalah keuangan yang sering dihadapi sehari-hari,” tegas Memey.

    Dampak positif dari kegiatan ini pun dirasakan langsung oleh para peserta. Riski Sri Oktafi, salah satu remaja putri yang hadir, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai cara menilai kualitas sebuah produk dibandingkan dengan harga dan kemampuan finansial pribadi. Ia merasa lebih percaya diri untuk mulai mengelola tabungan dengan lebih terstruktur.

    “Melalui acara ini, kami jadi lebih paham cara mempertimbangkan kualitas barang dan kemampuan finansial sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu,” tutur Riski Sri Oktafi dengan nada optimis.

    Hal senada disampaikan oleh Maharani Nevaria yang menyoroti betapa sulitnya menjaga objektivitas saat keinginan mulai menyamar menjadi kebutuhan. Ia merasa teknik jeda waktu yang diajarkan dalam seminar sangat relevan untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari guna menghindari penyesalan pasca-belanja.

    Implementasi Karakter Luhur dalam Pengelolaan Keuangan Generasi Z

    Seminar ini bukan sekadar tentang angka dan uang, melainkan juga bagian dari pembinaan moral. Perwakilan Keputrian Pokja Penggerak Pembina Generus (PPG) LDII Jakarta Selatan, Sabita Nur Cholidah, menjelaskan bahwa materi ini berkelindan erat dengan konsep 29 Karakter Luhur yang menjadi fondasi pembinaan generus LDII. Secara spesifik, literasi keuangan ini menyentuh nilai Mujhid (kesungguhan) dan Muzhid (kerendahan hati atau pola hidup sederhana).

    “Seminar Smart Shopping Smart Living ini merupakan bentuk nyata dari pembinaan 29 Karakter, khususnya nilai Mujhid dan Muzhid. Kami ingin membekali Generasi Z agar tidak sekadar menjadi pengekor tren digital, melainkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, memiliki kendali diri, dan terbiasa menyiapkan tabungan demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Sabita Nur Cholidah.

    Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari tersebut ditutup dengan komitmen bersama dari para peserta untuk mulai menerapkan gaya hidup cerdas (smart living) yang mengedepankan kualitas hidup di atas kuantitas barang kepemilikan.

    📖 Glosarium Istilah

    • FOMO (Fear of Missing Out): Perasaan cemas atau takut tertinggal oleh tren atau aktivitas menarik yang sedang dilakukan orang lain.
    • Mujhid: Karakter luhur yang berarti memiliki semangat kerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mencapai tujuan.
    • Muzhid: Karakter luhur yang mengedepankan pola hidup bersahaja, tidak berlebih-lebihan, dan mampu menahan nafsu keinginan duniawi.
    • Smart Shopping: Strategi belanja cerdas dengan mengedepankan analisis nilai manfaat, kualitas, dan kesesuaian anggaran.

    Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.