LDII Bengkulu Perkuat Literasi Jurnalistik Kader untuk Tangkal Hoaks di Era Post-Truth

LDII Bengkulu Perkuat Literasi Jurnalistik Kader untuk Tangkal Hoaks di Era Post-Truth
foto: ilustrasi

Sebanyak 110 kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dari berbagai penjuru Provinsi Bengkulu berkumpul untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar guna memperkuat kemampuan dalam memproduksi informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab. Agenda yang diinisiasi oleh LDII News Network ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 4 hingga 6 September 2026, sebagai langkah preventif organisasi dalam menghadapi derasnya arus informasi di era post-truth yang kerap diwarnai oleh persebaran hoaks, fitnah, serta disinformasi di ruang digital.

Urgensi Menjaga Integritas Informasi di Tengah Fenomena Post-Truth

Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi, menegaskan bahwa jurnalis dan pengelola informasi memegang peranan vital dalam membantu masyarakat memilah kebenaran di tengah ledakan konsumsi berita melalui media sosial. Ia mencermati adanya kecenderungan publik yang lebih tertarik pada narasi konflik, kontroversi, dan sensasi. Hal ini menjadi tantangan berat bagi pegiat media untuk tetap konsisten memegang teguh prinsip-prinsip jurnalistik yang luhur.

“Di era post-truth ini berlaku lagi bad news is good news. Orang berbuat baik itu biasa-biasa saja, tetapi ketika ada orang berbuat jelek atau berbuat sensasi, itu justru menjadi berita yang viral,” ujar Rulli Kuswahyudi saat memberikan pengarahan.

Ketimpangan informasi dan sajian berita yang tidak utuh dinilai dapat membentuk persepsi publik yang keliru hingga melahirkan stigma negatif terhadap individu maupun kelompok tertentu. Kerentanan ini semakin nyata ketika potongan-potongan konten di media sosial disebarkan secara masif tanpa menyertakan konteks yang komprehensif.

“Banyak isu yang kita jumpai dan viral di media sosial, padahal kenyataannya tidak seperti yang terlihat dalam video-video yang bertebaran. Karena itu, kita harus mampu memberikan informasi yang benar agar masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak terjebak pada informasi yang keliru,” lanjut Rulli Kuswahyudi.

Transformasi Kader Menjadi Produsen Konten Positif yang Edukatif

Alih-alih sekadar menjadi konsumen informasi, generasi penerus LDII di Bengkulu didorong untuk mengambil peran aktif sebagai produsen konten yang faktual dan dapat dipertanggungjawabkan. Penguasaan teknik verifikasi, pengecekan fakta, serta pemahaman mendalam terhadap Kode Etik Jurnalistik menjadi fondasi utama yang diberikan dalam pelatihan ini agar setiap informasi yang diproduksi memiliki nilai manfaat bagi khalayak luas.

Selama pelatihan, para peserta dibekali dengan berbagai keterampilan teknis, mulai dari prinsip dasar penulisan berita, teknik verifikasi data, hingga tata cara pembuatan video konten yang menarik namun tetap edukatif. Rulli berharap penguasaan keterampilan ini dapat langsung diimplementasikan dalam aktivitas publikasi organisasi, baik melalui kanal media internal maupun media sosial, sehingga kontribusi positif LDII dapat tersampaikan secara elegan.

“Ilmu jurnalistik yang diberikan tentunya berdasarkan kode etik jurnalistik dalam memberitakan semua berita. Mudah-mudahan ilmu ini bermanfaat dan dapat diterapkan oleh generasi penerus LDII di Bengkulu,” tutur Rulli Kuswahyudi dengan penuh harapan.

Sinergi Strategis Bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam Pembangunan

Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas internal kader, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan insan pers serta pemerintah daerah. Dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Bengkulu menunjukkan adanya sinergi yang kuat dalam upaya penyebarluasan informasi terkait pembangunan daerah dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Tadi sekaligus kita melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistika Pemprov Bengkulu tentang bagaimana memperkuat sinergi dalam hal pemberitaan dan informasi,” kata Meri Sasdi.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menghadirkan narasi-narasi yang menyejukkan dan memotivasi masyarakat di tengah dinamika sosial yang tinggi. Kader-kader LDII diharapkan mampu menyajikan informasi yang tidak hanya terbatas pada kegiatan dakwah, tetapi juga menyangkut program kemanusiaan dan pembangunan yang membawa maslahat bagi seluruh lapisan warga di Bumi Rafflesia.

“Bukan hanya dalam hal dakwah, tetapi bagaimana memberitakan program-program pemerintah dan program umat manusia di Provinsi Bengkulu ini dalam rangka menghadirkan keberkahan dan kehidupan yang tenang,” pungkas Meri Sasdi.

📖 Glosarium Istilah

  • Post-Truth: Keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.
  • Kode Etik Jurnalistik: Himpunan etika profesi kewartawanan yang menjadi landasan moral dan operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas.
  • LINES (LDII News Network): Jaringan pemberitaan internal LDII yang berfungsi mengelola dan menyebarkan informasi terkait kegiatan dan kontribusi organisasi.
  • Disinformasi: Informasi yang sengaja dibuat salah atau menyesatkan untuk memanipulasi persepsi publik.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.