Oh Asap Karhutla, Jadwal Penerbanganku Jadi Cancel
Menunggu pesawat berjam-jam di bandara sebenarnya bukan pengalaman yang terlalu istimewa. Tetapi ketika penyebabnya adalah asap kebakaran hutan dan lahan, rasanya menjadi cerita yang berbeda.
Jumat, 18 September 2026. Sejak pagi saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta. Tujuan saya jelas: terbang menuju Sampit, Kalimantan Tengah.
Pesawat dijadwalkan boarding sekitar pukul 12.00 WIB. Namun rencana perjalanan yang sudah tersusun rapi perlahan mulai berubah ketika pengumuman dari bandara menyebut penerbangan mengalami keterlambatan.
Para penumpang diminta tetap berada di ruang tunggu sambil menunggu informasi berikutnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain duduk, menunggu, sesekali melihat layar informasi penerbangan, dan berharap pesawat segera diberangkatkan.
Menunggu Hingga Sore, Ternyata Penerbangan Dibatalkan
Waktu terus berjalan. Siang berganti sore.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 16.30 WIB, kabar yang paling tidak diharapkan datang juga.
Penerbangan menuju Sampit dibatalkan.
Maskapai yang banyak mengisi rute penerbangan di berbagai bandara Indonesia itu pun akhirnya tidak bisa membawa kami menuju tujuan.
Saya kemudian mencoba mencari solusi. Apakah penerbangan bisa dijadwalkan ulang untuk keesokan harinya?
ujar petugas ketika saya menanyakan kemungkinan reschedule untuk esok hari.
Mau tidak mau, proses pembatalan pun dilakukan.
Setelah seharian menunggu di bandara, badan mulai terasa lelah. Dengan langkah yang agak gontai, saya mencari pintu keluar. Tujuan berikutnya: hotel transit.
Hotel Hanya 3 Kilometer, tetapi Harus Memutar Lebih dari 9 Kilometer
Hotel transit sebelumnya sudah saya pesan melalui Traveloka. Saya kemudian memesan ojek online menuju hotel tersebut.
Menjelang waktu Isya, akhirnya saya tiba di hotel.
Ada satu hal kecil yang membuat saya tertawa lirih di tengah kelelahan. Jarak hotel yang tertera sekitar 3 kilometer dari area bandara. Namun ketika ditempuh menggunakan kendaraan, jaraknya menjadi lebih dari 9 kilometer.
Begitu kira-kira penjelasan sang pengemudi.
Benar juga. Di peta mungkin terlihat dekat. Tetapi tidak semua garis lurus bisa dilalui kendaraan.
Mengubah Rute: Jakarta–Pangkalan Bun
Sambil mengurus proses refund tiket yang batal, saya kembali mencari alternatif penerbangan.
Kali ini pilihan jatuh pada rute Jakarta menuju Pangkalan Bun. Informasi yang saya dapat, kondisi asap di tujuan tersebut relatif aman untuk penerbangan.
Tiket baru pun dipesan.
Malam itu hanya ada waktu beberapa jam untuk beristirahat. Sebab, perjalanan berikutnya sudah menunggu sejak dini hari.
Alhamdulillah, Akhirnya Bisa Menyeberang ke Kalimantan
Ada rasa lega ketika sekitar pukul 08.00 petugas mulai memanggil para penumpang untuk masuk ke pesawat.
Setelah melalui penantian panjang, pembatalan penerbangan, mencari hotel, mengurus refund, memesan tiket baru, tidur hanya beberapa jam, dan kembali menuju bandara sejak dini hari, akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan.
Alhamdulillah.
Pesawat akhirnya membawa kami menyeberang menuju Pulau Kalimantan.
Namun perjalanan tersebut juga menyisakan satu pertanyaan besar: bagaimana kondisi bumi Kalimantan sebenarnya?
Ketika Asap Karhutla Mulai Mengganggu Perjalanan
Kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2026 terasa begitu nyata. Kemarau panjang membuat banyak wilayah mengalami kondisi yang sangat kering.
Di sejumlah tempat, kebakaran muncul silih berganti. Satu titik dipadamkan, titik lainnya muncul. Api dan asap seolah menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai.
Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal dekat dengan lokasi kebakaran. Asap juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan udara.
Dari sebuah ruang tunggu bandara di Jakarta, saya akhirnya merasakan sendiri bagaimana asap dari kebakaran di Kalimantan bisa mengubah seluruh rencana perjalanan.
Saya pun bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kebakaran itu bermula? Apakah terjadi karena kelalaian, atau ada pula unsur kesengajaan? Tentu saya tidak bisa memastikan penyebabnya tanpa informasi dan penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Yang pasti, ketika kebakaran meluas, langit Kalimantan kembali dipenuhi asap. Pada lokasi tertentu, asap yang pekat bahkan dapat membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Dari Ruang Tunggu Bandara, Sebuah Doa untuk Bumi Borneo
Setelah perjalanan panjang itu, yang tersisa bukan hanya cerita tentang tiket yang dibatalkan atau penerbangan yang tertunda.
Ada kerinduan sederhana: semoga hujan segera turun.
Basahilah bumi Borneo dengan air-Mu.
Padamkanlah kebakaran yang melanda.
Jauhkan masyarakat dari bahaya asap.
Berikan kesehatan, keselamatan, dan ketenangan bagi semua yang terdampak.
Perjalanan menuju Kalimantan akhirnya tetap sampai tujuan, meski harus melewati jalan yang tidak pernah direncanakan.
Kadang sebuah perjalanan tidak hanya membawa kita dari satu kota ke kota lain. Ia juga membawa kita melihat persoalan yang lebih besar: tentang lingkungan, tentang manusia, dan tentang bagaimana sebuah peristiwa di satu tempat dapat memengaruhi kehidupan banyak orang.
Semoga hujan segera turun di bumi Kalimantan. Semoga api segera padam. Dan semoga langit Borneo kembali biru tanpa diselimuti asap.
Alhamdulillah, perjalanan akhirnya bisa dilanjutkan. Tetapi semoga perjalanan berikutnya tidak lagi ditemani asap karhutla.
