Menghadapi ritme kehidupan modern yang kian kompleks dan sarat tekanan, banyak jiwa mengalami kegundahan akibat pertentangan antara ekspektasi pribadi dan kenyataan hidup. Kondisi keterpecahan batin ini mendorong perlunya pemaknaan ulang terhadap konsep keikhlasan yang lebih paripurna. Keikhlasan sejati menuntut kesiapan batin untuk menerima seluruh dimensi realitas semesta tanpa memilih-milih, sebagai wujud penghambaan murni kepada Sang Pencipta.
Pemerhati sosial dan lingkungan asal Serpong, Tangerang Selatan, Faidzunal A. Abdillah, menuturkan bahwa ikhlas dalam wujudnya yang paling utuh bukanlah tanda kepasrahan yang pasif atau sikap menyerah. Sikap ini merupakan keberanian spiritual untuk berdamai dengan kenyataan hidup sebagaimana mestinya. Al-Qur'an menegaskan hakikat penciptaan manusia yang bertumpu pada ketulusan pengabdian tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya."
Keterhubungan Sains Modern dan Kebijaksanaan Nilai Spiritual Purba
Perkembangan ranah keilmuan kontemporer memperlihatkan keterpautan yang kian selaras dengan prinsip-prinsip hikmah klasik. Fisikawan terkemuka David Bohm melalui karyanya, Health and the Implicate Order, menguraikan bahwa istilah kesehatan (health) berakar etimologis pada keutuhan (whole). Menurut pandangan ini, keadaan sehat mencerminkan pribadi yang utuh, tidak terasing dari eksistensi dirinya, lingkungan semesta, maupun dinamika kehidupannya.
Penyakit dan kegelisahan kerap berakar dari keterbelahan internal manusia, terutama jurang pemisah antara kenyataan objektif dan angan-angan subjektif. Gejala perselisihan batin ini telah disinggung dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 19:
وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
"Tidaklah orang-orang yang telah diberi Kitab berselisih kecuali setelah sampai kepada mereka ilmu, karena kedengkian di antara mereka."
Kajian lintas disiplin yang diangkat figur pemikir semacam Fritjof Capra, Daniel Goleman, Susan David, hingga Gregory Bateson mempertegas fenomena serupa. Berbagai penderitaan mental manusia modern berhulu pada krisis keterhubungan: pikiran yang tercerabut dari sinyal tubuh biologis, emosi yang terisolasi dari kesadaran murni, serta rutinitas harian yang kehilangan jangkar makna.
Dari kacamata spiritual, keterasingan ini merupakan potret manusia yang menjauh dari rancang bangun fitrahnya. Allah SWT telah mengingatkan kedudukan fitrah tersebut dalam Surah Ar-Rum ayat 30:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
"Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu."
Eksistensi manusia sejak awal dirancang untuk hidup dalam harmoni yang terpadu, menjembatani dimensi jasad dan ruh, menautkan nalar dengan nurani, menyelaraskan ikhtiar lahiriah dengan tawakal batin, serta memadukan urusan keduniawian dengan tujuan akhirat.
Penerimaan Dualitas Kehidupan sebagai Ketetapan Sunnatullah
Tradisi kebijaksanaan Timur telah lama menyimbolkan keutuhan eksistensial melalui formasi lingkaran Mandala tanpa sudut tajam, maupun representasi Yin-Yang yang merefleksikan perpaduan dinamis antara terang dan gelap, aktif dan pasif, serta lembut dan kokoh. Keduanya saling melengkapi tanpa saling meniadakan. Al-Qur'an mengukuhkan realitas dualitas kosmis ini lewat Surah Adz-Dzariyat ayat 49:
وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ
"Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan."
Syariat Islam menuntun umatnya agar tidak mempertentangkan dualitas kehidupan, melainkan memahaminya sebagai keniscayaan sunnatullah. Perjalanan hidup manusia memuat spektrum rasa yang lengkap: keberhasilan bergandengan dengan kegagalan, kegembiraan berjalan berdampingan dengan duka, dan masa sehat berganti dengan fase sakit. Sikap batin yang proporsional ditekankan dalam Surah Al-Hadid ayat 23:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
"Agar kamu tidak terlalu bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu."
Kematangan spiritual bertumpu pada kesanggupan merangkul dua kutub realitas tersebut tanpa menyulut pertikaian di dalam jiwa. Prinsip kesalingterhubungan (inter-being) dalam pandangan tauhid menegaskan bahwa segala wujud bertaut dalam ketetapan ilahi. Melalui penerimaan ini, kegelisahan pikiran mereda dan berganti menjadi ketenangan yang kokoh.
Jalan Praktis Menuju Hati yang Selamat dan Pemulihan Jiwa
Mewujudkan ikhlas utuh dalam laku keseharian memerlukan peralihan kesadaran, yakni bergerak dari tuntutan subjektif mengenai dunia yang diinginkan menuju penerimaan lapang atas dunia sebagaimana adanya. Tekanan jiwa yang menguras energi kerap timbul akibat energi perlawanan terhadap fakta yang telah tergelar.
"Siapa saja yang terus-menerus memaksakan keinginan, lambat laun akan menjadi orang asing dalam tubuhnya sendiri. Di sinilah jiwa kehilangan rumah. Padahal Allah telah mengajarkan cara kembali: menerima dengan sadar bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan-Nya," tutur Faidzunal A. Abdillah.
Landasan ketenangan tersebut berpijak pada keyakinan terhadap takdir Allah, sebagaimana tertulis dalam Surah Al-Hadid ayat 22 bahwa tiada suatu musibah pun yang menimpa melainkan telah tercatat dalam ketetapan-Nya sejak semula. Perlawanan yang tiada henti terhadap garis takdir justru menjadi ladang subur bagi tumbuhnya keputusasaan dan gangguan kesehatan fisik menahun.
Alam semesta senantiasa memperlihatkan teladan penerimaan yang murni: ikan berenang mengarungi air, burung membubung di langit terbuka, kuncup teratai merekah di atas lumpur, dan kamboja tumbuh tegar di tanah gersang. Seluruh ciptaan bertumbuh menurut kodratnya masing-masing tanpa kehendak untuk menjadi entitas lain. Puncak dari kemurnian berserah diri ini termaktub dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 89:
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat."
Hati yang selamat (qalbun salim) adalah hati yang utuh, yang tidak berperang melawan takdir serta selalu terhubung dengan Tuhannya. Dari fondasi inilah terbit janji kehidupan yang baik (hayatan thayyibah), sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 97:
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
"Pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik."
Sikap berserah yang utuh ini berkelindan erat dengan kearifan lokal yang terangkum dalam ungkapan sakdermo karena Allah. Melalui kesadaran untuk menjalankan peran terbaik sembari menyerahkan seluruh hasil kepada kehendak ilahi, jiwa manusia menemukan jalan pulang menuju kesejatian hidup yang tenang dan terbebas dari jeratan kecemasan duniawi.
📖 Glosarium Istilah
- Ikhlas Utuh: Kesediaan batin untuk menerima keseluruhan realitas ketetapan Allah tanpa penolakan, demi menggapai integrasi dan ketenangan jiwa yang hakiki.
- Fitrah: Cetak biru kesucian dan tatanan dasar keselarasan hidup manusia yang telah dicanangkan oleh Allah SWT sejak awal penciptaan.
- Qalbun Salim: Hati yang bersih dan selamat dari keraguan, kebencian, serta perlawanan batin terhadap ketentuan dan syariat Allah SWT.
- Sakdermo: Falsafah kepasrahan aktif dalam tradisi luhur yang bermakna menjalankan kewajiban hidup semaksimal mungkin dengan sandaran niat tulus karena Allah semata.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.