Kondisi iklim yang kering berkepanjangan disertai penurunan kualitas udara akibat kabut asap menuntut ketahanan mental dan spiritual masyarakat. Menanggapi situasi lingkungan tersebut, Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPW LDII) Provinsi Jambi, Nur Hamid Hadi, mengimbau umat Islam untuk senantiasa melipatgandakan rasa syukur serta menjaga kesabaran di tengah dinamika musim kemarau. Pesan penyejuk tersebut disampaikan dalam tausiyah pembinaan rohani ba’da Salat Jumat di Masjid Tawakkal, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi.
Di hadapan para jamaah yang memadati masjid, Nur Hamid menegaskan bahwa hakikat syukur bukanlah respons yang hanya diutarakan tatkala seseorang menerima kelimpahan anugerah, melainkan fondasi batin yang semestinya tetap kokoh bersemi saat badai kesulitan mendera. Keseimbangan sikap antara syukur dan sabar mencerminkan kematangan spiritual seorang hamba dalam merespons seluruh dinamika takdir kehidupan.
Teladan Sahabat Nabi dalam Merespons Segala Ketetapan Hidup
Nur Hamid menguraikan keteladanan para sahabat Rasulullah SAW terdahulu, khususnya Khalifah Umar bin Khattab, yang dikenal memiliki kedalaman tauhid dalam memandang setiap ketetapan ilahi. Beliau mencontohkan bagaimana pemimpin kedua umat Islam tersebut senantiasa menempatkan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta dalam spectrum kondisi apa pun, baik pada fase lapang maupun sempit.
"Ketika mendapatkan nikmat, Khalifah Umar bin Khattab bersyukur. Ketika mendapatkan musibah pun ia tetap bersyukur. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa rasa syukur tidak hanya hadir saat senang, tetapi juga ketika menghadapi ujian," ujar Nur Hamid Hadi.
Sikap tersebut, lanjutnya, patut dijadikan cermin bagi masyarakat perkotaan saat ini yang tengah menghadapi penurunan debit air tanah, keterbatasan pasokan air bersih di sejumlah titik pemukiman, hingga pekatnya partikel kabut asap yang menyelimuti langit Kota Jambi. Berbagai dampak ekologis tersebut seyogianya ditanggapi melalui sinergi antara ikhtiar nyata di lapangan dan pemeliharaan keteguhan iman.
Refleksi Sejarah Umat Terdahulu dan Pengingat Nikmat yang Tersisa
Dalam pemaparannya yang berlangsung khidmat, Nur Hamid menautkan peristiwa kemarau saat ini dengan rekam jejak sejarah peradaban masa silam. Berbagai literatur keislaman merekam periode kekeringan ekstrem yang pernah menimpa kaum terdahulu, di mana krisis berlangsung selama bertahun-tahun hingga melumpuhkan sendi-sendi perekonomian dan ketahanan pangan secara masif.
"Alhamdulillah, meskipun saat ini kita menghadapi kemarau panjang dan kabut asap, kondisi yang kita alami belum sampai seperti yang dialami sebagian umat pada masa lalu. Karena itu, jangan sampai kita kehilangan rasa syukur kepada Allah SWT," kata Nur Hamid Hadi.
Dengan menginsafi rekam sejarah tersebut, masyarakat diajak untuk senantiasa menghitung dan mengapresiasi sisa-sisa kenikmatan yang masih dinikmati saat ini, mulai dari nikmat kesehatan, ketenteraman sosial, hingga tersedianya sarana ibadah yang aman dan kondusif. Pemikiran positif ini diyakini mampu menghindarkan manusia dari keluh kesah yang berlebihan yang justru mereduksi energi untuk mencari solusi.
Penguatan Solidaritas Sosial di Tengah Ancaman Krisis Air Bersih
Lebih dari sekadar penghayatan personal, Nur Hamid menegaskan bahwa manifestasi rasa syukur harus bermuara pada kepedulian sosial yang konkret. Kekeringan kerap kali menimpa warga dengan tingkat kerentanan ekonomi yang lebih tinggi, terutama kelompok masyarakat yang bergantung penuh pada sumur resapan dangkal atau mata air terbuka.
Oleh karena itu, jamaah diajak memperkuat tali silaturahim dan gotong royong dengan saling berbagi sumber daya air, meminimalkan pemborosan penggunaan air harian, serta membantu tetangga sekitar yang terdampak parah kabut asap. Mengedepankan solidaritas sosial merupakan wujud nyata penerapan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.
"Intinya, banyak-banyaklah bersyukur. Dengan rasa syukur dan kesabaran, insyaallah cobaan yang kita hadapi dapat menjadi pahala dan meningkatkan keimanan," tutur Nur Hamid Hadi memungkasi tausiahnya.
Kegiatan tausiyah rutin di Masjid Tawakkal ini merupakan bagian dari agenda pembinaan berkala DPW LDII Jambi guna memperkuat modal sosial dan ketahanan rohani umat. Melalui pesan moral yang disampaikan secara berkesinambungan, warga diharapkan tetap tangguh, berprasangka baik kepada takdir Tuhan, serta proaktif menjaga kelestarian lingkungan hidup demi kemaslahatan bersama.
📖 Glosarium Istilah
- Tausiyah: Penyampaian pesan keagamaan atau nasihat spiritual yang bertujuan untuk mengingatkan dan mempertebal keimanan serta ketakwaan.
- DPW LDII: Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia, struktur kepengurusan organisasi kemasyarakatan Islam pada tingkat provinsi.
- Ikhtiar: Upaya sungguh-sungguh yang dilakukan seorang hamba secara rasional dan terukur untuk mencapai solusi atau tujuan sebelum berserah diri (tawakal).
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.