Penguatan 29 Karakter Luhur, LDII Pemalang Gembleng Ratusan Generasi Muda Menuju Masa Depan Profesional Religius

Penguatan 29 Karakter Luhur, LDII Pemalang Gembleng Ratusan Generasi Muda Menuju Masa Depan Profesional Religius
foto: ilustrasi

Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Pemalang mengambil langkah strategis dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan zaman melalui pengajian akbar dan pembinaan karakter. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Al Huda, Widodaren, Pemalang, Jawa Tengah ini diikuti oleh sekitar 400 peserta dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga pemuda usia produktif. Agenda yang berlangsung pada Minggu (26/7) tersebut menjadi wadah integrasi antara penguatan nilai spiritual dan keterampilan sosial guna mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Fondasi Moral Sebagai Kunci Menghadapi Dinamika Perubahan Sosial

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang melesat cepat membawa dampak signifikan terhadap pola perilaku generasi muda. Ustaz Zunit Syaifullah, penceramah utama dari Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, menekankan bahwa tanpa fondasi moral yang kokoh, pemuda akan mudah terombang-ambing oleh perubahan sosial yang terjadi secara instan. Menurutnya, kemajuan teknologi harus dibarengi dengan integritas pribadi yang matang.

“Generasi muda perlu memiliki fondasi moral yang baik. Kejujuran, kerukunan, kedisiplinan, dan kemandirian perlu menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ustaz Zunit Syaifullah.

Lebih lanjut, Ustaz Zunit menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidaklah efektif jika hanya berhenti pada tataran teori di ruang kelas atau majelis taklim. Nilai-nilai tersebut harus diinternalisasi dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam interaksi sosial, baik di lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat luas. Kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab menjadi salah satu indikator kedewasaan karakter yang diharapkan muncul dari para peserta.

“Anak muda perlu belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka juga perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya agar kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu masyarakat,” tambahnya.

Integrasi Aspek Spiritual dan Keterampilan Sosial dalam Pembinaan Pemuda

Ketua Panitia Pelaksana, Rifki Aziz, menyatakan bahwa pembinaan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan organisasi dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). LDII Pemalang memandang pentingnya keseimbangan antara pemahaman agama yang mendalam dengan kecakapan hidup (life skills) agar pemuda mampu beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah.

“Kami ingin para pemuda memiliki pengetahuan agama sekaligus karakter yang baik. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi dengan lingkungan,” tutur Rifki Aziz.

Melalui metode pembekalan yang menggabungkan aspek spiritual, etika, dan keterampilan sosial, diharapkan muncul generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan empati sosial yang tinggi. Sinergi ini dipandang sebagai modal utama bagi pemuda untuk berkontribusi positif bagi pembangunan daerah.

Implementasi 29 Nilai Karakter Luhur dalam Kehidupan Bermasyarakat

Ketua DPD LDII Kabupaten Pemalang, Agus Suwarno, menegaskan bahwa penanaman 29 Nilai Karakter Luhur merupakan instrumen vital dalam mempersiapkan generasi penerus yang tangguh. Karakter tersebut, menurut Agus, menjadi kompas bagi anak muda dalam menentukan cara mereka belajar, bekerja, dan berinteraksi secara harmonis di tengah kemajemukan masyarakat.

“Kami ingin generasi muda LDII tumbuh menjadi pribadi yang profesional dan religius. Mereka perlu menguasai ilmu dan keterampilan, tetapi tetap memiliki akhlak, disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap masyarakat,” kata Agus Suwarno.

Agus juga menggarisbawahi pentingnya peran lingkungan keluarga dan masyarakat dalam mengawal keberlanjutan pembinaan karakter ini. Ia mendorong para pemuda LDII untuk tidak sekadar menjadikan materi pengajian sebagai pengetahuan, melainkan menjadikannya identitas diri dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dalam berucap, kedisiplinan dalam beribadah, hingga kemandirian dalam berwirausaha harus tercermin secara nyata.

“29 karakter luhur tidak boleh berhenti sebagai materi pengajian. Nilainya harus terlihat dalam kebiasaan. Mulai dari jujur dalam perkataan, disiplin menjalankan kewajiban, menjaga kerukunan, sampai memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Agus mengajak seluruh peserta untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Menurutnya, pengalaman berorganisasi secara inklusif akan melatih jiwa kepemimpinan serta rasa tanggung jawab kolektif sebagai bagian dari warga negara yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

📖 Glosarium Istilah

  • 29 Karakter Luhur: Serangkaian nilai budi pekerti yang ditanamkan LDII kepada generasi muda, mencakup aspek moral, kemandirian, dan etika sosial.
  • Profesional Religius: Konsep pembinaan SDM yang memadukan keahlian teknis (profesionalitas) dengan kepatuhan terhadap nilai-nilai agama (religiusitas).
  • Wali Barokah: Salah satu pondok pesantren besar yang dikelola LDII di Kediri, Jawa Timur, yang menjadi pusat rujukan pendidikan dakwah dan karakter.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.