Jalur Kehidupan: Mengapa Mengkritik dan Bergosip Lebih Ramai daripada Membantu?

Jalur Kehidupan: Mengapa Mengkritik dan Bergosip Lebih Ramai daripada Membantu?

Jalur Kehidupan: Mengkritik Ramai, Membantu Justru Sepi

Renungan Islami tentang lisan, akhlak, dan kepedulian kepada sesama

Ada sebuah gambar sederhana yang ternyata menyimpan makna yang dalam. Di dalamnya terlihat beberapa jalur kehidupan dengan jumlah orang yang berbeda-beda. Menariknya, semakin menuju kepada perbuatan nyata yang bermanfaat, semakin sedikit pula orang yang terlihat di dalam antrean.

Jalur pertama dipenuhi orang yang mengkritik. Jalur berikutnya masih cukup ramai karena diisi mereka yang bergosip. Setelah itu ada jalur ikut campur yang mulai sepi. Sementara jalur mendukung hanya diisi sedikit orang, dan jalur membantu bahkan digambarkan hanya dilalui seorang diri.

Gambaran ini seperti mengajak kita bertanya:

"Selama ini, saya sebenarnya sedang antre di jalur yang mana?"

Lima Jalur yang Sering Kita Pilih

1. Mengkritik — antreannya paling panjang.
Memberikan komentar memang mudah. Melihat kekurangan orang lain juga sering kali terasa lebih mudah daripada memperbaiki kekurangan diri sendiri.
2. Bergosip — masih ramai.
Membicarakan orang lain dapat berlangsung begitu saja dalam percakapan. Padahal Islam memberikan perhatian serius terhadap penjagaan lisan.
3. Ikut campur — mulai berkurang.
Tidak semua persoalan orang lain harus kita masuki. Ada kalanya bentuk kepedulian terbaik justru dengan menghormati batas dan menjaga perasaan.
4. Mendukung — hanya sedikit.
Memberikan semangat, mendoakan kebaikan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan dukungan membutuhkan ketulusan.
5. Membantu — bahkan bisa terasa sendirian.
Membantu tidak selalu mendapatkan perhatian. Kadang tidak ada yang mengetahui. Namun justru di situlah keikhlasan dapat diuji.

Al-Qur'an Mengingatkan Bahaya Membicarakan Aib Orang Lain

Islam tidak sekadar mengajarkan banyak berbicara tentang kebaikan. Islam juga mengajarkan bagaimana menjaga ucapan dan memperlakukan orang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."
QS. Al-Hujurat: 12

Ayat tersebut menyentuh beberapa hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: prasangka, mencari-cari kesalahan, dan ghibah. Artinya, seorang Muslim tidak cukup hanya menjaga ibadah yang terlihat, tetapi juga perlu menjaga hubungan sosial dan lisannya.

Bukan Sekadar Bicara Agama, Tetapi Mengubah Akhlak

Ada sebuah renungan yang sangat kuat:

"Dekat dengan Allah bukan sekadar seberapa sering kita berbicara tentang agama, tetapi seberapa dalam agama mengubah akhlak kita."

Kalimat tersebut bukan berarti berbicara tentang agama adalah sesuatu yang tidak penting. Justru ilmu dan nasihat agama memiliki tempat yang sangat penting. Namun ilmu seharusnya membawa perubahan pada perilaku.

Jika ilmu membuat seseorang semakin mudah merendahkan orang lain, semakin gemar mencari kesalahan, atau semakin ringan lisannya membicarakan aib orang lain, maka sudah selayaknya seseorang kembali melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah SAW Mengajarkan Akhlak Mulia

Al-Qur'an menggambarkan akhlak Rasulullah SAW dengan kedudukan yang sangat tinggi. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung."
QS. Al-Qalam: 4

Akhlak bukan hanya sesuatu yang dibicarakan. Akhlak terlihat ketika kita berhadapan dengan orang lain: bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menanggapi kekurangan seseorang, bagaimana kita memperlakukan orang yang sedang kesulitan, dan apakah kita memilih membantu ketika sebenarnya kita mampu.

Allah Memerintahkan Saling Menolong dalam Kebaikan

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
QS. Al-Ma'idah: 2

Inilah yang membuat jalur "membantu" menjadi begitu bermakna. Membantu bukan berarti harus melakukan sesuatu yang besar. Bisa jadi hanya memberikan pertolongan sederhana, memberikan semangat, meringankan pekerjaan orang lain, atau hadir ketika seseorang sedang membutuhkan.

Memilih Jalur yang Tidak Banyak Dilalui

Gambar "Jalur Kehidupan" tersebut pada akhirnya bukan tentang menghitung berapa banyak orang yang berada di setiap antrean. Lebih penting dari itu, gambar tersebut dapat menjadi cermin bagi diri sendiri.

Ketika orang lain sibuk mengomentari, apakah kita ikut menambah komentar? Ketika orang lain mulai membicarakan kekurangan seseorang, apakah kita ikut menyambung pembicaraan? Atau justru kita memilih berhenti, menjaga lisan, kemudian mencari cara untuk memberikan manfaat?

Sebab tidak semua yang ramai adalah jalan yang perlu kita ikuti. Dan tidak semua jalan yang sepi berarti tidak berharga.

Jangan sibuk mencari tempat di antrean yang ramai untuk mengkritik. Pilihlah jalur yang membawa manfaat: mendukung, menolong, dan berbuat baik.

Pada akhirnya, ukuran perubahan seseorang bukan hanya seberapa banyak nasihat yang ia dengar, tetapi bagaimana nasihat itu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita dimudahkan untuk menjaga lisan, meninggalkan ghibah, tidak gemar mencari kesalahan orang lain, serta menjadi orang yang kehadirannya membawa manfaat bagi sesama.

Karena agama yang dipahami dengan baik semestinya tidak berhenti di ucapan, tetapi tumbuh menjadi akhlak dan perbuatan.

Akhlak Islam
Menjaga Lisan
Ghibah
Nasihat Islami
Al-Qur'an
Kebaikan
Tolong Menolong