Kiai Water, Inovasi Masjid sebagai Solusi Mandiri Ketahanan Air di Yogyakarta

Kiai Water, Inovasi Masjid sebagai Solusi Mandiri Ketahanan Air di Yogyakarta
foto: ilustrasi / istimewa

Persoalan kelangkaan air bersih di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mencapai titik yang memerlukan perhatian serius. Hingga 27 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat telah mendistribusikan lebih dari 5,047 juta liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak kekeringan. Gunungkidul menjadi wilayah dengan sebaran kekeringan terluas, menerima pasokan sebesar 2,864 juta liter yang mencakup 11 kapanewon, termasuk Saptosari.

Transformasi Paradigma dari Bantuan Menuju Ketahanan Air

Pemerintah DIY telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan yang berlaku sejak 20 Juli hingga 30 September 2026. Meski pengiriman bantuan air melalui mobil tangki merupakan langkah kemanusiaan mendesak, hal tersebut tidak dapat menjadi solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Ketergantungan terhadap pasokan luar menunjukkan adanya celah dalam manajemen sumber daya air di tingkat tapak.

Dusun Sawah di Kalurahan Krambil Sawit menjadi potret nyata dari tantangan ini. Permukiman di perbukitan seringkali belum terjangkau layanan air perpipaan secara optimal. Ketika musim kemarau tiba, warga terpaksa membeli air atau mengandalkan sisa air hujan, sementara waduk-waduk di sekitar telah mengering sejak awal musim kemarau.

Peran Strategis Tokoh Agama dalam Gerakan Lingkungan

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah inisiatif yang dikenal dengan istilah "Kiai Water". Konsep ini menempatkan tokoh agama dan masjid sebagai katalisator perubahan dalam pengelolaan air berbasis komunitas. Kiai Water mencerminkan dakwah yang membumi, di mana rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai pusat ritual, melainkan pusat edukasi dan infrastruktur lingkungan.

"Seperti Kiai Peduli Sampah, Kiai Water menggambarkan kiai atau tokoh agama setempat yang tidak hanya mahir berdakwah dari mimbar, tetapi juga membumikan dakwah untuk menjawab persoalan umat," ujar Atus Syahbudin, Pengamat Lingkungan Hidup Kwarda DIY dan Ketua LDII DIY.

Infrastruktur Masjid sebagai Bank Air Masyarakat

Strategi utama dari gerakan ini adalah menjadikan masjid sebagai "bank air". Atap bangunan masjid dimanfaatkan sebagai bidang tangkapan air hujan (rainwater harvesting), yang kemudian disalurkan ke bak penampungan bertingkat. Implementasi ini telah terlihat di Masjid Al-Fattah, Saptosari, yang mampu menampung sekitar 30.000 liter air.

Upaya ini sejalan dengan dorongan BPBD DIY untuk mengoptimalkan teknologi pengolahan air dan konservasi. Keberhasilan serupa juga terlihat pada Program Kampung Iklim Utama Sangurejo di Sleman, yang sukses menerapkan berbagai teknik konservasi seperti pembangunan biopori, rorak, hingga instalasi pemanenan air hujan secara masif.

Mitigasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Ketahanan air bukanlah beban tunggal pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif yang melibatkan fasilitas komunal seperti sekolah, pesantren, dan kampus. Menabung air melalui infrastruktur konservasi adalah bentuk mitigasi konkret agar masyarakat tidak lagi sekadar menunggu bantuan di setiap musim kemarau. Air hujan yang terbuang sia-sia saat ini adalah potensi kerugian ekonomi yang akan dirasakan di masa mendatang.

📖 Glosarium Istilah

  • Kiai Water: Konsep dakwah lingkungan yang mendorong masjid sebagai pusat pemanenan dan pengelolaan air hujan.
  • Kapanewon: Istilah administratif setingkat kecamatan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Hidrometeorologi: Fenomena bencana alam yang terjadi di atmosfer, air, atau lautan yang berdampak pada siklus ketersediaan air.
  • Biopori: Lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air untuk mencegah genangan.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.