Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Berau secara resmi menggelar kegiatan Camping Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47 tahun 2026. Perhelatan yang menjadi agenda rutin pembinaan pemuda ini diikuti oleh 60 peserta yang merupakan perwakilan dari Pimpinan Cabang (PC) serta Pimpinan Anak Cabang (PAC) di seluruh wilayah Kabupaten Berau. Program penguatan karakter ini dipusatkan di kompleks Masjid Nurul Iman, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dan berlangsung secara intensif selama tiga hari terhitung sejak Rabu, 30 Agustus 2026.
Pembentukan Etika dan Intelektualitas Pemuda LDII Berau
Kegiatan CAI kali ini bukan sekadar ajang berkumpul biasa, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi para pemuda untuk mengasah watak dan integritas diri. Dewan Penasehat DPD LDII Kabupaten Berau, Saroni, menekankan betapa pentingnya bagi setiap peserta untuk mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur dalam interaksi sosial sehari-hari. Menurutnya, pemuda LDII memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.
“Oleh karena itu, selain berakhlak mulia, para generasi muda wajib memperkaya ilmu pengetahuan demi kepentingan bersama sekaligus mendukung kemajuan daerah Berau,” ujar Saroni saat memberikan arahan di hadapan para peserta.
Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa kesalehan spiritual harus berjalan selaras dengan kecerdasan intelektual. Saroni berharap, melalui bekal karakter yang kuat, generasi muda LDII mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah dan menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dengan cara yang elegan dan bermartabat.
Strategi Penanaman 29 Karakter Luhur Melalui Forum Diskusi
Ketua Panitia Pelaksana CAI ke-47 tahun 2026, Khaerul Lakassa, memaparkan bahwa materi utama dalam kurikulum kegiatan tahun ini difokuskan pada penanaman dan penerapan 29 Karakter Luhur. Nilai-nilai tersebut dirancang sebagai landasan fundamental bagi LDII dalam mencetak pemuda yang tidak hanya menonjol dari segi disiplin dan kejujuran, namun juga memiliki tanggung jawab tinggi, kemampuan kolaborasi yang solid, serta kepekaan mendalam terhadap dinamika sosial di masyarakat.
Untuk memastikan materi yang disampaikan tidak berhenti pada tataran teori, panitia mengadopsi pendekatan praktis melalui metode Focus Group Discussion (FGD). Langkah ini diambil agar terjadi pertukaran gagasan yang dinamis antarpeserta, sehingga mereka mampu merumuskan langkah konkret dalam menghadapi berbagai problematika di kehidupan nyata.
“Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berdiskusi untuk memetakan bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata baik di rumah, sekolah, organisasi, maupun di tengah masyarakat,” ungkap Khaerul menjelaskan esensi dari metode diskusi tersebut.
Metode diskusi terpilih ini dinilai sangat efektif untuk membantu peserta mengenali tantangan spesifik yang mereka hadapi dalam keseharian. Dengan memahami konteks masalah, para pemuda diharapkan mampu merancang solusi yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang telah dipelajari, sekaligus mempraktikkannya secara konsisten dalam berbagai lini kehidupan.
📖 Glosarium Istilah
- CAI (Cinta Alam Indonesia): Program pembinaan kepemudaan tahunan LDII yang menitikberatkan pada pembangunan karakter, kemandirian, dan kecintaan terhadap alam serta tanah air.
- 29 Karakter Luhur: Pedoman nilai yang dikembangkan LDII untuk membentuk pribadi yang profesional religius, mencakup aspek akhlak, kemandirian, dan kerja sama.
- PC & PAC: Unit organisasi tingkat kecamatan (Pimpinan Cabang) dan tingkat desa/kelurahan (Pimpinan Anak Cabang) dalam struktur organisasi LDII.
- FGD (Focus Group Discussion): Metode diskusi terarah untuk menggali pemahaman mendalam tentang isu tertentu secara kolektif dan partisipatif.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.