Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat menyoroti urgensi peran orang tua dalam membentengi karakter anak di tengah masifnya penggunaan teknologi digital. Melalui agenda "Ngaji Parenting" yang digelar di Masjid Khoirul Ihsan, Pontianak, pada Minggu (30/8/2029), LDII menekankan bahwa tantangan pendidikan karakter saat ini semakin kompleks akibat ketergantungan pada perangkat elektronik atau gadget yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Penguatan Peran Orang Tua Sebagai Pilar Utama Karakter Anak
Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto, menegaskan bahwa keberhasilan pembinaan generasi penerus (generus) yang unggul sangat bergantung pada kualitas pendampingan dari lingkungan keluarga. Menurutnya, meski teknologi menawarkan berbagai kemudahan akses informasi, terdapat risiko besar yang mengintai jika tidak dikelola dengan bijak oleh orang tua sebagai figur otoritas di rumah.
"Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan pembinaan dan pendidikan karakter anak. Namun di era teknologi ini, di balik kemudahan juga mendapatkan tantangan cukup berat," ujar Susanto.
Ia menambahkan bahwa inisiatif kegiatan bertema "Batasi Gadget, Bangun Karakter Anak" ini bertujuan memberikan ruang edukasi bagi para orang tua. Fokus utamanya adalah memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengabaikan aspek interaksi keluarga, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial anak.
"Kami memfasilitasi dan sekaligus mengedukasi bahwa gadget bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua memberikan batasan, pendampingan, dan keteladanan dalam penggunaannya. Jangan sampai gadget dijadikan 'orang tua asuh' bagi anak-anak kita. Ini yang harus menjadi perhatian," tegas Susanto.
Ancaman Gangguan Tumbuh Kembang Akibat Ketergantungan Digital
Kekhawatiran LDII Kalbar didukung oleh data statistik mengenai durasi penggunaan internet yang kian mengkhawatirkan. Dalam kesempatan yang sama, Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, Riszky Ramadhan, mengungkapkan bahwa kelompok remaja kini mendominasi populasi pengguna internet di Indonesia dengan durasi pemakaian mencapai 7 hingga 8 jam per hari.
Paparan layar yang berlebihan tanpa kontrol ketat memicu berbagai fenomena psikologis dan perkembangan yang merugikan. Riszky mengidentifikasi setidaknya tiga dampak serius yang kini mulai umum ditemukan pada anak-anak dan remaja akibat penggunaan gadget yang tak terkendali.
"Selain kemudahan, dampak yang ditimbulkannya juga sangat serius. Setidaknya ada tiga fenomena yang sekarang ditemui yakni keterlambatan bicara (speech delay) bagi anak-anak, perundungan dan depresi remaja, serta fenomena tiktok ticks," imbuh Riszky Ramadhan.
Redefinis Pola Asuh Otoritatif dan Detoksifikasi Digital
Menghadapi badai tantangan digital tersebut, Riszky menawarkan solusi melalui pendekatan pola asuh otoritatif. Gaya pengasuhan ini mengedepankan komunikasi demokratis di mana orang tua mampu menyeimbangkan antara aturan yang tegas dan kehangatan emosional.
"Perlu dilakukan pola pengasuhan yang otoritatif yakni melalui pendekatan yang demokratis. Kuncinya keseimbangan dengan orang tua membuat aturan yang tegas, menyampaikan dengan logis, penuh kasih sayang dan membuka diskusi," terangnya.
Selain pola asuh, strategi "detoksifikasi sesuai usia" juga diperkenalkan sebagai langkah preventif. Orang tua didorong untuk memiliki kemampuan validasi emosi anak, terutama saat menghadapi tantrum atau tekanan sosial di dunia maya. Pendekatan ini menitikberatkan pada kehadiran fisik dan emosional orang tua secara utuh, bukan sekadar memberikan perintah atau instruksi satu arah.
Upaya masif yang dilakukan LDII Kalbar ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam mencetak generasi profesional religius. Pembinaan yang dilakukan sejak dini dianggap sebagai investasi strategis agar bangsa Indonesia tetap mampu bertahan dan bersaing di masa depan.
"Pembinaan karakter generus hari ini baru akan dirasakan hasilnya beberapa tahun ke depan. Jadi jika ingin bangsa Indonesia tetap survive, pembinaan karakter mesti dilakukan sejak dini," pungkas Susanto.
📖 Glosarium Istilah
- Generus: Singkatan dari Generasi Penerus, istilah yang digunakan LDII untuk menyebut anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pembinaan karakter.
- Pola Asuh Otoritatif: Gaya pengasuhan yang menggabungkan tuntutan tinggi (disiplin) dengan responsivitas yang tinggi (kasih sayang dan diskusi).
- Tiktok Ticks: Fenomena gangguan gerak atau suara yang menyerupai sindrom Tourette yang dikaitkan dengan konsumsi konten media sosial tertentu secara berlebihan.
- Detoksifikasi Digital: Upaya membatasi atau menghentikan penggunaan perangkat digital untuk sementara waktu guna mengurangi stres dan meningkatkan interaksi sosial nyata.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.