Kemarau panjang seringkali membawa kekhawatiran mendalam bagi masyarakat, terutama sektor pertanian dan ketersediaan air bersih. Dalam tradisi Islam, saat sumber daya manusia tidak lagi mampu menembus batas kekeringan, umat diajak untuk berserah diri kepada Sang Pencipta melalui syariat salat Istisqa. Ritual ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk pengakuan akan ketergantungan makhluk terhadap rahmat Allah SWT.
Ketentuan Pelaksanaan Salat Istisqa
Terdapat dua mekanisme utama dalam pelaksanaan salat memohon hujan. Pertama, jika dilakukan di luar hari Jumat, salat dikerjakan di tanah lapang atau masjid pada waktu dhuha. Pelaksanaannya menyerupai salat Id, yakni dua rakaat dengan tambahan takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, diikuti oleh khotbah setelah salat.
Landasan hukum mengenai tata cara ini merujuk pada riwayat dari Thalhah yang bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai sunah Istisqa:
عَنْ طَلْحَةَ قَالَ : أَرْسَلَنِي مَرْوَانُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَسْأَلُهُ عَنْ سُنَّةِ الاسْتِسْقَاءِ، فَقَالَ: سُنَّةُ الاسْتِسْقَاءِ سُنَّةُ الصَّلَاةِ فِي الْعِيدَيْنِ إِلَّا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَوَّلَ رِدَاءَهُ فَجَعَلَ يَمِيْنَهُ عَلَى يَسَارِهِ وَيَسَارَهُ عَلَى يَمِيْنِهِ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَكَبَّرَ فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَقَرَأَ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَقَرَأَ فِي الثَّانِيَةِ هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ وَكَبَّرَ فِيْهَا خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ. رواه الدار قطني
Dalam praktik tersebut, imam dianjurkan membalik selendang atau sorban sebagai simbol tafa'ul (harapan baik) agar keadaan berubah dari kekeringan menjadi keberkahan hujan.
Doa Istisqa Saat Khotbah Jumat
Jika kekeringan terjadi bertepatan dengan hari Jumat, syariat memberikan keringanan. Umat tidak perlu melaksanakan salat Istisqa secara khusus. Cukup dengan menyisipkan doa memohon hujan setelah khotbah kedua. Hal ini didasarkan pada peristiwa masa Rasulullah SAW:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَحَطَ الْمَطَرُ، فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا، فَدَعَا فَمُطِرْنَا. رواه البخاري
Adab Membalik Selendang
Selain salat, terdapat sunah untuk berdoa dalam keadaan berdiri menghadap kiblat di tanah lapang, kemudian membalik selendang atau pakaian luar. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari dari Abbad bin Tamim, di mana Nabi SAW keluar bersama penduduk untuk berdoa dan memindahkan posisi selendangnya, yang kemudian direspons dengan turunnya hujan.
Bacaan Doa Istisqa yang Dianjurkan
Dalam kitab-kitab doa, terdapat beberapa redaksi doa yang diajarkan untuk memohon hujan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Permohonan Singkat
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami." (HR. Bukhari)
2. Memohon Hujan yang Bermanfaat
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang dapat menolong, yang menyegarkan, yang menyuburkan lagi bermanfaat, tidak membahayakan, dengan segera, tidak ditunda-tunda." (HR. Abu Dawud)
3. Kasih Sayang untuk Seluruh Makhluk
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ، وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu, ternak-Mu, dan sebarkanlah rahmat-Mu, serta hidupkanlah (suburkanlah) negeri-Mu yang tandus." (HR. Abu Dawud)
Memahami syariat ini menjadi bagian dari upaya spiritual dalam menghadapi krisis lingkungan. Semoga dengan kepatuhan terhadap sunah, keberkahan dan rahmat Allah SWT senantiasa tercurah bagi bumi dan seluruh makhluk di dalamnya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.